Tiga Pilar Akhlak Mulia yang Bikin Hidup Lebih Tenang dan Dicintai Sesama

Ustadz H. M. Ikrom Rijal, Lc., MA.
Ustadz H. M. Ikrom Rijal, Lc., MA.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Umat Islam diajak untuk terus memupuk ketakwaan sekaligus memperbagus akhlak sebagai pilar utama kehidupan beragama. Pesan mulia ini disampaikan oleh khatib Ustadz H. M. Ikrom Rijal, Lc., MA. dalam khutbah Jumat yang berlangsung di Masjid As Sakinah Pantai Mentari, Surabaya, pada Jumat, 4 September 2026 (22 Rabiul Awal 1448 H).

Kehadiran jemaah dalam menunaikan ibadah Jumat merupakan nikmat dan taufik besar dari Allah SWT yang patut disyukuri. Memenuhi panggilan ibadah ini menjadi bukti nyata bahwa seorang hamba masih melangkah di jalan keimanan yang diridhai-Nya. Oleh karena itu, konsistensi atau istikamah hingga akhir hayat menjadi doa dan harapan yang terus dipanjatkan.

Khatib menegaskan bahwa ketakwaan tidak boleh berhenti pada konsep verbal belaka, melainkan harus diwujudkan dalam tiap dimensi profesi dan aktivitas harian. Seorang pengusaha, pendidik, maupun elemen masyarakat lainnya dituntut untuk senantiasa terikat pada aturan-aturan Allah. Evaluasi diri atau muhasabah menjadi ruang penting untuk mengukur sejauh mana perbaikan kualitas ibadah telah dicapai.

Seiring bertambahnya usia, kualitas penghambaan seorang muslim sejatinya harus terus menunjukkan peningkatan. Sebagaimana pesan Rasulullah SAW, sebaik-baik manusia adalah mereka yang diberikan umur panjang dan diiringi dengan kualitas amal perbuatan yang semakin membaik. Pertumbuhan usia idealnya berbanding lurus dengan kedewasaan sikap, kebersihan hati, dan keagungan karakter.

Di dalam khutbahnya, Ustadz Ikrom Rijal mengutip hadis saat Rasulullah SAW ditanya mengenai perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga. Nabi SAW menegaskan bahwa kunci utama penghuni surga terletak pada dua hal, yaitu ketakwaan kepada Allah (taqwallah) dan keluhuran akhlak (husnul khuluk). Kedua hal ini saling melengkapi antara dimensi hubungan dengan Sang Pencipta dan sesama makhluk.

Para ulama menjelaskan bahwa ketakwaan tercermin dari semangat hamba dalam mengagungkan ritual ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah secara konsisten. Sementara itu, husnul khuluk memancar dari adab, kesantunan, serta kepribadian mulia yang dirasakan manfaatnya oleh lingkungan sekitar. Bahkan, akhlak yang baik mampu mengantarkan seseorang meraih derajat tinggi di akhirat kelak.

Secara konseptual, akhlak didefinisikan sebagai karakter atau sifat yang tertanam kuat dalam jiwa seseorang hingga melahirkan tindakan secara refleks. Apabila jiwa dialiri nilai-nilai kebaikan, maka perilaku yang tampak di permukaan secara otomatis adalah kebaikan. Sebaliknya, keburukan jiwa akan memanifestasikan tindakan yang merusak dan merugikan orang lain.

Guna membangun keagungan karakter tersebut, khatib menguraikan tiga pilar utama akhlak mulia yang wajib dilatih dalam kehidupan sehari-hari. Pilar pertama adalah kafful aza, yaitu menahan dan mencegah diri agar tidak pernah mengganggu, menyakiti, atau membahayakan orang lain. Niat untuk tidak merugikan sesama harus tertanam kuat sejak seseorang melangkahkan kaki keluar dari rumahnya.

Pilar kedua adalah tahammulul aza, yaitu kemampuan dan ketahanan mental dalam bersabar menghadapi gangguan dari orang lain. Meskipun telah berniat baik, seorang muslim tidak selalu mendapat perlakuan manis dari sekelilingnya. Pada titik inilah ketangguhan akhlak diuji untuk tetap mengendalikan lisan dan perbuatan agar tidak terprovokasi melanggar batasan agama.

Pilar ketiga adalah badlun nada, yakni kerelaan hati untuk senantiasa menyebarkan kebaikan, pertolongan, dan manfaat kepada sesama. Seorang muslim yang memiliki jiwa ini akan memandang dunia dengan kasih sayang serta dorongan kuat untuk membantu. Kehadirannya menjadi penyejuk dan pembawa kebaikan bagi lingkungan masyarakat di mana pun ia berada.

Ketiga pilar tersebut bermuara pada acuan tertinggi umat Islam, yakni keteladanan akhlak Nabi Muhammad SAW yang dipuji langsung oleh Allah SWT di dalam Al-Qur’an. Rasulullah SAW diutus ke dunia dengan misi utama untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia. Karena itu, tolok ukur kebaikan sikap seorang muslim akan senantiasa mengacu pada sunnah dan kepribadian beliau.

Mengakhiri khutbahnya, khatib mengingatkan pesan Rasulullah SAW bahwa kedekatan majelis seorang hamba dengan Nabi pada hari kiamat ditentukan oleh sejauh mana kebaikan akhlaknya. Langkah paling awal untuk membenahi akhlak dapat dimulai dari menjaga tutur kata dan lisan. Dengan senantiasa melatih diri, memohon pertolongan Allah, serta menjaga keharmonisan sikap, seorang hamba diharapkan dapat meraih akhir kehidupan yang husnul khatimah.

Sumber: Khutbah Jumat yang disampaikan oleh khatib di Masjid As-Sakinah Pantai Mentari, Surabaya, pada 4 September 2026

E-Buletin