Mengejar ‘Waktu Mustajab’: Mengapa Salat Malam Menjadi Kunci Terbukanya Pintu Langit

Ustadz Nur Hadi dari Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU Kota Malang
Ustadz Nur Hadi dari Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU Kota Malang

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Malang – Menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan momen emas untuk mempertebal spiritualitas melalui ibadah malam. Salah satu amalan yang menjadi primadona bagi kaum beriman adalah salat malam atau qiyamul lail, yang menyimpan rahasia ketenangan batin luar biasa. Memahami dalil dan hikmah di baliknya akan memberikan motivasi baru bagi kita untuk lebih giat mengetuk pintu langit di saat manusia lain sedang terlelap.

Kajian mendalam mengenai hal ini disampaikan oleh Ustadz Nur Hadi dari Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU Kota Malang dalam acara Kuliah Jelang Berbuka yang dilaksanakan di Masjid Agung Jami Malang pada Rabu, 7 Ramadhan 1447 H (25 Februari 2026). Dalam pemaparannya, beliau menekankan bahwa salat malam adalah kebiasaan orang-orang saleh terdahulu yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam.

Ustadz Nur Hadi menjelaskan bahwa pada awal masa kenabian, salat malam sebenarnya merupakan sebuah kewajiban bagi Rasulullah dan umat Islam. Sebelum turunnya perintah salat lima waktu, para sahabat menjalankan salat dua rakaat di waktu malam dan dua rakaat di waktu siang. Hal ini menunjukkan betapa fundamentalnya posisi ibadah malam dalam membangun fondasi keimanan di masa awal Islam.

Namun, hukum kewajiban ini kemudian mengalami perubahan atau nasakh setelah peristiwa Isra Mikraj, di mana salat lima waktu mulai disyariatkan. Sejak saat itu, salat malam bagi umat Islam tidak lagi menjadi wajib, melainkan berubah status menjadi sunah muakkadah atau sunah yang sangat ditekankan. Perubahan hukum ini tidak mengurangi keutamaannya, melainkan justru menjadi indikator kualitas iman seseorang.

Dalam kajian tersebut, dijelaskan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang turun setelah perubahan hukum tersebut umumnya bernuansa pujian bagi pelakunya. Allah SWT memuji hamba-hamba-Nya yang bersedia meluangkan waktu malam untuk bersujud dan rukuk melalui lisan para nabi. Pujian dari Sang Pencipta ini merupakan bentuk apresiasi tertinggi yang tidak bisa dibandingkan dengan penghargaan duniawi manapun.

Secara teknis, Ustadz Nur Hadi memberikan definisi mengenai salat Tahajud yang sering disalahpahami. Salat malam baru bisa disebut Tahajud apabila dilakukan setelah seseorang terbangun dari tidurnya, meskipun hanya sebentar. Jika dilakukan tanpa tidur terlebih dahulu, amalan tersebut tetap bernilai sunah, namun belum mencapai derajat keutamaan Tahajud yang sempurna.

Waktu terbaik untuk melaksanakan ibadah ini adalah pada sepertiga malam yang terakhir, atau sekitar pukul 02:30 dini hari di waktu sekarang. Pada jam-jam tersebut, suasana sangat tenang sehingga memudahkan seorang hamba untuk berkomunikasi secara intim dengan Allah SWT. Bangun di jam ini memang berat, namun di situlah letak ujian perjuangan melawan hawa nafsu dan rasa kantuk yang dahsyat.

Hikmah yang paling nyata dari rutin menjalankan salat malam adalah dianugerahkannya ketenangan batin. Seseorang yang terbiasa qiyamul lail cenderung memiliki mental yang stabil dan tidak mudah panik atau gupuhan saat menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok atau dinamika hidup lainnya. Kedekatannya dengan Allah membuat ia yakin bahwa setiap persoalan pasti memiliki jalan keluar.

Selain ketenangan, salat malam juga berfungsi sebagai benteng moral bagi pelakunya. Berdasarkan hadis nabi, kebiasaan salat malam secara perlahan akan mencegah seseorang dari perbuatan maksiat di siang hari. Amalan malam ini bekerja seperti pembersih jiwa yang secara otomatis menyaring perilaku buruk agar tidak lagi dilakukan oleh seorang mukmin.

Bagi pasangan suami istri, Ustadz Nur Hadi menganjurkan untuk saling membangunkan satu sama lain guna melaksanakan salat malam bersama. Rasulullah SAW memberikan perhatian khusus dan memuji suami yang membangunkan istrinya, atau sebaliknya, untuk beribadah. Keharmonisan rumah tangga pun akan semakin kuat ketika dibangun di atas fondasi ibadah malam yang istikamah.

Keistimewaan lain yang sangat dicari adalah adanya waktu mustajab di tengah malam, di mana setiap doa yang dipanjatkan akan dikabulkan oleh Allah SWT. Meskipun Allah mengabulkan doa sesuai dengan kehendak-Nya yang terbaik bagi hamba, namun janji-Nya mengenai waktu mustajab ini menjadi penyemangat bagi kita untuk terus berharap dan memohon hanya kepada-Nya.

Sebagai penutup kajian, diingatkan bahwa bulan Ramadhan adalah momen terbaik untuk memulai kebiasaan ini karena setiap amalan sunah diganjar setara dengan amalan wajib. Mari manfaatkan sisa malam di bulan suci ini untuk bersujud, karena kita tidak pernah tahu apakah masih memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Ramadhan di tahun-tahun mendatang.

Sumber: Kuliah Jelang Berbuka Masjid Jami’ Malang Bersama Ustadz Nur Hadi

E-Buletin