Kabarmasjid.id, Surakarta – Dunia sering kali menawarkan pilihan sulit antara mengikuti arus massa atau berdiri tegak di atas prinsip keyakinan. Dalam sejarah Islam, keteguhan hati para pemuda yang dikenal sebagai Ashabul Kahfi menjadi monumen abadi tentang bagaimana iman seharusnya dipertahankan. Kisah ini bukan sekadar narasi masa lalu, melainkan cermin bagi setiap jiwa yang sedang berjuang mencari kebenaran di tengah kegelapan zaman.
Kajian tafsir yang mendalam ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 2 Mei 2026, bertempat di Masjid Riyadh, Solo. Dalam agenda Majelis Salaf Rouhah Siang tersebut, Habib Ali bin Hasan Alhabsyi membedah kitab Sofwatuttafasir dengan memfokuskan bahasan pada Surah Al-Kahf. Beliau memaparkan bagaimana ayat-ayat tersebut menyimpan rahasia tentang penjagaan Allah yang luar biasa bagi hamba-hamba-Nya yang berserah diri secara total.
Habib Ali membuka kajian dengan menyoroti karakter utama Ashabul Kahfi sebagai sosok pemuda yang visioner dan berani. Mereka hidup di bawah bayang-bayang rezim penguasa yang zalim, yang memaksa rakyatnya untuk menyembah selain Allah dengan ancaman nyawa. Namun, alih-alih menyerah pada keadaan, para pemuda ini justru menguatkan hati satu sama lain dan memproklamirkan ketauhidan mereka di hadapan sang raja tanpa rasa gentar sedikit pun.
Keputusan mereka untuk melarikan diri ke gua bukanlah bentuk keputusasaan, melainkan strategi untuk menyelamatkan akidah. Habib Ali menjelaskan bahwa ketika ruang untuk beribadah secara terang-terangan telah tertutup, maka hijrah menjadi jalan keluar yang mulia. Mereka lebih memilih meninggalkan kemewahan kota dan segala fasilitas duniawi demi menjaga kemurnian tauhid agar tidak terkontaminasi oleh syirik yang merajalela di lingkungan mereka.
Gua yang secara lahiriah tampak sempit, gelap, dan menakutkan, justru bertransformasi menjadi tempat turunnya rahmat Allah. Dalam kajian tersebut, ditekankan bahwa pertolongan Allah sering kali datang melalui cara-cara yang tidak terduga dan di tempat yang dianggap mustahil. Di dalam kegelapan gua itulah, para pemuda ini justru menemukan cahaya ketenangan yang tidak bisa mereka dapatkan di tengah hiruk pikuk kehidupan kota yang penuh tekanan.
Fenomena tidur panjang selama 309 tahun menjadi salah satu inti bahasan yang menakjubkan. Habib Ali memaparkan bahwa selama ratusan tahun tersebut, Allah menghentikan hukum alam yang biasa berlaku pada tubuh manusia. Tanpa makan dan minum, fisik mereka tetap terjaga utuh. Ini membuktikan bahwa Allah adalah Sang Pengatur Rezeki yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, serta mampu menghidupi makhluk-Nya dalam kondisi apa pun.
Penjagaan fisik yang detail juga dijelaskan melalui pengaturan sinar matahari oleh Allah SWT. Sinar matahari diatur agar cenderung ke arah kanan saat terbit dan menjauh ke arah kiri saat terbenam, sehingga tidak menyengat tubuh mereka secara langsung. Hal ini merupakan bentuk pemuliaan atau karamah agar panas matahari tidak merusak kulit dan jasad para pemuda saleh tersebut selama masa tidur panjang mereka yang luar biasa.
Lebih jauh, Habib Ali menjelaskan hikmah di balik gerakan tubuh mereka yang dibolak-balikkan oleh Allah ke kanan dan ke kiri. Secara medis dan spiritual, hal ini bertujuan agar jasad mereka tidak hancur dimakan oleh tanah. Allah menunjukkan kekuasaan-Nya dengan menggerakkan tubuh yang sedang tidur lelap tersebut, sehingga bumi seolah-olah dipaksa untuk menghormati dan tidak menyentuh jasad hamba-hamba kesayangan-Nya.
Keunikan lain yang dibahas adalah kondisi mata mereka yang tetap terbuka meskipun sedang tertidur lelap. Hal ini menciptakan kesan kewibawaan yang sangat besar; siapapun yang melihat mereka akan merasa ketakutan dan enggan untuk mendekat. Allah menyelimuti mereka dengan rasa haibah (kewibawaan) sebagai pagar pelindung agar ketenangan mereka di dalam gua tidak terganggu oleh tangan-tangan manusia yang penasaran atau berniat jahat.
Menariknya, kajian ini juga menyentuh peran seekor anjing yang setia mengikuti perjalanan para pemuda tersebut. Anjing ini ikut mendapatkan kemuliaan dan karamah karena memilih untuk berkumpul dengan orang-orang saleh. Habib Ali memberikan pelajaran berharga bahwa siapa pun—bahkan makhluk yang dianggap hina sekalipun—jika senantiasa menyertai dan mencintai para wali Allah, maka ia akan ikut mendapatkan percikan keberkahan dan rahmat-Nya.

Melalui kisah ini, Habib Ali bin Hasan Alhabsyi mengingatkan jamaah akan mahalnya nilai sebuah hidayah. Hidayah adalah otoritas mutlak yang tidak bisa dipengaruhi oleh kekuatan militer atau harta benda. Orang yang telah mendapatkan cahaya hidayah dari Allah akan tetap kokoh meski seluruh dunia menentangnya, sementara mereka yang disesatkan tidak akan pernah menemukan jalan pulang meskipun keajaiban ada di depan mata.
Sumber: Kajian Majelis Salaf Rouhah Siang oleh Habib Ali bin Hasan Alhabsyi yang membahas Kitab Sofwatuttafasir di Masjid Riyadh, Solo, pada hari Sabtu, 2 Mei 2026