Menghapus ‘Sambat’ dengan Mahabbah: Menata Hati Lewat Kearifan Kitab Al-Hikam

Ustad Ahmad Bahreisy, M.Ag.
Ustad Ahmad Bahreisy, M.Ag.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Dunia modern sering kali menjebak manusia dalam hitung-hitungan matematis, di mana setiap peluh harus mendatangkan materi dan setiap pengorbanan menuntut adanya timbal balik. Ketika ekspektasi tersebut tidak berjalan selaras dengan kenyataan, kegelisahan, keluhan (sambat), hingga depresi kerap kali menjadi ujungnya. Menjawab tantangan spiritual masyarakat urban tersebut, sebuah kajian mendalam digelar pada Senin, 25 Mei 2026, bertempat di Masjid Roudlotul Musyawarah (Kemayoran), Surabaya. Bersama narasumber Ustadz Ahmad Bahreisy, M.Ag., kajian ini membedah bait-bait hikmah ke-255 dari Kitab Al-Hikam karya ulama besar Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari, yang mengupas tuntas tentang esensi cinta sejati seorang hamba kepada Sang Pencipta.

Ustad Ahmad Bahreisy mengawali pemaparannya dengan menyambung benang merah dari kajian sebelumnya mengenai karakteristik seorang mukmin sejati (al-mukmin). Menurut beliau, salah satu tanda utama keimanan yang kokoh adalah ketika seorang hamba begitu sibuk mengagungkan dan memuji Allah SWT (yusyghiluhu tsana’u alallah). Intensitas pujian dan rasa syukur yang meluap-luap ini sering kali membuat mereka tenggelam dalam kebahagiaan spiritual, hingga melupakan kepentingan atau pujian bagi diri mereka sendiri. Pada tahapan ini, fokus hidup tidak lagi berkutat pada ego pribadi, melainkan pada bagaimana menunaikan hak-hak ketuhanan dengan segenap jiwa.

Ketulusan spiritual ini digambarkan secara apik melalui kisah keteguhan Nabi Ibrahim AS saat menghadapi ancaman hukuman bakar dari Raja Namrud. Ketika berada di atas manjanik (alat pelontar) dan bersiap dilemparkan ke dalam kobaran api yang dahsyat, Malaikat Jibril datang menawarkan bantuan untuk menyelamatkannya. Namun, dengan penuh ketenangan, Nabi Ibrahim menolak bantuan makhluk tersebut dan berserah total kepada Allah SWT. Beliau meyakini bahwa pengetahuan Allah atas kondisi yang sedang dialaminya jauh lebih dari cukup daripada sekadar untaian kata permohonan (hasbi min su’ali ilmuhu bi hali), sebuah potret kepasrahan mutlak yang lahir dari kedekatan yang sudah mendarah daging.

Sikap nabi yang tidak lagi mendikte Tuhan dalam doa-doanya ini dipertegas oleh sebuah Hadis Qudsi yang disampaikan oleh Ustad Ahmad Bahreisy. Dalam hadis tersebut, Allah SWT berjanji akan memberikan anugerah yang jauh lebih utama dan mulia kepada orang-orang yang sibuk berzikir dan mengingat-Nya hingga lupa meminta, dibandingkan dengan mereka yang berdoa semata-mata karena menuntut pemenuhan hajat. Fenomena ini mengajarkan manusia untuk tidak selalu memperlakukan doa sebagai lembar transaksional, melainkan sebagai media komunikasi dan penghambaan yang penuh dengan rasa takzim.

Lebih lanjut, kajian ini menyoroti fenomena sosial di era digital, di mana pamer pencapaian finansial di media sosial sering kali memicu penyakit hati dan rasa tidak puas. Ustadz Ahmad Bahreisy mengingatkan jamaah untuk berhenti membandingkan garis takdir sendiri dengan pencapaian miliaran pertama orang lain di usia muda. Menurut beliau, setiap manusia telah diinstal oleh Allah SWT dengan jalan takdir, porsi rezeki, dan ruang manfaatnya masing-masing. Tugas utama seorang hamba bukanlah mengintervensi atau mencemburui takdir orang lain, melainkan memaksimalkan peran yang telah diberikan-Nya saat ini dengan performa terbaik hingga batas optimal.

Sifat suka mengeluh (sambat) juga dikritik tajam dalam kajian ini karena dinilai tidak akan pernah menyelesaikan kerumitan hidup, dari level ekonomi paling bawah hingga strata tertinggi. Mengeluh justru menutup mata manusia dari tumpukan nikmat yang telah digerojokkan oleh Allah secara kasat mata maupun yang tersembunyi (zhahiran wa bathinan). Menariknya, beliau memberikan sudut pandang bahwa keterbatasan fisik atau ujian penyakit yang berat pun bisa diubah menjadi ladang syukur. Ketika seseorang yang sakit parah tetap memaksakan diri melangkahkan kaki ke masjid, keteguhannya secara tidak langsung menjadi motivator ulung bagi orang-orang sehat di sekitarnya untuk malu jika meninggalkan ibadah.

Dalam memahami keadilan distributif Allah di dunia, Ustadz Ahmad Bahreisy mengakui bahwa penalaran manusia sering kali janggal melihat realitas sosial. Sering kali ditemukan orang-orang yang saleh, jujur, dan berjiwa sosial hidupnya biasa-biasa saja, sementara mereka yang korup, culas, atau kikir justru tampak bergelimang harta materi. Beliau menjelaskan bahwa dunia ini memang didesain sebagai ruang ujian yang penuh anomali; kekayaan ekstrem yang diberikan kepada orang yang salah sering kali merupakan bentuk penangguhan (istidraj), sementara pembatasan rezeki bagi orang baik bisa jadi merupakan bentuk perlindungan Allah agar mereka tidak terjerumus dalam bahaya kesombongan.

Namun, sejarah Islam juga mencatat pengecualian indah di mana kekayaan berlimpah bersanding dengan kedermawanan mutlak, seperti pada figur Nabi Sulaiman AS dan sahabat Abdurrahman bin Auf. Penceramah menghidupkan suasana kajian dengan menceritakan kisah legendaris Abdurrahman bin Auf yang dikenal sebagai sahabat yang “gagal melarat”. Pasca-wafatnya Rasulullah SAW, beliau sempat berniat menghabiskan hartanya agar bisa merasakan hidup miskin dengan cara membeli seluruh kurma busuk milik para petani madinah yang gagal panen dengan harga normal yang sangat mahal. Secara logika bisnis, tindakan spekulatif ini pasti akan mendatangkan kebangkrutan total karena kurma busuk tidak memiliki nilai jual.

Kendati demikian, rencana manusia tidak pernah mampu melompati skenario langit. Tak lama setelah transaksi tersebut selesai, sebuah wabah penyakit menular melanda sebuah daerah di luar Jazirah Arab, di mana para tabib menemukan bahwa satu-satunya penawar vaksin untuk epidemi tersebut adalah ramuan yang terbuat dari kurma busuk. Karena Abdurrahman bin Auf menjadi satu-satunya orang yang menguasai stok kurma busuk dalam kondisi bersih dan terkumpul, utusan penguasa daerah tersebut membeli seluruh komoditas miliknya dengan harga yang berlipat-lipat lebih mahal. Upaya untuk bangkrut pun gagal total, menunjukkan bahwa harta yang dinaungi keberkahan dan ketulusan justru akan terus berkembang dengan cara yang tidak rasional.

Melalui ilustrasi sejarah tersebut, kajian ini menukik pada inti hikmah ke-255 Kitab Al-Hikam mengenai definisi cinta sejati (mahabbah). Syekh Ibnu Atha’illah menegaskan: Laisa al-habibu man yarju min mahbubihi ‘aradhan watatlubu minhu aradon—bukanlah dinamakan seorang kekasih atau pencinta jika ia masih mengharapkan pamrih, imbalan, atau kompensasi tertentu dari yang dicintainya. Seseorang yang mengaku mencintai Allah namun ibadahnya masih dipenuhi dengan tuntutan duniawi atau syarat-syarat transaksional, sejatinya belum merasakan kemurnian cinta, melainkan baru berada pada tahap berbisnis dengan Tuhan.

Ustadz Ahmad Bahreisy merefleksikan nilai ini melalui pengalaman pribadinya dalam dunia pendidikan dan pengelolaan fasilitas umat. Beliau menekankan bahwa ketika suatu pekerjaan—baik itu mengajar, merawat perpustakaan, maupun memakmurkan masjid—didasari oleh rasa kepemilikan dan cinta yang mendalam, maka segala bentuk tekanan, kelelahan, dan ketiadaan materi tidak akan pernah menjadi beban yang menjatuhkan mental. Rasa cinta membebaskan manusia dari keterikatan target-target semu makhluk, sehingga memunculkan keikhlasan yang membuat batin senantiasa tenang, nyaman, dan bahagia dalam menjalankan rutinitas pengorbanan.

Sumber: Kajian Kitab Al-Hikam oleh Ustad Ahmad Bahreisy, M.Ag. di Masjid Roudlotul Musyawarah (Kemayoran) Surabaya, pada Senin, 25 Mei 2026

E-Buletin