Kenali Gejala Dini Tumor Otak: Waspada Sakit Kepala yang Makin “Nemen” dan Kejang Mendadak

dr. Johan Ardiansyah, spesialis Neurologi dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya
dr. Johan Ardiansyah, spesialis Neurologi dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Penyakit tumor, terutama yang menyerang otak, kerap dianggap sebagai momok yang menakutkan. Padahal, deteksi dini merupakan kunci utama untuk meningkatkan keberhasilan terapi. Hal ini menjadi pembahasan utama dalam kajian Ngaji Sehat Episode 16 yang diselenggarakan pada 20 November 2025 di Masjid Al Akbar Surabaya, dengan narasumber dr. Johan Ardiansyah, spesialis Neurologi dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Dalam paparannya, dr. Johan menyampaikan pentingnya masyarakat untuk mengenali tanda-tanda awal tumor otak dan kapan harus segera berkonsultasi ke dokter.

Tumor otak didefinisikan sebagai pertumbuhan sel yang tidak normal di dalam otak. Pertumbuhan ini bisa bersifat jinak maupun ganas. Lokasi otak yang berada di dalam tempurung kepala (tulang tengkorak) membuat volume di dalamnya sangat terbatas, sehingga setiap pertumbuhan abnormal akan menekan jaringan di sekitarnya. Tekanan inilah yang menimbulkan berbagai gejala dan, jika dibiarkan, dapat berujung pada kondisi fatal.

Salah satu gejala yang paling umum dan sering disalahpahami adalah sakit kepala. Menurut dr. Johan, tidak semua sakit kepala adalah gejala tumor, tetapi masyarakat perlu berhati-hati jika sakit kepala yang dialami semakin lama semakin berat (atau dalam bahasa Jawa disebut nemen) dan frekuensinya semakin sering. Jika kondisi ini tidak membaik setelah mengonsumsi obat nyeri biasa selama kurang lebih satu bulan, maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Dua tanda bahaya (red flags) lainnya adalah mual dan muntah yang terjadi tanpa sebab yang jelas, seperti tidak terlambat makan atau tidak sedang puasa, yang seringkali menyertai sakit kepala. Selain itu, kejang yang muncul mendadak pada usia dewasa, tanpa riwayat kejang sebelumnya (misalnya step saat kecil), juga harus diwaspadai sebagai gejala tumor otak.

Gejala yang mirip stroke juga bisa muncul, seperti kelemahan atau kesemutan pada salah satu sisi tubuh, serta gangguan bicara. Namun, dr. Johan membedakan bahwa gejala tumor otak terjadi secara perlahan, tidak mendadak seperti stroke. Gangguan keseimbangan, yang ditandai dengan sering jatuh ke satu sisi saat berjalan, juga menjadi perhatian khusus, terutama jika terjadi pada anak-anak.

Selain itu, indra penglihatan dan pendengaran juga bisa terpengaruh. Keluhan seperti penglihatan kabur, penglihatan dobel, atau hilangnya sebagian lapangan pandang (misalnya tidak bisa melihat objek di samping) dapat menjadi petunjuk adanya masalah di otak. Penurunan pendengaran atau telinga berdenging yang terjadi tanpa adanya infeksi telinga atau trauma, harus diperiksa secara serius karena bisa mengindikasikan gangguan pada saraf pendengaran.

Perubahan pada fungsi kognitif dan perilaku juga termasuk gejala yang tidak boleh diabaikan. Hal ini meliputi kesulitan mengingat atau sering lupa (lali-lalian) pada usia dewasa muda. Perubahan emosi, seperti menjadi lebih sensitif, mudah marah, atau ‘ngamuk’, dari karakter yang semula sabar, juga bisa menjadi tanda adanya ‘sesuatu’ di otak.

Maka, kapan waktu yang tepat untuk ke dokter? dr. Johan menegaskan agar gejala-gejala yang tidak biasa tersebut jangan ditunda-tunda. Deteksi dini sangat menentukan keberhasilan pengobatan. Untuk menegakkan diagnosis tumor otak, diperlukan alat bantu canggih seperti CT scan atau MRI yang merupakan pemeriksaan paling sensitif untuk melihat kondisi di dalam kepala.

Terkait penanganan, dr. Johan menjelaskan bahwa terapi tumor otak sebagian besar (hampir 95%) memerlukan operasi untuk mengangkat massa tumor. Setelah operasi, biasanya akan dilanjutkan dengan radioterapi. Sementara itu, kemoterapi tidak selalu menjadi opsi, tergantung pada jenis tumor yang diderita. Semakin kecil ukuran tumor yang ditemukan, penanganannya akan semakin mudah.

Aspek lain yang tidak kalah penting adalah kualitas hidup pasien. Anggota keluarga didorong untuk memberikan dukungan (support) yang kuat, sebab sebagian besar pasien dengan tumor cenderung mengalami depresi, menjadi diam, dan kehilangan gairah hidup. Dukungan emosional dari lingkungan sekitar sangat krusial untuk menjaga semangat hidup pasien.

Mengenai penyebab, faktor genetik memiliki peran, namun risikonya relatif kecil, sekitar 5-10%. Faktor risiko lain yang terbukti adalah paparan bahan radioaktif (radiation), misalnya pada pekerja radiologi. Meskipun belum ada penelitian yang terbukti, dr. Johan menyebut adanya hipotesa terkait gelombang radiomagnetik dari gadget dan gaya hidup tidak sehat, seperti kurang tidur dan stres, yang mungkin berhubungan dengan tren peningkatan kasus tumor otak pada usia produktif (30-50 tahun) belakangan ini.

Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk mengatur pola hidup sehat, waktu istirahat, dan pola makan. Jika merasakan gejala-gejala yang disebutkan—terutama sakit kepala yang makin berat, kejang, atau gangguan sensorik yang makin meningkat—dokter menyarankan batas waktu sekitar satu bulan untuk evaluasi. Segera periksakan diri jika keluhan tidak membaik, sebab deteksi dini membantu meningkatkan kemungkinan keberhasilan terapi.

Sumber: Ngaji Sehat Episode 16 yang diselengarakan oleh Masjid Al Akbar Surabaya dengan Tema “Tumor Otak : Kenali Gejala dan Penanganannya” oleh Djohan Ardiansyah, dr., Sp.N, Subsp.N-Onk(K) di Channel Youtube Masjid Al Akbar TV

E-Buletin