Adab Membaca Al-Qur’an: Kunci Mengubah Wirid Rutin Menjadi Jalan Kedekatan Ilahi

Ustadz. H. Achmad Sulton Rofii
Ustadz. H. Achmad Sulton Rofii

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Malang – Setiap amal ibadah, termasuk membaca Al-Qur’an, hanya akan bernilai di sisi Allah jika disertai dengan adab atau etika yang benar. Pentingnya adab ini menjadi fokus utama dalam Pengajian Rutin Ba’da Maghrib Hari Selasa 21 Oktober 2025 di Masjid Agung Jami Malang, yang dibawakan oleh Ustadz. H. Achmad Sulton Rofii. Dalam kajian yang membahas Kitab Risalatul Muawanah ini, Ustadz Sulton Rofii memberikan nasihat Islam mengenai serangkaian adab yang harus diamalkan agar wirid Al-Qur’an tidak sekadar rutinitas lisan, melainkan menjadi penawar hati dan pembersih jiwa.

Adab yang pertama dan terpenting adalah membaca Al-Qur’an dengan tadabbur dan tafahum. Beliau menegaskan bahwa membaca harus diiringi dengan usaha untuk mengangan-angan dan memahami maknanya, sebab inilah tujuan utama diturunkannya Kitabullah. Al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk direnungi isinya, sebagai mana firman Allah dalam Surah Sad ayat 29.

Ustadz Sulton Rofii menekankan bahwa sedikit bacaan yang disertai dengan tadabbur jauh lebih utama dan berbobot di sisi Allah daripada membaca banyak tanpa pemahaman. Dijelaskan bahwa sebagian ulama salaf bahkan lebih menyukai membaca dua surah pendek seperti Az-Zilzal dan Al-Qari’ah sambil merenungkan maknanya, daripada mengkhatamkan seluruh Al-Qur’an tanpa perenungan. Kualitas tafahum inilah yang menjadi kunci untuk mendapatkan hidayah dan mengobati berbagai penyakit hati.

Adab berikutnya yang dianjurkan adalah membaca dengan tartil. Tartil merupakan tingkatan bacaan yang paling afdal, yaitu membaca dengan santai dan tidak tergesa-gesa, sehingga memungkinkan hati untuk ikut mengangan-angan maknanya. Tartil menjadi sarana dan pertolongan bagi seorang Muslim untuk dapat mengamalkan tadabbur dalam bacaannya.

Menurut Ustadz Sulton Rofii, bacaan Al-Qur’an memiliki tiga tingkatan: att-tartil (paling lambat dan santai), att-tadwir (sedang), dan al-hadr (paling cepat). Ketiganya boleh diamalkan asalkan memenuhi kaidah tajwid, namun tartil adalah yang paling diutamakan karena merupakan perintah langsung Allah kepada Nabi Muhammad SAW dalam Surah Al-Muzzammil ayat 4.

Terlepas dari tempo bacaan, Ustadz Sulton Rofii mengingatkan bahwa mematuhi ilmu tajwid dalam praktik adalah fardhu ain atau kewajiban bagi setiap individu Muslim yang membaca Al-Qur’an. Beliau menekankan bahwa kesesuaian makhraj dan hukum tajwid—seperti dengung (ghunnah) dan panjang pendek (mad)—harus dipastikan benar. Membaca Al-Qur’an dengan cepat namun mengabaikan tajwid dapat menghilangkan pahala, bahkan bisa mendatangkan dosa karena kesalahan yang mengubah makna.

Adab yang ketiga adalah menghadirkan keagungan (adhomah) Dzat yang berfirman, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Al-Qur’an adalah firman Allah yang paling agung, bukan sekadar ucapan manusia biasa. Oleh karena itu, pembaca harus merasa sopan, berwudu jika memegang mushaf, dan menjauhi gurauan saat membaca.

Rasa penghormatan ini juga berlaku bagi pendengar. Ustadz Sulton Rofii mengutip firman Allah, “Apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat” (QS Al-A’raf: 204). Beliau menyesalkan semakin berkurangnya adab mendengarkan Al-Qur’an di akhir zaman, di mana banyak orang mengobrol saat ayat suci dibacakan, menunjukkan kurangnya pengagungan terhadap Allah.

Adab selanjutnya adalah merasa seolah-olah sedang munajat dan berada di hadapan Allah ketika membaca Al-Qur’an. Pembaca harus menyadari bahwa ia sedang membaca kitab yang berisi perintah, larangan, serta wasiat dari Tuhannya secara langsung. Ini akan menimbulkan kesadaran untuk melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan yang dibaca.

Dalam analogi para ulama, Al-Qur’an adalah surat kiriman dari Allah kepada hamba-Nya. Jika seseorang dikirimi surat oleh temannya saja ia akan membacanya hingga tuntas dan mengamalkan isinya, maka mengabaikan surat dari Allah tentu merupakan sikap yang sangat tidak menghargai. Oleh karena itu, setiap Muslim wajib memahami bahwa Al-Qur’an adalah hidangan yang disuguhkan Allah dan harus diambil manfaatnya semampu diri.

Terakhir, ada adab khusus ketika membaca ayat-ayat tauhid dan tamjid (pengagungan Allah). Ketika membaca ayat-ayat yang berisi keesaan dan keagungan Allah, seperti Surah Al-Ikhlas atau Ayat Kursi, hati harus dipenuhi rasa ijlal dan ta’dhim. Dicontohkan bahwa Surah Al-Ikhlas yang berisi tauhid memiliki nilai seperti sepertiga Al-Qur’an, sementara Ayat Kursi mengingatkan kita pada keagungan Allah yang Maha Hidup (Al-Hayyul Qayyum) dan selalu mengurus seluruh makhluk-Nya tanpa pernah mengantuk atau tidur.

Dengan mengamalkan adab-adab ini, wirid membaca Al-Qur’an yang kita lakukan secara rutin akan meningkat bobotnya, menjadikan kita semakin dekat dan semakin dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nasihat ini menutup kajian, mengingatkan bahwa adab adalah penentu diterimanya suatu ibadah, dan berharap agar setiap Muslim menjadi orang yang semakin mengagungkan Al-Qur’an dan mendapatkan rahmat-Nya di dunia maupun di akhirat.

Sumber: Pengajian Rutin Ba’da Maghrib Hari Selasa bersama Ustadz. H. Achmad Sulton Rofii di Channel Youtube Masjid Jami’ Malang

E-Buletin