KabarMajid.id, Surabaya – Kajian Ba’da Maghrib yang disampaikan oleh Ustadz Drs. H. M. Taufiq AB. pada Kamis 4 Desember 2025 di Masjid Al Falah Surabaya mengangkat tema mendalam yang jarang diperbincangkan: “Sukses” Karena Shalat “Khusyuk”. Di tengah hiruk pikuk perbincangan umum yang mengukur keberhasilan dari kekayaan, jabatan, atau popularitas, Ustadz Taufiq mengajak jemaah untuk merenungkan kembali hakikat kesuksesan yang sesungguhnya. Apakah sukses itu benar-benar diukur dari apa yang kita kumpulkan di dunia?
Dalam perbincangan sehari-hari, kesuksesan sering kali diukur dari pencapaian materi dan kedudukan. Seseorang disebut sukses karena ia adalah seorang konglomerat, profesor dengan pendidikan hebat, atau politisi terkemuka. Tolak ukur ini telah tertanam kuat di benak masyarakat sebagai standar pencapaian tertinggi dalam hidup.
Namun, Ustadz Taufiq menegaskan bahwa semua bentuk keberhasilan duniawi tersebut bersifat nisbi (relatif) dan sementara. Kekayaan, pangkat, dan kepandaian tidak akan berarti apa-apa dan tidak akan mampu mengantar pelakunya ke surga jika tidak diarahkan dan dilandasi dengan kedekatan kepada Allah SWT.
Mengutip perkataan Imam Ahmad bin Hambal ketika ditanya, “Siapa orang sukses itu?”, Ustadz Taufiq menyampaikan jawabannya yang menohok: “Orang sukses adalah orang yang bisa melangkahkan kakinya ke surga.” Ini adalah definisi kesuksesan abadi yang melampaui segala standar duniawi yang fana.
Untuk mencapai kedekatan dengan Allah—kunci menuju sukses sejati—instrumen utamanya adalah salat. Tidak ada hal lain yang lebih penting dari salat. Seseorang yang rajin berhaji, berumrah, dan berderma, namun salatnya masih berantakan, diibaratkan seperti tidak akan dapat bermimpi untuk memasuki surga.
Bahkan, salat tidak dapat dipisahkan dari zakat. Dalam Al-Qur’an, keduanya kerap disebut beriringan (Yuqimunash-shalata wa yu’tunaz-zakah). Jika salatnya baik namun zakat wajibnya tidak dilaksanakan dengan benar, maka salatnya gugur. Demikian pula sebaliknya; sedekah dan zakat yang dikeluarkan orang dermawan akan gugur jika salatnya tidak baik.
Allah SWT sendiri mengumumkan ciri-ciri orang sukses di dalam Surah Al-Mu’minun: “Qod aflahal mu’minun” (Sungguh beruntung orang-orang yang beriman). Ayat pertama menyebutkan, keberuntungan itu diraih oleh“Alladzina hum fi sholatihim khosy’un”—yaitu mereka yang khusyuk dalam salatnya. Khusyuk adalah gerbang awal menuju kesuksesan.
Pilar kedua kesuksesan adalah menghindari laghw. “Walladzina hum ‘anil-laghwi mu’ridhun” (mereka tidak menghambur-hamburkan waktu untuk perbuatan yang tidak ada kredit poinnya di akhirat). Orang sukses, dan yang salatnya khusyuk, sangat menghitung waktu sebagai modal utama, serta menghindari obrolan dan hobi sia-sia yang menghabiskan waktu berjam-jam.
Pilar ketiga adalah “Walladzina hum liz-zakati fa’ilun” (mereka yang melaksanakan zakat). Ustadz menekankan penggunaan kata fa’ilun (mengerjakan/melakukan), yang menunjukkan bahwa mereka mengeluarkan zakat bukan sebagai beban, melainkan sebagai kesadaran bahwa di dalam hartanya sudah tersedia bagian milik fakir miskin. Hal ini membuat mereka ringan dalam berzakat.
Dalam beribadah, Rasulullah SAW mengajarkan prinsip ‘quality before quantity’ (kualitas sebelum kuantitas). Lebih baik dua rakaat salat malam dengan khusyuk, daripada dua puluh rakaat tanpa khusyuk. Kualitas salat juga sangat ditentukan oleh tuma’ninah (berhenti dengan tenang). Rukuk harus 90 derajat, tidak tergesa-gesa, untuk mencapai ketenangan.
Untuk meraih khusyuk, persiapannya harus dimulai dari luar shalat. Wudu harus dilakukan dengan khusyuk dan sempurna sesuai tuntunan Nabi. Selanjutnya, saat mengucapkan Allahu Akbar di awal salat, kita harus benar-benar menyadari bahwa “Allah Maha Besar dari segalanya” dan menaruh segala urusan dunia di belakang badan.
Keutamaan shalat yang khusyuk sungguh luar biasa. Salat sunah dua rakaat, seperti sebelum Subuh (Raka’atil fajri khairun minad dunya wa ma fiha), atau dua rakaat setelah wudu yang dikerjakan tanpa memikirkan hal lain, dapat menghapus dosa-dosa kecil yang telah berlalu. Inilah mengapa Allah memerintahkan kita untuk “Hafidzu ‘alash-shalawat”—menjaga salat kita.
Kesimpulannya, shalat bukanlah sekadar kewajiban ritual, melainkan urusan besar yang menentukan keberkahan dan takdir kita di akhirat. Orang yang senantiasa shalat (daimun), dalam artian selalu ingat Allah (dhikr) di sela-sela pekerjaannya, akan selalu berada dalam lindungan-Nya. Oleh karena itu, mari kita perbaiki salat dan terus memohon pertolongan-Nya agar hati kita terhindar dari nafsu yang tidak pernah kenyang dan selalu dianugerahi khusyuk.
Sumber: Kajian Ba’da Maghrib Masjid Al Falah Surabaya oleh Ustadz Drs. H. M. Taufiq AB. dengan tema “SUKSES” KARENA SHOLAT “KHUSYUK”