KabarMasjid.id, Malang – Dakwah dan edukasi keagamaan terus mengalir di tengah masyarakat, salah satunya melalui rutinitas majelis ilmu. Pada Ahad malam, 23 November 2025, suasana syahdu menyelimuti Masjid Agung Jami Malang dalam gelaran Kajian Rutin Ahad Bada Maghrib. Ribuan jamaah memadati masjid untuk menyimak penjelasan mendalam dari guru mulia, KH. Nur Hasanuddin, yang melanjutkan pembahasan penting dari Kitab Mafahim Yajibu An Tusohah. Dalam pertemuan kali ini, beliau tidak hanya menguraikan makna-makna fundamental dalam Islam, tetapi juga memberikan pelurusan akidah yang krusial serta amalan doa yang mustajab.
Mengawali kajiannya, KH Hasanuddin mengajak jamaah untuk bernazar i’tikaf, sebuah amalan sederhana yang bertujuan menyempurnakan pahala saat berdiam diri di rumah Allah sambil menanti waktu Isya dan menuntut ilmu. Momentum ini kemudian disambungkan dengan keutamaan beribadah di tengah turunnya rahmat Allah. Beliau mengingatkan bahwa ada dua kondisi di mana doa seorang hamba diijabah oleh Allah SWT secara khusus.
Merujuk pada sabda Rasulullah SAW, beliau menjelaskan bahwa waktu mustajab untuk terkabulnya doa adalah saat bertemunya pasukan perang (indaltiqil juyus) dan ketika turunnya hujan (wa nuzulil matr). Berhubung malam kajian tersebut diiringi hujan deras, Kiai Hasanuddin sengaja memanjangkan doa setelah salat Maghrib, memohon tiga perkara istimewa yang menjadi inti dari kebahagiaan dunia dan akhirat.
Permintaan doa yang pertama adalah “Allahumma inna nas’aluka sihatan fit taqwa” (Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kesehatan yang mengantarkan kepada takwa). Beliau menekankan pentingnya doa ini, sebab banyak orang yang tertipu dan tidak mampu memanfaatkan dua nikmat terbesar—kesehatan (asihat) dan kesempatan (al-farag)—untuk beribadah. Kesehatan yang sempurna, menurut beliau, haruslah dimanfaatkan sebagai modal untuk semakin mendekat kepada Allah.
Doa kedua yang diajarkan adalah “watul umrin fi husni amal” (dan panjang umur yang diiringi dengan amal yang baik). Kiai Hasanuddin mengutip hadis, “Khairunas man thola umruhu wa hasuna amaluh,” yang artinya sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya. Sebaliknya, umur panjang tanpa amal yang baik justru akan semakin menjerumuskan seseorang ke dalam siksa, karena ia semakin lama hidup dalam kemaksiatan.
Permintaan ketiga yang menyentuh adalah “warizqon wasi’an la tuadzibna alaihi abada” (dan rezeki yang luas yang tidak Engkau jadikan sebab bagi azab kami). Beliau memperingatkan jamaah tentang bahaya rezeki yang luas jika tidak dimanfaatkan di jalan-Nya. Harta yang banyak bisa menjadi siksaan di dunia, membuat pemiliknya tidak bisa tidur nyenyak karena bingung mengurusinya, dan lebih parah lagi, menjadi siksaan berat di akhirat.
Selepas membahas doa, kajian beralih pada topik akidah yang seringkali disalahpahami, yaitu perihal Zamanul Fatrah dan status keimanan orang tua Nabi Muhammad SAW. Zamanul Fatrah adalah masa kekosongan yang amat panjang—kurang lebih 600 tahun—antara diangkatnya Nabi Isa AS dan diutusnya Nabi Muhammad SAW.
Beliau menegaskan bahwa orang-orang yang hidup di masa kekosongan ajaran kenabian, termasuk ayah dan ibu Rasulullah SAW, pada dasarnya berada dalam jaminan keselamatan. Hal ini berdasarkan firman Allah, “Wama kunna muadzibina hatta nabata rasula” (Dan Kami tidak akan mengazab sampai Kami mengutus seorang rasul). Artinya, azab tidak akan ditimpakan sebelum ada risalah yang sampai.
KH. Nur Hasanuddin kemudian dengan tegas menolak pandangan kelompok ekstrem yang menyatakan orang tua Nabi SAW adalah kafir, bahkan mengafirkan siapa saja yang tidak sependapat. Beliau mengajak jamaah untuk menggunakan nalar kasih sayang: jika memanggil anak seorang Muslim dengan sebutan “anak orang kafir” saja bisa memicu amarah, bagaimana mungkin kita merendahkan martabat orang tua Nabi, yang secara akidah sudah dilindungi oleh konsep Zamanul Fatrah?
Kajian ditutup dengan mengingat kembali kemuliaan Rasulullah SAW sebagai “Sirajan Mustaniron” (Pelita yang Terang Benderang). Beliau menceritakan kisah Sayidatuna Aisyah yang kehilangan jarum saat menjahit di malam hari, namun jarum tersebut langsung terlihat jelas ketika Rasulullah SAW masuk, saking terangnya wajah beliau yang memancarkan cahaya.
Sebagai Rasul, Nabi Muhammad SAW datang sebagai “warona” (pemberi peringatan keras tentang Neraka) bagi mereka yang ingkar, dan “wabasyarona jannatan” (pemberi kabar gembira tentang Surga) bagi yang taat. Beliau mengingatkan hadis tentang seluruh umatnya akan masuk surga, “kecuali yang tidak mau” (illa man ab), yaitu mereka yang bermaksiat dan menolak ajaran Nabi SAW.
Melalui kajian ini KH. Nur Hasanuddin mengajak umat untuk bersyukur atas karunia menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad SAW. Beliau menutup dengan doa agar semua jamaah diberikan panjang umur yang barakah, rezeki yang luas tanpa siksa, serta dikumpulkan bersama Kanjeng Nabi di dunia sebelum di akhirat, dan dimudahkan untuk mengucapkan kalimat tauhid di akhir hayat (husnul khatimah).
Sumber: Kajian Rutin Ahad Ba’da Maghrib oleh KH. Nur Hasanuddin di Channel Youtube Masjid Jami’ Malang