Kabarmasjid.id, Surabaya – Bulan suci Ramadhan selalu menjadi momentum bagi setiap Muslim untuk membasuh diri dari kebisingan dunia dan mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS) menangkap semangat ini dengan menghadirkan rangkaian program inovatif yang dirancang untuk memulihkan kondisi spiritual dan fisik para jemaah. Melalui pendekatan yang segar, masjid terbesar di Jawa Timur ini ingin menjadikan Ramadhan bukan sekadar ritual rutin, melainkan sebuah proses penyembuhan yang mendalam bagi umat.
Kajian spesial bertajuk “Ngaji Ngabuburit” ini dilaksanakan pada hari Kamis, 19 Februari 2026, bertepatan dengan 1 Ramadhan 1447 H, bertempat di Ruang Utama Masjid Nasional Al Akbar Surabaya. Hadir sebagai narasumber adalah Dr. K.H. Mohammad Sudjak, M.Ag., yang menjabat sebagai Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Al Akbar sekaligus Ketua DMI Provinsi Jawa Timur. Dalam paparannya yang dipandu oleh Bunda Cita, beliau mengupas tuntas filosofi di balik tema besar “Healing Ramadhan: Tenang Jiwa, Kuat Raga” yang menjadi ruh kegiatan masjid tahun ini.
Pada awal penyampaiannya, Kiai Sudjak menjelaskan bahwa istilah healing yang sering digunakan generasi muda untuk berwisata, memiliki makna yang lebih dalam di Masjid Al Akbar. Di sini, healing diartikan sebagai proses pemulihan, pengobatan, dan penyembuhan kembali kondisi mental, spiritual, serta fisik seseorang. Ramadhan dipandang sebagai waktu terbaik untuk “mengobati” jiwa yang mungkin sempat layu akibat beban hidup selama sebelas bulan sebelumnya.
Program unggulan pertama yang ditekankan adalah bidang Ibadah dan Dakwah, yang diawali dengan kegiatan Khatmil Qur’an One Day One Khatam. Program ini memungkinkan satu kelompok jemaah mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu hari, sehingga keberkahan wahyu Allah senantiasa mengalun di ruang masjid. Selain itu, dakwah dikemas secara interaktif melalui tausiah menjelang berbuka dan salat malam (Qiyamul Lail) pada sepuluh hari terakhir untuk menjemput keutamaan Lailatul Qadar.
Selanjutnya, Kiai Sudjak memaparkan aspek sosial yang menjadi pilar kedua kegiatan Ramadhan, yakni distribusi 1.000 paket takjil dan nasi kotak gratis setiap hari. Kegiatan ini tidak hanya sekadar memberi makan, tetapi merupakan bentuk implementasi hadis Nabi tentang keutamaan memberi buka puasa. Beliau mengajak jemaah untuk berpartisipasi dalam donasi ini sebagai sarana penghapus dosa dan upaya menjauhkan diri dari siksa api neraka.
Masjid Al Akbar juga menunjukkan sisi kreatifnya melalui pameran sejarah yang menampilkan transformasi masjid dari masa lalu hingga masa kini. Melalui program kreatif ini, jemaah diajak untuk mengenal lebih dekat cikal bakal berdirinya masjid yang diresmikan oleh Gus Dur pada tahun 2000 ini. Visualisasi sejarah ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa memiliki dan kebanggaan umat terhadap masjid nasional yang menjadi ikon kebanggaan masyarakat Jawa Timur.
Inovasi yang cukup unik tahun ini adalah fokus pada “Kuat Raga” melalui kegiatan fisik bagi para pengabdi masjid. Kiai Sudjak memperkenalkan Marbot Super League, sebuah turnamen sepak bola mini (Mini Soccer) antar marbot masjid se-Jawa Timur yang dilakukan setelah salat Tarawih. Kegiatan ini bertujuan untuk menjaga kesehatan fisik para pejuang masjid sekaligus mempererat tali silaturahmi melalui olahraga yang menggembirakan.
Dalam pengelolaan masjid, Kiai Sudjak menekankan pentingnya lima fungsi utama, dimulai dari Idarah atau manajemen administrasi yang profesional. Beliau menjelaskan bahwa kenyamanan jemaah saat beribadah didukung oleh tim sekretariat, humas, hingga petugas keamanan yang bekerja di balik layar. Dengan manajemen yang rapi, jemaah dapat menitipkan kendaraan dengan tenang sehingga kekhusyukan salat dapat tercapai secara maksimal.
Fungsi kedua adalah Imarah atau upaya memakmurkan masjid, di mana Masjid Al Akbar sangat gencar merangkul generasi milenial dan Gen-Z. Melalui organisasi Remas dan Genzi (Generasi Z Islami), masjid menghadirkan program Majelis Subuh Genzi (MSG) yang mengundang ribuan anak muda untuk salat Subuh berjamaah. Pendekatan ini terbukti efektif mengubah citra masjid menjadi tempat yang ramah dan menarik bagi anak muda untuk berekspresi secara positif.
Selain itu, terdapat fungsi Ijtima’iyah dan Riayah yang masing-masing berfokus pada pemberdayaan sosial ekonomi dan pemeliharaan fasilitas. Masjid Al Akbar berkomitmen menjadi pusat solusi bagi umat dengan memberikan pelatihan kewirausahaan digital serta menjaga fasilitas fisik seperti toilet dan ruang wudu agar tetap bersih sekelas hotel berbintang. Ketersediaan fasilitas yang nyaman dan gratis ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para peziarah dari berbagai daerah.
Kiai Sudjak juga menyampaikan kabar gembira mengenai rencana buka puasa besar-besaran bersama Raja Salman dan Gubernur Jawa Timur, Ibu Khofifah Indar Parawansa. Agenda yang direncanakan melibatkan lebih dari 10.000 jemaah ini menjadi simbol persaudaraan Islam yang luas dan kolaborasi internasional dalam memuliakan bulan Ramadhan. Beliau pun mengajak jemaah mendoakan para pemimpin agar senantiasa diberikan kekuatan dalam melayani masyarakat Jawa Timur.
Sebagai penutup kajian, Kiai Sudjak mengingatkan bahwa segala fasilitas dan kemegahan masjid hanyalah sarana untuk mencapai rida Allah SWT. Beliau menekankan bahwa keikhlasan dalam beribadah dan bersedekah, sekecil apa pun itu, akan dicatat sebagai amal jariyah yang tak terputus. Kajian diakhiri dengan doa bersama yang khusyuk, memohon agar seluruh ibadah puasa dan amal kebaikan jemaah diterima serta menjadi wasilah untuk mendapatkan ketenangan jiwa sejati.
Sumber: “Ngaji Ngabuburit – Healing Ramadhan 1447 H” Masjid Nasional Al Akbar Surabaya Bersama Dr. K.H. Mohammad Sudjak, M.Ag.,