4 Alasan Utama Mengapa Kita Terhalang dari Manfaat Al-Qur’an

Ustadz ABDUL ROJAK LUBIS M.Sos
Ustadz ABDUL ROJAK LUBIS M.Sos

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk yang lurus (hiya aqwam), kunci keselamatan, dan sumber solusi bagi setiap masalah kehidupan. Namun, mengapa banyak di antara kita—umat Muslim—masih merasa kesulitan meraih ketenangan dan keberkahan sejati dari Kitabullah? Permasalahan mendasar ini diulas tuntas dalam Kajian Maghrib yang disampaikan oleh Ustadz Abdul Rojak Lubis M.Sos pada Kamis 23 Oktober 2025di Masjid Al Falah Surabaya. Beliau memaparkan empat penghalang utama yang membuat kita terhalang dari pengaruh dan manfaat Al-Qur’an.

Ustadz Abdul Rojak Lubis memulai dengan refleksi: meskipun telah berikhtiar dengan rutin membaca, mempelajari, bahkan menghafal Al-Qur’an, seringkali kita merasa belum mendapatkan manfaat signifikan bagi diri sendiri, keluarga, atau lingkungan. Ini mengisyaratkan bahwa ada kesalahan mendasar dalam cara kita berinteraksi, yang perlu segera kita koreksi.

Berikut adalah empat poin penting yang wajib kita waspadai dan perbaiki, agar Al-Qur’an dapat kembali menjadi sumber kekuatan, penyejuk hati, dan pedoman utama dalam kehidupan sehari-hari.

1. Membaca Tanpa Tadabur dan Tafakur

Penghalang pertama adalah sikap yang hanya sebatas membaca (tilawah) tanpa disertai tadabur (perenungan) dan tafakur (pemikiran mendalam). Allah berfirman, “Afala yatadabbarunal Quran — Apakah mereka tidak mentadaburi Al-Qur’an?” (Q.S. Muhammad: 24). Jika tilawah tidak dibarengi perenungan, maka hati kita akan terkunci (aqfaluha).

Meskipun membaca setiap hurufnya mendatangkan pahala yang berlipat ganda, manfaat transformatif Al-Qur’an tidak akan tercapai tanpa upaya memahami makna. Sebagaimana nasihat Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, tidak ada yang paling bermanfaat bagi hati selain membaca Al-Qur’an dengan tadabur dan tafakur. Ini adalah syarat agar kalam Ilahi dapat menembus lisan menuju lubuk hati.

2. Hati yang Keras, Tertutup, dan Lalai

Penghalang kedua berkaitan dengan kondisi spiritual, yaitu hati yang keras dan lalai, seringkali disebabkan oleh dosa, maksiat, dan sikap sombong. Hati yang ternodai sulit menerima atau tersentuh oleh ayat-ayat suci. Ustadz menyebutkan bahwa kesombongan adalah salah satu tanda kerasnya hati.

Kekerasan hati ini menghalangi konsistensi dalam mempelajari Al-Qur’an dan menipiskan keimanan. Apabila iman melemah, seseorang tidak akan lagi merasakan kenikmatan (kelezatan) saat berinteraksi dengan Al-Qur’an. Jalan keluarnya adalah taubat, memohon ampunan, dan membersihkan hati, sehingga Allah melunakkan dan membukanya untuk menerima petunjuk-Nya.

3. Enggan Mengamalkan Isi dan Pesan Al-Qur’an

Penghalang ketiga muncul setelah proses membaca dan memahami, yaitu ketika kita tidak mengamalkan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Rasulullah ﷺ bersabda, “Al-Qur’anu hujjatul laka alaika.” Al-Qur’an dapat menjadi penolong (hujah yang baik) atau pemberat dosa (hujah yang memberatkan) di akhirat kelak.

Ia akan menjadi penolong jika kita menjadikannya sahabat, teman, dan pedoman hidup. Namun, jika kita mengabaikan atau lalai terhadap perintahnya, Al-Qur’an justru akan menjadi saksi yang memberatkan timbangan dosa kita. Kita perlu muhasabah sejauh mana kita telah menjadikan Al-Qur’an sebagai tuntunan harian.

4. Niat yang Tidak Ikhlas karena Allah

Terakhir, manfaat Al-Qur’an terhalang oleh niat yang tidak tulus dan tidak ikhlas semata-mata karena Allah. Setiap amal perbuatan dinilai berdasarkan niatnya (Innamal a’malu bin niyat). Jika kita membaca, menghafal, atau mempelajarinya hanya untuk pujian, pengakuan, atau tujuan duniawi lainnya, maka niat itu tergolong rendah.

Niat yang tidak ikhlas akan menghalangi datangnya kemudahan dan keberkahan dari Allah. Kita harus mengubah dan menata niat, menjadikan interaksi dengan Al-Qur’an sebagai upaya murni untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Keikhlasan adalah pondasi agar amal kita—seperti beribadah dan mempelajari Al-Qur’an—diberikan balasan setimpal, bukan hanya sekadar mendapatkan yang diniatkan di dunia saja.

Memperbaiki empat poin krusial ini—mulai dari cara kita membaca, kondisi hati, komitmen mengamalkan, hingga kebersihan niat—adalah langkah nyata untuk mengembalikan Al-Qur’an pada posisi utamanya. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita hati yang lembut dan taufiq untuk meraih manfaat agung dari Kitab Suci-Nya.

Sumber: Kajian Maghrib – Ustadz ABDUL ROJAK LUBIS M.Sos di Channel Youtube Masjid Al Falah

E-Buletin