Kunci Kedamaian Rumah Tangga dan Surga Lewat Amalan Salam

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Khotbah Jumat merupakan salah satu sarana spiritual penting bagi umat Islam untuk memperbarui iman dan meneguhkan kembali komitmen keagamaan. Di tengah dinamika kehidupan masyarakat yang makin kompleks, pesan-pesan bernuansa keakraban dan kasih sayang menjadi penawar yang sangat dibutuhkan. Dalam suasana kekhusyukan ibadah di Masjid Nur Syamsiah Surabaya pada Jumat, 28 Juni 2026, khatib Ustadz Muhammad Shaleh Drehem, Lc. menyampaikan pesan-pesan mendalam tentang pentingnya menjaga persaudaraan dan menyebarkan kedamaian.

Mengawali khotbahnya di pertengahan bulan Rabiul Awal, khatib mengajak seluruh jamaah untuk merenungkan keagungan Rasulullah Muhammad SAW. Beliau menegaskan bahwa memuliakan Nabi adalah perintah langsung dari Allah SWT yang senantiasa diiringi selawat para malaikat. Oleh karena itu, rasa cinta kepada Nabi hendaknya tidak sekadar berhenti pada sanjungan lisan, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata yang merefleksikan ajaran kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam uraiannya, Ustadz Muhammad Shaleh Drehem menekankan bahwa surga adalah dambaan setiap orang beriman, tetapi jalan menuju ke sana membutuhkan pondasi akidah yang kokoh dan keimanan yang murni. Keimanan bukan hanya sebatas pengakuan bahwa Allah adalah Sang Pencipta dan Pengatur rezeki, melainkan juga kesediaan penuh untuk menjadi hamba yang taat. Sikap menyerahkan diri secara total kepada aturan Allah menjadi syarat utama agar seseorang dapat menggapai keridaan-Nya.

Namun, khatib menggarisbawahi satu hal penting yang sering kali terabaikan oleh banyak orang beriman, yaitu hubungan antara iman dan rasa kasih sayang antarsesama. Mengutip hadis Nabi SAW, beliau menjelaskan bahwa seseorang tidak akan merasakan manisnya iman yang sempurna sebelum ia mampu saling mencintai dengan saudaranya. Cinta antarsesama inilah yang menjadi perekat utama dalam membangun masyarakat yang harmonis dan penuh berkah.

Khatib juga mengingatkan bahwa keberadaan konflik atau gesekan sosial antarsesama dapat merusak kualitas ibadah seseorang secara perlahan. Ketika hati dipenuhi kebencian atau ganjalan terhadap saudara sendiri, kekhusyukan salat dan keheningan iman akan dengan mudah terganggu. Oleh sebab itu, orang yang benar-benar beriman seharusnya tidak memelihara musuh maupun rivalitas yang merusak persaudaraan Islam.

Sebagai solusi praktis untuk memupuk rasa cinta dan mengikis perselisihan, khatib mengajarkan amalan yang sangat sederhana namun berdampak besar, yakni menebarkan salam. Mengucapkan salam bukan sekadar rutinitas formalitas atau kebiasaan tanpa makna, melainkan sebuah doa tulus yang memohon keselamatan, rahmat, dan keberkahan dari Allah SWT untuk orang lain.

Salam yang diajarkan dalam Islam berakar dari salah satu nama agung Allah, yaitu As-Salam, yang berarti Maha Mendamaikan dan Maha Memberi Keselamatan. Ketika seorang muslim mengucapkan salam kepada saudaranya, ia pada hakikatnya sedang menebarkan energi kedamaian dan mendoakan kebaikan. Amalan sederhana ini menjadi jembatan yang menghubungkan hati orang-orang yang beriman.

Khatib juga menyoroti keutamaan berjabat tangan yang menyertai ucapan salam secara tulus. Ketika dua orang muslim bertemu, saling menyapa dengan hangat, dan berjabat tangan penuh kasih sayang, maka dosa-dosa di antara keduanya akan berjatuhan. Momen sederhana ini menjadi bukti nyata bagaimana ajaran Islam sangat memprioritaskan keharmonisan hubungan antarmanusia.

Penerapan ajaran salam ini hendaknya dimulai dari lingkup terdekat, yakni di dalam rumah tangga masing-masing. Khatib mengajak para kepala keluarga untuk senantiasa membawa kedamaian saat melangkahkan kaki memasuki rumah. Beban pekerjaan, rasa lelah, maupun persoalan di luar hendaknya tidak ditumpahkan kepada anak dan istri di rumah.

Menyapa anggota keluarga dengan salam dan senyuman hangat saat masuk ke rumah merupakan kunci pembuka keberkahan hidup. Mengutip hadis Rasulullah SAW, khatib menjelaskan bahwa orang yang biasa menyebarkan salam di rumahnya akan berada dalam jaminan Allah SWT. Ia tidak hanya dicukupi rezekinya di dunia, tetapi juga dijanjikan jalan kemudahan menuju surga kelak di akhirat.

Dengan menjadikan rumah sebagai tempat yang penuh kedamaian, ungkapan “rumahku adalah surgaku” dapat benar-benar terwujud dalam kehidupan nyata. Suasana hangat di dalam keluarga akan melahirkan generasi yang memiliki kelembutan hati dan keteguhan iman, sehingga mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat sekitar.

Sumber: Khutbah Jumat Ustadz Muhammad Shaleh Drehem, Lc. di Masjid Nur Syamsiah pada 28 Agustus 2026

E-Buletin