KabarMasjid.id, Surabaya – Menjaga kesehatan jantung merupakan investasi jangka panjang yang tidak boleh ditunda, mengingat organ ini bekerja tanpa henti selama 24 jam untuk menopang kehidupan manusia. Sejalan dengan misi tersebut, Masjid Nasional Al Akbar Surabaya bekerja sama dengan RSUD Dr. Soetomo menyelenggarakan program “Ngaji Sehat” episode ke-20 pada tanggal 18 Desember 2025 di ruang utama masjid. Kajian kesehatan yang mencerahkan ini menghadirkan dr. Anisa Tri Satara, Sp.JP, seorang spesialis kardiologi dan kedokteran vaskular, sebagai narasumber utama untuk membedah langkah-langkah praktis menjaga kesehatan jantung.
Dalam pemaparannya, dr. Anisa menyoroti fakta mengkhawatirkan bahwa angka kejadian penyakit jantung di Indonesia terus mengalami peningkatan sekitar 0,03% setiap tahunnya. Jika dahulu penyakit jantung identik dengan lansia di atas 50 tahun, kini trennya bergeser ke usia yang lebih muda, yakni rentang 30 hingga 40 tahun. Penyakit jantung koroner, stroke, dan hipertensi menjadi tiga kategori penyakit kardiovaskular yang paling banyak ditemukan di tengah masyarakat saat ini.
Penyakit jantung koroner sendiri dijelaskan sebagai kondisi di mana aliran darah ke otot jantung terganggu akibat adanya penumpukan lemak atau plak di pembuluh darah koroner. dr. Anisa mengilustrasikan kondisi ini seperti jalan tol yang tersumbat; jika sumbatan terjadi dalam waktu lama, otot jantung tidak mendapatkan asupan oksigen dan nutrisi sehingga bisa mengalami kematian jaringan. Akibatnya, fungsi pompa jantung melemah yang kemudian berujung pada gagal jantung atau henti jantung mendadak.
Salah satu poin penting dalam kajian ini adalah edukasi mengenai karakteristik nyeri dada khas jantung agar masyarakat tidak keliru mengenalinya. Nyeri tersebut biasanya terasa tumpul, seperti ditekan benda berat atau diremas, berlokasi di belakang tulang dada, dan dapat menjalar ke lengan kiri, rahang, hingga punggung. Gejala ini sering kali dipicu oleh aktivitas fisik berat atau emosi, dan umumnya membaik setelah beristirahat selama beberapa menit.
Narasumber juga menjelaskan bahwa faktor risiko penyakit jantung terbagi menjadi dua, yakni yang tidak dapat diubah dan yang bisa dikendalikan. Faktor yang tidak dapat diubah meliputi usia, jenis kelamin, serta riwayat genetik keluarga. Namun, masyarakat diminta fokus pada faktor yang bisa diubah seperti pola makan tidak sehat, kebiasaan merokok, kurangnya aktivitas fisik, serta pengendalian penyakit penyerta seperti diabetes dan kolesterol tinggi.
Sebagai solusi preventif, dr. Anisa memperkenalkan protokol “CERDIK” yang dirancang oleh Kementerian Kesehatan. Huruf pertama, ‘C’, merujuk pada Cek kesehatan secara rutin yang meliputi pemantauan tekanan darah, gula darah, dan profil kolesterol. Pemeriksaan berkala ini sangat krusial karena banyak penderita gangguan jantung yang tidak merasakan gejala apa pun hingga terjadi serangan yang fatal.
Langkah kedua adalah ‘E’, yaitu Enyahkan asap rokok, baik rokok konvensional maupun rokok elektrik (vape). Kandungan dalam rokok dapat memicu kekakuan pembuluh darah dan mempercepat pembentukan plak yang menyumbat aliran darah. dr. Anisa menegaskan bahwa berhenti merokok, bahkan bagi mereka yang sudah merokok selama puluhan tahun, tetap akan memberikan manfaat signifikan bagi kesehatan pembuluh darah di masa depan.
Selanjutnya adalah ‘R’ untuk Rutin olahraga dengan durasi 150 hingga 300 menit per minggu. Jenis olahraga yang disarankan adalah kombinasi antara kardio seperti jalan cepat atau bersepeda, latihan beban untuk kekuatan otot, serta latihan fleksibilitas. Prinsipnya harus dilakukan secara bertahap dan konsisten agar otot jantung terlatih dengan baik tanpa memberikan beban berlebih yang membahayakan.
Huruf ‘D’ dalam CERDIK melambangkan Diet seimbang, di mana narasumber merekomendasikan pola makan Mediterania. Pola makan ini menekankan pada konsumsi tinggi sayur, buah, biji-bijian, dan lemak sehat seperti kacang-kacangan atau ikan, serta membatasi daging merah. Selain itu, pembatasan konsumsi garam di bawah satu sendok teh dan gula di bawah empat sendok makan per hari menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas tekanan dan gula darah.
Aspek ‘I’ atau Istirahat cukup juga tidak kalah penting, dengan durasi tidur ideal antara 7 hingga 9 jam setiap malam. Kualitas tidur yang buruk atau durasi yang tidak konsisten terbukti memiliki kaitan erat dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner. dr. Anisa menyarankan penerapan sleep hygiene, seperti mematikan perangkat elektronik 30 menit sebelum tidur, guna memastikan tubuh mendapatkan pemulihan optimal.
Langkah terakhir dalam protokol tersebut adalah ‘K’, yakni Kelola stres. Stres kronis yang dialami dalam waktu lama dapat memicu peradangan dalam tubuh dan merusak sistem pembuluh darah. Masyarakat diajak untuk mengelola emosi melalui aktivitas positif seperti meditasi, menyalurkan hobi, hingga meningkatkan kualitas ibadah sebagai bentuk penenangan batin yang efektif menurunkan risiko serangan jantung.
Kajian “Ngaji Sehat” ini ditutup dengan sesi diskusi yang menekankan bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulai hidup sehat. Dengan menerapkan prinsip CERDIK secara konsisten, setiap individu dapat memutus rantai risiko penyakit jantung meskipun memiliki faktor genetik dari keluarga. Sehatnya jantung adalah kunci utama untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik di masa depan.
Sumber: NGAJI SEHAT Masjid Al Akbar Surabaya Bersama Annisa Trissatharra, dr., Sp.JP. dengan tema “Stronger Heart, Stronger Life”