Kabarmasjid.id, Surabaya – Dinamika kehidupan modern yang serba cepat sering kali membuat masyarakat larut dalam riuk-pikuk keduniaan. Di tengah godaan hiburan digital dan kepungan agenda pragmatis, ruang-ruang spiritual seperti ibadah shalat Jumat sejatinya menjadi oase untuk sejenak berhenti, menata kembali prioritas hidup, serta mengasah kepekaan nurani terhadap realitas sosial di sekeliling kita.
Momen refleksi tersebut mengemuka dalam ibadah Shalat Jumat yang berlangsung di Masjid Taqwa Surabaya pada Jumat, 21 Agustus 2026. Bertindak sebagai khatib dan imam, Ustadz Mustofa Muntasam menyampaikan pesan khutbah mendalam yang mengajak jamaah membedah realitas serta tantangan mendasar yang sedang dihadapi oleh umat Islam saat ini.
Mengawali khutbahnya, Ustadz Mustofa Muntasam mengutip kembali kewaspadaan dan pesan historis dari pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Beliau mengingatkan bahwa meskipun ajaran Islam tidak akan pernah musnah dari muka bumi, keberadaan dan kejayaan Islam di bumi Indonesia bisa saja meredup jika para pemeluknya kehilangan keimanan, kesadaran, serta kepedulian terhadap tatanan berbangsa.
Kekhawatiran tersebut bukanlah tanpa dasar jika kita menengok lembaran sejarah. Peradaban Islam tercatat pernah mencapai puncak keemasan hingga menguasai tiga perempat dunia, mulai dari era Rasulullah SAW, Khilafah Umayyah, Abbasiyah, hingga kejayaan 800 tahun di Andalusia (Spanyol) serta pembebasan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al-Fatih.
Namun, sejarah juga memberi pelajaran pahit tentang bagaimana benteng peradaban yang begitu megah bisa runtuh perlahan. Keruntuhan kekuasaan Islam di Spanyol yang berujung pada hilangnya pemukiman dan tempat ibadah muslim menjadi bukti nyata bahwa kejayaan angka dan wilayah bisa sirna seketika ketika ikatan keimanan dan kepemimpinan umat mulai rapuh dari dalam.
Realitas sejarah ini sangat relevan untuk meneropong kondisi kuantitas umat saat ini. Persentase populasi yang besar tidak secara otomatis berbanding lurus dengan kualitas pengaruh dan ketahanan nilai sosial. Tanpa arah dan komitmen moral yang kokoh, jumlah mayoritas rentan terjebak dalam disorientasi sosial.
Kondisi demikian persis seperti yang pernah diwanti-wanti oleh Rasulullah SAW dalam hadisnya mengenai kondisi umat di akhir zaman. Beliau menggambarkan situasi di mana umat Islam berjumlah sangat banyak, namun ibarat buih di lautan (ghutsa’an ka ghutsa’is sail) yang mudah terombang-ambing tanpa arah dan kehilangan kewibawaannya di mata peradaban lain.
Penyebab utama dari timbulnya fenomena “buih” tersebut adalah terjangkitnya penyakit wahn, yakni rasa cinta dunia yang berlebihan (hubbud dunya) serta rasa takut akan kematian (karahiyatul maut). Penyakit mental dan spiritual inilah yang membuat masyarakat mudah terbuai oleh hal-hal yang bersifat konsumtif dan seremonial semata.
Khatib juga menyoroti bagaimana pergeseran nilai terjadi di tengah masyarakat modern, di mana ruang-ruang publik dan media sosial kerap dipenuhi oleh hura-hura serta selebrasi keduniaan. Sementara itu, kegiatan yang berorientasi pada penguatan keilmuan, ibadah, dan pembinaan karakter sering kali sepi dari perhatian publik.
Memasuki khutbah kedua, khatib menegaskan pentingnya kewaspadaan kolektif agar tidak meninggalkan generasi penerus yang lemah. Merujuk pada petunjuk Al-Qur’an dalam Surah An-Nisa ayat 9, umat diingatkan untuk merasa khawatir apabila meninggalkan generasi yang lemah akidah, lemah intelektual, lemah ekonomi, maupun lemah dalam ukhuwah (persaudaraan).

Penyebab mendasar dari melemahnya suatu masyarakat kerap kali berakar dari para pemimpin yang terjebak dalam perebutan kepentingan pragmatis dan mengabaikan pembinaan moral warga. Ketika nilai-nilai kebenaran tidak lagi dijadikan pijakan utama dalam mengambil kebijakan, perpecahan dan adu domba di tingkat akar rumput menjadi ancaman nyata yang membahayakan masa depan.
Oleh karena itu, khutbah Jumat tersebut ditutup dengan ajakan untuk membekali generasi mendatang dengan tuntunan yang benar dan bermakna (qaulan sadida). Hanya dengan kembali pada ketaatan yang tulus, memperkuat pendidikan karakter, serta menjaga persatuan di atas nilai-nilai integritas, masyarakat dapat meraih keberkahan dan kejayaan yang sejati.
Sumber: Khutbah Jum’at Ustadz Mustofa Muntasam di Masjid Taqwa Surabaya pada 21 Agustus 2026