Kabarmasjid.id, Surabaya – Dunia pendidikan anak dalam Islam merupakan perjalanan panjang yang penuh tanggung jawab, terutama saat mereka mulai memasuki usia balig. Menanamkan nilai-nilai agama di tengah gempuran tren modernitas memerlukan metode yang tepat agar anak tidak hanya sekadar patuh karena paksaan, melainkan karena kesadaran iman. Hal inilah yang menjadi inti dalam kajian kitab Tarbiyatul Aulad Fil Islam yang sangat mencerahkan sebagai panduan bagi para orang tua.
Kajian yang bertajuk “Pendidikan Anak Dalam Islam” ini diselenggarakan di Masjid Al-Irsyad Surabaya pada tanggal 1 Mei 2026. Ustadz Muhammad Sholeh Drehem, Lc., membedah secara mendalam bagaimana orang tua seharusnya bersikap dan mendidik anak yang sudah dewasa atau memasuki masa pubertas. Beliau menekankan bahwa metode pendidikan harus diadaptasi sesuai dengan perkembangan usia anak agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh logika dan hati mereka.
Dalam paparannya, Ustadz Sholeh menjelaskan bahwa orang tua memikul tujuh tanggung jawab utama yang meliputi pendidikan iman, akhlak, akal, fisik, kejiwaan, sosial, hingga seksualitas. Ketujuh pilar ini harus dibangun secara konsisten sejak dini sebagai bekal masa depan. Namun, ketika anak sudah dewasa, tantangannya bergeser pada bagaimana menjaga konsistensi nilai-nilai tersebut agar tetap melekat kuat dalam kepribadian mereka secara mandiri tanpa pengawasan melekat.
Metode yang paling efektif dalam pendidikan Islam, menurut beliau, adalah melalui pemberian keteladanan (at-tarbiyah bil qudwah) dan pembiasaan (at-tarbiyah bil ‘adah). Orang tua tidak bisa hanya sekadar memerintah, tetapi harus menjadi “cermin” hidup bagi anak-anaknya di rumah. Jika orang tua terbiasa bangun malam untuk salat tahajud atau rutin membaca Al-Qur’an, maka anak-anak akan merekam dan menjadikannya sebagai standar perilaku alami dalam hidup mereka sehari-hari.
Fokus utama kajian malam itu adalah sub-topik “Mengikat Anak dengan Aqidah” (arrabtu bil aqidah). Ini merupakan fondasi yang sangat mendasar agar anak memiliki perasaan selalu diawasi oleh Allah (muraqabatullah). Dengan aqidah yang kuat, seorang anak akan memiliki pengagungan kepada Sang Pencipta dan rasa takut yang mendalam untuk berbuat maksiat, baik di saat terlihat orang lain maupun saat sedang sendirian di lingkungan yang jauh dari jangkauan orang tua.
Ustadz Sholeh menekankan bahwa mengikat anak dengan aqidah berarti menghubungkan setiap aspek kehidupan mereka dengan maunya Allah. Baik itu urusan rezeki, kesehatan, hingga takdir pahit sekalipun, semuanya harus dikaitkan dengan ketentuan-Nya secara mutlak. Orang tua harus membiasakan bahasa-bahasa tauhid dalam percakapan sehari-hari agar anak memahami bahwa Allah adalah segala-galanya dan merupakan sumber dari segala solusi atas masalah hidup yang mereka hadapi.
Pendidikan aqidah bagi anak dewasa juga berarti menanamkan orientasi akhirat dalam setiap aktivitas duniawi yang mereka lakukan. Ustadz Sholeh mencontohkan, ketika seorang anak menempuh pendidikan tinggi dari jenjang S1 hingga Doktor, mereka harus sadar bahwa tujuan utamanya adalah untuk memberikan kontribusi bagi agama. Ilmu yang tinggi seharusnya membuat seseorang semakin takut kepada Allah, bukan justru membuat mereka sombong atau menjauh dari nilai-nilai ketuhanan yang murni.
Begitu pula dalam hal materi dan pekerjaan yang akan dijalani anak kelak. Orang tua perlu mempertontonkan kerja keras yang jujur sambil terus mengingatkan bahwa harta hanyalah titipan yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Pembiasaan untuk selalu bersyukur dan merasa cukup dengan apa yang diberikan akan menjaga anak dari sifat tamak dan pengejaran dunia yang tanpa henti, yang seringkali melalaikan kewajiban beribadah kepada Sang Khalik.
Selain akidah, poin penting lainnya dalam mendidik anak dewasa adalah menjaga mereka dari berbagai macam keburukan (taqdiratus syar). Di zaman yang penuh dengan distraksi negatif dan arus informasi yang tidak terbatas, orang tua harus berperan aktif dalam memantau pergaulan anak tanpa harus bersikap otoriter. Pendekatan persuasif dan komunikasi yang terbuka menjadi kunci utama agar anak merasa nyaman untuk berbagi cerita dan menerima arahan.
Keseimbangan atau tawazun juga menjadi sorotan penting dalam kajian inspiratif ini. Seorang muslim yang baik adalah mereka yang bisa memenuhi hak Allah, hak diri sendiri, dan hak keluarganya secara proporsional sesuai tuntunan Rasulullah. Ustaz Sholeh mengingatkan agar anak tidak terjebak pada ekstremisme—baik yang terlalu mengejar dunia hingga melupakan akhirat, maupun sebaliknya—sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara mental dan spiritual.
Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS diangkat sebagai teladan puncak dalam kepatuhan beraqidah antara ayah dan anak. Dialog antara keduanya dalam momen perintah kurban menunjukkan betapa kuatnya ikatan tauhid yang telah ditanamkan sejak kecil. Ketika aqidah sudah masuk ke dalam sanubari, maka perintah seberat apa pun akan diterima dengan kerelaan hati karena kepercayaan penuh pada kebaikan takdir Allah yang tidak pernah mengecewakan hamba-Nya.

Sebagai penutup, kajian ini memberikan refleksi mendalam bagi setiap orang tua untuk terus berbenah diri terlebih dahulu. Pendidikan anak dewasa sejatinya adalah ujian bagi aqidah orang tua itu sendiri dalam memberikan contoh yang nyata. Dengan membangun habituasi yang positif dan selalu mengikatkan segala urusan kepada Allah, diharapkan anak-anak akan tumbuh menjadi qurrata a’yun (penyejuk hati) yang tidak hanya sukses di dunia, tetapi juga selamat di akhirat kelak.
Sumber: Kitab Tarbiyatul Aulad Fil Islam bertajuk “Pendidikan Anak Dalam Islam” yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Sholeh Drehem, Lc. di Masjid Al-Irsyad Surabaya pada tanggal 1 Mei 2026