Kabarmasjid.id, Surabaya – Membaca Al-Qur’an atau tilawah bukan sekadar aktivitas lisan, melainkan sebuah ibadah mulia yang menuntut kesempurnaan dalam pelafalan setiap hurufnya. Banyak umat Muslim yang berfokus pada teknik pernapasan dan kelancaran membaca, namun sering kali melupakan satu aspek krusial yang menjadi motor penggerak utama, yaitu kesehatan rongga mulut. Ketika organ-organ di dalam mulut mengalami gangguan atau rasa sakit, maka ketepatan artikulasi atau makhrajul huruf secara otomatis akan terganggu, yang pada akhirnya menurunkan kualitas kekhusyukan dan keindahan dalam melantunkan ayat-ayat suci.
Pesan penting inilah yang mengemuka dalam program “Ngaji Sehat” yang berlangsung pada hari Kamis, 14 Mei 2026, bertempat di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya. Agenda mencerahkan yang merupakan hasil kerja sama dengan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo ini menghadirkan narasumber ahli, drg. Sulistiwati Budi Utami dari Divisi Penyakit Mulut Poli Gigi RSUD Dr. Soetomo. Dalam pemaparannya, beliau mengupas tuntas tema bertajuk “Kesehatan Rongga Mulut Mempengaruhi Kualitas Tilawah Al-Qur’an”, sebuah topik yang membuka mata jamaah mengenai pentingnya menjaga aset pemberian Allah yang ada di dalam mulut kita.
Secara anatomis, kemampuan manusia untuk memproduksi bunyi dan kalimat yang benar sangat bergantung pada keselarasan fungsi jaringan keras dan jaringan lunak di rongga mulut. Jaringan lunak ini meliputi lidah, dasar lidah, langit-langit, bibir, serta mukosa pipi bagian dalam. Dalam kondisi normal dan sehat, seluruh komponen ini bekerja sama secara sempurna sehingga kita dapat melafalkan makhraj huruf-huruf hijaiyah dengan tepat. Sebagai contoh, kelenturan dan kesehatan bibir sangat menentukan kesempurnaan saat kita mengucapkan huruf-huruf tertentu seperti mim dan ba.
Namun, gangguan kecil seperti sariawan atau dalam istilah medis disebut recurrent aphthous stomatitis sering kali menjadi penghalang besar bagi kenyamanan bertilawah. Ketika sariawan muncul di area-area sensitif seperti bibir, lidah, atau langit-langit bagian belakang, pergerakan mulut menjadi sangat terbatas akibat rasa perih yang mendalam. Akibatnya, seorang pembaca Al-Qur’an akan mengalami kesulitan besar dan merasa tersiksa saat harus melafalkan huruf-huruf tertentu yang membutuhkan penekanan, seperti huruf qof, kaf, mim, hingga lam.
Dalam kajian tersebut, drg. Sulistiwati menjelaskan secara detail bahwa sariawan bukanlah penyakit tunggal, melainkan manifestasi klinis yang dipicu oleh multitafsir faktor, salah satunya adalah faktor keturunan atau genetik. Faktor genetik ini bekerja melalui kode-kode khusus yang diwariskan secara turun-temurun dan memengaruhi tingkat kerentanan mukosa rongga mulut seseorang terhadap luka. Uniknya, sifat bawaan ini tidak selalu diturunkan langsung dari orang tua ke anak, melainkan bisa melompati generasi dan baru muncul pada cucu di kemudian hari.
Selain faktor internal genetik, sariawan juga kerap dipicu oleh infeksi mikroorganisme, mulai dari virus, jamur, hingga bakteri. Rongga mulut manusia pada dasarnya dihuni oleh berbagai jenis bakteri, yang dalam kondisi tertentu dapat berkembang biak secara tidak terkendali dan memicu peradangan. Bahkan, penyakit sistemik yang bersumber dari infeksi bakteri menular seksual seperti sifilis atau raja singa pun dapat memunculkan gejala berupa kelainan dan luka spesifik di area rongga mulut.
Faktor psikologis seperti stres juga menempati posisi atas sebagai pemicu rusaknya kesehatan mulut. Di tengah tekanan hidup modern—baik karena urusan keluarga, pekerjaan, maupun beban perkuliahan bagi mahasiswa—stres yang tidak dikelola dengan baik akan mengganggu sistem imun tubuh. Ketika imunitas menurun, mukosa mulut menjadi sangat rapuh, sehingga drg. Sulistiwati menekankan pentingnya manajemen kalbu atau pengelolaan hati sebagai benteng pertahanan utama agar tubuh tidak mudah terserang penyakit rongga mulut.
Tidak kalah sering, sariawan juga lahir dari trauma mekanik akibat kebiasaan harian yang keliru, seperti cara menyikat gigi yang salah. Banyak masyarakat beranggapan bahwa menyikat gigi dengan tekanan keras adalah satu-satunya cara untuk membersihkan sisa makanan, padahal hal tersebut justru memicu goresan tajam pada gusi dan dinding mulut. Penggunaan sikat gigi dengan bulu yang kasar serta membiarkan sikat gigi yang sama selama bertahun-tahun tanpa diganti akan mengubah alat pembersih tersebut menjadi sumber trauma mekanik yang merusak mukosa.
Trauma fisik lain yang sering diabaikan adalah trauma suhu, yang terjadi akibat perubahan temperatur secara mendadak di dalam mulut. Kebiasaan mengonsumsi makanan yang sangat panas lalu langsung dibilas dengan meminum air es yang dingin dapat merusak lapisan pelindung mulut pada orang-orang yang memiliki sensitivitas tinggi. Di samping itu, paparan zat kimia berbahaya dari makanan yang tinggi bahan pengawet, pewarna buatan, dan penyedap rasa juga berperan aktif dalam memicu iritasi kronis di rongga mulut.
Kondisi kesehatan mulut juga menjadi cermin dari kesehatan tubuh secara keseluruhan karena erat kaitannya dengan penyakit sistemik. Pasien yang menderita asam lambung tinggi (GERD), gangguan ginjal, penyakit autoimun seperti lupus, hingga penderita anemia dan HIV-AIDS umumnya memiliki keluhan sariawan yang parah dan berulang. Dehidrasi kronis akibat kurang minum air putih dalam jangka panjang juga memperparah kondisi ini, karena membuat produksi air liur menurun drastis, sehingga mulut kehilangan pelumas alami dan rentan terluka akibat gesekan saat berbicara atau bertilawah.
Menariknya, dalam sesi tanya jawab, drg. Sulistiwati mengonfirmasi kehebatan kayu siwak yang merupakan sunah Rasulullah SAW dari sudut pandang medis modern. Berdasarkan berbagai riset ilmiah dan jurnal kedokteran, kayu siwak terbukti memiliki kandungan florida dan kalsium alami yang sangat tinggi. Kandungan tersebut sudah lebih dari cukup untuk membersihkan rongga mulut, melindungi gusi, dan mencegah berbagai kerusakan gigi tanpa harus bergantung pada pasta gigi kimiawi, sehingga inovasi pasta gigi modern pun kini banyak yang mengadopsi ekstrak siwak.
Beliau juga meluruskan anggapan keliru di masyarakat mengenai estetika gigi, di mana gigi yang sehat sering kali diidentikkan dengan warna yang putih bersih. Faktanya, warna alami gigi manusia sangat dipengaruhi oleh faktor ras serta usia, di mana seiring bertambahnya usia, warna gigi secara alamiah akan cenderung menjadi lebih gelap. Bagi para pencinta kopi atau teh yang sering mengeluhkan perubahan warna gigi akibat penyerapan zat nikotin dan kafein, drg. Sulistiwati memberikan solusi praktis berupa pembiasaan berkumur dengan air hangat segera setelah mengonsumsi minuman tersebut agar sisa zat tidak menempel dan merusak estetika gigi.

Sebagai penutup, edukasi ini meluruskan pemahaman masyarakat bahwa indikator mulut yang sehat tidak diukur dari seberapa putih gigi seseorang, melainkan dari kebersihan gigi yang terbebas dari plak dan karang gigi, serta kondisi gusi yang prima. Melalui pemeriksaan rutin ke dokter gigi setidaknya satu hingga dua kali dalam setahun, kita dapat mendeteksi dini berbagai masalah, termasuk kebiasaan menggertakkan gigi (bruxism) saat tidur yang ternyata berakar dari masalah psikis atau trauma masa kecil. Dengan menjaga kesehatan rongga mulut, kita tidak hanya menjaga kesehatan tubuh, tetapi juga merawat kesempurnaan lisan dalam melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Sumber: “Ngaji Sehat” bersama drg. Sulistiwati Budi Utami dari RSUD Dr. Soetomo berlangsung di Masjid Al Akbar Surabaya pada Kamis, 14 Mei 2026.