Merenungi Kisah Nabi Ibrahim dan Siti Hajar: Saat Cinta pada Ilahi Melebihi Segalanya

Ustadz Umar Djamal Al-Amudy
Ustadz Umar Djamal Al-Amudy

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Gema takbir, tahmid, dan tahlil berkumandang memecah keheningan pagi, membawa kedamaian sekaligus menggelorakan semangat beribadah di hati setiap Muslim. Hari Raya Idul Adha bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sebuah momentum sakral untuk merenungkan kembali hakikat menghamba kepada Sang Pencipta. Di tengah suasana khidmat tersebut, Masjid Yayasan Perguruan Al-Irsyad Surabaya menyelenggarakan ibadah sholat Idul Adha 1447 H pada Rabu, 27 Mei 2026, dengan menghadirkan Ustadz Umar Djamal Al-Amudy sebagai imam sekaligus khatib yang menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi ketakwaan.

Meskipun pelaksanaan ibadah yang semula direncanakan di area terbuka harus dialihkan ke dalam ruang utama masjid akibat guyuran hujan, antusiasme dan kekhusyukan para jemaah sama sekali tidak surut. Sebelum sholat dimulai, panitia mengumumkan bahwa mereka telah menghimpun amanah kurban berupa 17 ekor sapi dan 72 ekor kambing dari warga. Angka ini menjadi bukti nyata bagaimana kepedulian sosial dan semangat berbagi masih tertanam kuat di tengah masyarakat, menjadi jembatan kepedulian antarsesama di hari yang penuh berkah ini.

Dalam khutbahnya, Ustadz Umar Djamal Al-Amudy mengawali dengan mengingatkan jemaah tentang betapa agungnya sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah. Merujuk pada sabda Nabi Muhammad SAW, beliau menegaskan bahwa tidak ada hari di mana amal saleh lebih dicintai oleh Allah SWT melebihi hari-hari di awal bulan suci ini. Momen Idul Adha menjadi puncak dari hari-hari utama tersebut, di mana umat Islam di seluruh dunia dipersatukan dalam ibadah sholat dan penyembelihan hewan kurban sebagai wujud ketaatan tertinggi.

Khatib kemudian mengutip firman Allah dalam Surah Al-Kautsar ayat 2, “Fashalli lirabbika wanhar”—maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Perintah ini, menurut beliau, menjadi penegasan eksplisit bahwa ibadah sholat dan kurban memiliki kedudukan yang sangat agung dalam syariat. Berkurban bukan sekadar memotong hewan jantan yang gagah atau gemuk, melainkan sebuah bentuk deklarasi bahwa seorang hamba siap mengorbankan sebagian harta bendanya demi menggapai rida Allah SWT.

Lebih lanjut, Ustadz Umar meluruskan pemahaman masyarakat yang sering kali salah fokus pada aspek fisik dari hewan kurban semata. Mengutip Surah Al-Hajj ayat 37, beliau mengingatkan bahwa daging dan darah hewan kurban sama sekali tidak akan mencapai Allah SWT. Hal esensial yang sampai ke hadirat-Nya dan diterima sebagai amal kebaikan adalah nilai ketakwaan yang tulus yang bersemayam di dalam hati orang yang berkurban. Kurban yang sejati dinilai dari keikhlasan niat, bukan dari gengsi sosial atau ukuran hewan yang dikurbankan.

Khatib juga mengajak para jemaah untuk melakukan refleksi diri mengenai kecenderungan manusia modern yang sering kali terjebak dalam ambisi duniawi. Banyak orang menghabiskan waktu dan tenaga demi memperbesar kekayaan, memperluas perusahaan, ataupun mengejar kekuasaan. Namun, manusia kerap lupa bahwa satu-satunya yang layak dibesarkan dan diagungkan di alam semesta ini hanyalah nama Allah SWT, sebagaimana yang diikrarkan lewat bacaan takbir.

Dalam pandangan Ustadz Umar, harta dan jabatan yang dimiliki manusia pada hakikatnya hanyalah titipan yang bersifat sementara. Jika Allah SWT berkehendak mengambil atau mencabut kenikmatan tersebut dalam sekejap, maka manusia tidak lagi memiliki arti atau kekuatan apa pun. Oleh karena itu, kesadaran akan kekecilan diri di hadapan Sang Khalik harus melahirkan sifat rendah hati, menghilangkan kesombongan, serta menumbuhkan empati untuk berbagi melalui ibadah kurban.

Momen Idul Adha juga digambarkan sebagai waktu yang paling tepat untuk melakukan tapak tilas sejarah kehidupan Nabi Ibrahim AS. Ustaz Umar menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim adalah sosok istimewa yang dipuji Allah dalam Al-Qur’an sebagai manusia tunggal yang kualitas kepribadiannya setara dengan satu umat utuh karena kemuliaan akhlaknya. Beliau tidak hanya sukses secara pribadi dalam membangun hubungan dengan Allah, tetapi juga berhasil mencetak generasi emas setelahnya, termasuk melahirkan keturunan para nabi dan rasul yang membawa risalah kebenaran.

Pelajaran terbesar dari kisah Nabi Ibrahim as. adalah bahwa keiman itu tidak boleh sekadar menjadi pemanis di bibir, melainkan harus dibuktikan melalui tindakan nyata. Hal ini terlihat jelas ketika Allah SWT menguji keimanan Nabi Ibrahim bukan dengan meminta harta bendanya, melainkan meminta putra tercintanya, Ismail AS. Ujian ini terasa sangat berat karena Ismail adalah anak yang dinanti-nantikan oleh Nabi Ibrahim selama 86 tahun hingga rambut beliau memutih.

Ustadz Umar menekankan sebuah prinsip hidup bahwa Allah SWT akan menguji hamba-Nya lewat hal-hal yang paling mereka cintai untuk melihat di mana letak loyalitas keimanan mereka. Khatib mengutip Surah Ali Imran ayat 92 yang menyatakan bahwa seseorang tidak akan mencapai kebajikan yang sempurna sebelum ia mampu menginfakkan apa yang dicintainya. Dibandingkan dengan ujian berat Nabi Ibrahim, umat Islam saat ini hanya diminta berkurban seekor kambing atau patungan sapi yang jauh lebih ringan, sehingga sangat disayangkan jika mereka yang mampu justru enggan melaksanakannya.

Kisah keteladanan ini semakin lengkap dengan penuturan tentang ketabahan Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim AS. Saat ditinggalkan bersama bayinya di lembah Makkah yang gersang tanpa air dan tanaman, Siti Hajar hanya bertanya apakah itu perintah Allah. Ketika Nabi Ibrahim mengiyakan, dengan penuh keyakinan Siti Hajar berkata bahwa Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan mereka. Keyakinan dan ikhtiar mencari air antara Bukit Safa dan Marwah itulah yang kemudian membuahkan mukjizat berupa mata air Zamzam yang memancar dari hentian kaki mungil Ismail AS.

Khutbah Idul Adha tersebut diakhiri dengan ajakan untuk bersyukur karena masih diberi kesempatan hidup dan merayakan hari raya, mengingat banyak orang yang tahun lalu masih bersama kita kini telah dipanggil oleh-Nya. Ustadz Umar Djamal Al-Amudy mengajak seluruh jemaah untuk memanfaatkan momentum suci ini dengan mendekatkan diri kepada Allah agar diangkat menjadi insan yang mulia di sisi-Nya, yang kemudian ditutup dengan pembacaan doa bersama demi keselamatan dunia dan akhirat.

Sumber: Khutbah Idul Adha 1447 H oleh Ustadz Umar Djamal Al-Amudy di Masjid Al Irsyad Surabaya pada Rabu, 27 Mei 2026.

E-Buletin