Kabarmasjid.id, Malang – Transisi dari bulan suci Ramadhan kembali ke rutinitas sehari-hari sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi banyak orang, terutama dalam menjaga konsistensi kesehatan yang telah terbentuk. Selama satu bulan penuh, tubuh dan jiwa kita sebenarnya telah menjalani proses “pembersihan” dan pelatihan yang luar biasa melalui ibadah puasa. Mempertahankan ritme kesehatan ini bukan sekadar soal fisik, melainkan juga tentang bagaimana kita menjaga keseimbangan batin agar tetap bugar pasca-lebaran.
Kajian kesehatan yang mencerahkan ini dilaksanakan pada hari Minggu, 15 Maret 2026, bertepatan dengan 25 Ramadhan 1447 Hijriah, bertempat di Studio Podcast Masjid Agung Jami Malang. Acara bertajuk “Ramadhan Bil Hikmah” ini menghadirkan narasumber ahli, dr. H. R. M. Hardadi Airlangga, Sp.PD, seorang spesialis penyakit dalam. Beliau membedah secara mendalam strategi menjaga kesehatan batin dan fisik agar tetap prima setelah menjalani madrasah Ramadhan selama sebulan penuh.
Dalam pemaparannya, dr. Hardadi menekankan bahwa puasa adalah bentuk investasi kesehatan jangka panjang yang berdampak positif pada dua lini utama: kebugaran batin dan kebugaran fisik. Kebugaran batin ditandai dengan meningkatnya kualitas ibadah yang dilakukan tanpa rasa terpaksa, sementara kebugaran fisik terlihat dari metabolisme tubuh yang lebih stabil. Kedua hal ini harus dijaga agar tidak merosot kembali ke titik nol saat merayakan Idulfitri.
Secara medis, puasa memaksa tubuh untuk melakukan pembakaran cadangan lemak karena asupan karbohidrat yang berkurang drastis selama belasan jam. Proses ini sangat bermanfaat untuk mengontrol kadar gula darah dan menurunkan kolesterol jahat dalam tubuh. Dr. Hardadi menyebutkan bahwa jika dilakukan dengan benar, puasa akan membuat indeks massa tubuh bergerak menuju angka yang lebih ideal, sehingga tubuh terasa lebih ringan dan bugar.
Sisi anatomi jiwa juga tak luput dari pembahasan, di mana puasa berperan penting dalam menekan hawa nafsu amarah dan dominasi nafsu lawamah. Dengan berkurangnya asupan energi fisik secara sementara, jiwa manusia cenderung lebih tenang dan nafsu mutmainah atau jiwa yang tenang menjadi lebih dominan. Hal inilah yang menjelaskan mengapa seseorang yang berpuasa biasanya lebih mampu menjaga lisan, lebih berempati, dan mudah untuk bersedekah.
Tantangan sesungguhnya muncul saat memasuki bulan Syawal, di mana godaan makanan saat silaturahmi sering kali tidak terkontrol. Dr. Hardadi menyarankan agar kita tidak melakukan “balas dendam” kuliner yang bisa mengejutkan sistem metabolisme tubuh secara mendadak. Strategi terbaik yang disarankan adalah dengan langsung menyambung dengan puasa sunnah Syawal enam hari untuk menjaga ritme kendali diri yang sudah terbentuk selama Ramadhan.
Terkait pola makan pasca-Ramadhan, sangat dianjurkan untuk tetap mengonsumsi makanan yang kaya akan serat seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Serat memiliki kemampuan unik untuk memberikan rasa kenyang lebih lama di lambung, sehingga keinginan untuk mengonsumsi makanan berlebih dapat ditekan. Pilihan protein juga harus diperhatikan, di mana ikan menjadi rekomendasi utama karena mengandung lemak tak jenuh yang baik untuk kesehatan pembuluh darah.
Dr. Hardadi juga menyoroti pentingnya asupan protein lain seperti telur, terutama bagian putihnya yang kaya akan albumin. Albumin berfungsi vital dalam menjaga tekanan osmotik darah agar cairan tidak merembes keluar ke jaringan tubuh yang bisa menyebabkan pembengkakan atau edema. Dengan menjaga asupan protein yang tepat, fungsi organ-organ penting seperti hati dan jantung akan tetap terjaga performanya meski pola makan kembali normal.
Mengenai aktivitas fisik, dr. Hardadi mengingatkan agar olahraga tetap dilakukan dengan menyesuaikan kondisi usia dan riwayat kesehatan. Bagi mereka yang memiliki gangguan jantung atau paru, olahraga pernapasan lebih disarankan daripada aktivitas aerobik yang berat. Kuncinya adalah konsistensi dan menjadikan olahraga sebagai budaya keluarga agar investasi kesehatan ini bisa dinikmati hingga hari tua nanti.
Kualitas tidur juga menjadi indikator keberhasilan puasa seseorang, di mana tidur yang berkualitas tidak selalu harus lama, namun harus nyenyak dan menyegarkan saat bangun. Selama Ramadhan, hormon melatonin bekerja lebih baik pada tubuh yang terjaga asupan makannya. Dr. Hardadi berpesan agar manajemen waktu istirahat tetap diperhatikan pasca-Ramadhan agar tubuh memiliki waktu yang cukup untuk melakukan regenerasi sel secara optimal.
Cairan tubuh juga memegang peranan krusial, di mana kebutuhan minimal delapan gelas air sehari tetap harus terpenuhi meski tidak lagi sedang berpuasa. Asupan air yang cukup sangat membantu kerja ginjal dan menjaga kelembapan sel-sel tubuh. Dr. Hardadi menekankan bahwa sirkulasi cairan yang baik adalah kunci dari metabolisme yang sehat, sehingga tubuh tidak mudah merasa lemas atau dehidrasi saat beraktivitas padat.

Sebagai penutup, dr. Hardadi mengajak seluruh jemaah untuk menjadikan Ramadhan sebagai titik berangkat menuju gaya hidup yang lebih disiplin. Keberhasilan seseorang dalam menjalani madrasah Ramadhan dapat dinilai dari bagaimana ia mampu mempertahankan kualitas kesehatan batin dan fisiknya di bulan-bulan berikutnya. Dengan batin yang tenang dan fisik yang kuat, kita akan lebih siap dalam menjalankan tugas-tugas kemanusiaan dan ibadah di masa depan.
Sumber: Kuliah Jelang Berbuka Masjid Jami’ Malang bersama dr. H. R. M. Hardadi Airlangga, Sp.PD, yang membahas tema “Hidup Sehat Pasca Sebulan Berpuasa Ramadhan”