Refleksi Prof. M. Nuh: Menata Hati dan Logika untuk Memakmurkan Masjid di Era Digital

Tokoh Pendidikan Surabaya dan Jawa Timur, Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA,
Tokoh Pendidikan Surabaya dan Jawa Timur, Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA,

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Di tengah khidmatnya pelantikan Pengurus Daerah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Surabaya periode 2026–2031 di Masjid Nuruzzaman Unair, Minggu malam 19 April 2026, sebuah pesan mendalam mengenai intelektualitas dan spiritualitas mengemuka. Mantan Menteri Pendidikan Nasional, Tokoh Pendidikan Surabaya dan Jawa Timur, Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA, menyampaikan tausiyah yang menjadi refleksi tajam bagi para pengurus yang didominasi oleh kalangan akademisi dan pakar.

Dalam suasana yang khidmat, Prof. M. Nuh mengawali pesannya dengan mengajak seluruh pengurus untuk senantiasa bersyukur. Ia menekankan bahwa menjadi bagian dari pengurus DMI adalah amanah besar yang harus dijalankan dengan kesadaran penuh akan pentingnya peran masjid dalam kehidupan masyarakat urban seperti Surabaya.

Prof. Nuh menyinggung fenomena creative minority, di mana kelompok kecil yang kreatif sering kali menjadi penentu perubahan besar. “Sangat sedikit hamba Allah itu yang bisa bersyukur. Ndak apa-apa panjenengan masuk di kelompok yang sedikit itu. Karena di mana-mana, kelompok kecil yang kreatif itulah yang menentukan,” ujarnya.

Memasuki inti strategi organisasi, mantan Menteri Pendidikan ini menekankan bahwa potensi besar masjid tidak boleh berhenti sebagai wacana semata. Tantangan terbesar bagi DMI Surabaya adalah bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi kekuatan riil yang dirasakan manfaatnya oleh jemaah dan warga sekitar.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Prof. Nuh memaparkan empat langkah strategis yang harus dilakukan pengurus. Langkah pertama adalah fungsi orkestrasi terhadap ribuan masjid di Surabaya, yang kemudian diikuti dengan langkah kedua yaitu penguatan (strengthening) melalui pemetaan data kekuatan dan kelemahan masjid.

Langkah ketiga adalah pemberdayaan (empowering) secara berkelanjutan. Sementara langkah terakhir yang tak kalah penting adalah membangun ekosistem. Menurutnya, masjid tidak boleh berdiri sendiri-sendiri, melainkan harus terkoneksi dalam satu ekosistem yang saling mendukung untuk menciptakan dampak sosial yang lebih luas.

Prof. Nuh juga mengingatkan filosofi keberadaan sebuah organisasi. “Sebaik-baik organisasi adalah organisasi yang paling banyak memberikan manfaatnya kepada masyarakat,” tegasnya. Ia menjelaskan bahwa manfaat hanya muncul jika organisasi mampu memenuhi kebutuhan jemaah yang sifatnya sangat dinamis.

(Kebersamaan para Tokoh Agama Lintas Ormas dalam rangka pelantikan pengurus PD DMI Kota Surabaya Khidmat 2026-2031)

Dalam tausiyahnya, ia turut menyinggung pentingnya inovasi di era digital. Beliau memberikan perumpamaan tentang Machine Learning dalam Kecerdasan Buatan (AI) yang terus belajar tanpa henti. Menurutnya, pengurus DMI juga harus menjadi pembelajar sejati yang mampu menangkap kebutuhan kaum digital native.

“AI itu bisa pintar karena dia belajarnya 7 kali 24 jam, dia tidak pakai tidur. Siapa saja yang tidak mau belajar dan mikir, maka selesai,” pesannya. Hal ini menjadi pengingat agar pengelolaan masjid tidak boleh gagap terhadap teknologi dan perkembangan zaman.

Salah satu poin menarik yang disampaikan adalah konsep mengubah hal yang mustahil menjadi mungkin. Beliau mengajak pengurus untuk menghapus huruf ‘IM’ pada kata Impossible agar menjadi Possible. Strategi ini, menurutnya, memerlukan keberanian dan cara pandang yang baru dalam berorganisasi.

Untuk “menghapus” kemustahilan tersebut, Prof. Nuh menyebutkan tiga kunci utama: kepemimpinan yang kuat (strong leadership), pengembangan jejaring (networking), serta transformasi digital. Ketiga hal ini dianggap sebagai katalisator utama untuk membawa DMI Surabaya ke level yang lebih tinggi. Menutup tausiyahnya, Prof. M. Nuh berharap kepengurusan yang baru dilantik dapat bekerja dengan penuh kasih sayang terhadap umat. Ia meyakini bahwa dengan niat baik dan cara kerja yang modern, DMI Surabaya akan menjadi pionir dalam memakmurkan masjid sekaligus memakmurkan jemaah di seluruh wilayah Surabaya.

E-Buletin