Kabarmasjid.id, Surabaya – Di tengah riuk pikuk aktivitas kampus yang terus berpacu dengan dinamika zaman, keheningan majelis ilmu usai salat Subuh senantiasa menawarkan ruang perenungan yang menyejukkan jiwa. Semangat memperdalam spiritualitas ini terekam jelas dalam kajian rutin Ngaji Bakda Shubuh yang diselenggarakan di Masjid Manarul Ilmi Kompleks Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada Kamis 6 Agutus 2026, menghadirkan pemateri Ustadz M. Ali Misbahul Munir yang mengupas tuntas bab keutamaan menangis (Fadlul Buka’) dari kitab klasik Riyadhus Shalihin karya Al-Imam an-Nawawi.
Mengawali uraiannya, Ustadz Ali Misbahul Munir menegaskan keindahan intrinsik dari sistematika penulisan kitab Riyadhus Shalihin. Imam an-Nawawi selalu merajut setiap bab dengan menyandingkan landasan ayat Al-Qur’an, memperkuatnya melalui hadis-hadis sahih Nabi, serta memungkasnya dengan penuturan kisah otentik para teladan ulama dan sahabat, yang kali ini menyoroti keteladanan sahabat Abu Bakar As-Siddiq r.a..
Dalam pemaparannya, Ustadz Ali mengangkat sebuah riwayat monumental dari Ibnu Umar r.a. yang mengisahkan detik-detik saat sakit Rasulullah SAW semakin berat. Beliau menggarisbawahi pesan moral penting bahwa ujian sakit bukan tanda dibenci Allah, sebab sosok manusia terbaik mulia di muka bumi pun tidak luput dari ujian ketahanan fisik.
Peristiwa krusial terjadi ketika Rasulullah SAW menunjuk sahabat Abu Bakar As-Siddiq r.a. untuk menggantikan posisi beliau memimpin salat jamaah bagi kaum muslimin. Penunjukan langsung ini menegaskan betapa tingginya kedudukan moral dan spiritual Abu Bakar di mata Rasulullah SAW di tengah suasana genting umat saat itu.
Namun, Ibunda Aisyah r.a. sempat menyampaikan kekhawatirannya kepada Rasulullah SAW mengenai kondisi sang ayah. Aisyah r.a. menggambarkan Abu Bakar sebagai sosok yang memiliki kelembutan hati luar biasa (rajulun raqiq), yang kerap tenggelam dalam tangisan haru tiap kali melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an hingga dikhawatirkan suaranya tak terdengar oleh jemaah.
Kendati demikian, Rasulullah SAW tetap teguh pada keputusannya meminta Abu Bakar r.a. maju menjadi imam. Ustadz Ali menjelaskan bahwa ketetapan Nabi ini menjadi bukti legalitas syariat bahwa menangis karena kedalaman iman, ketakutan yang suci, dan penghayatan makna Al-Qur’an dalam salat merupakan perbuatan yang terpuji dan sangat dicintai.
Lebih jauh, Ustadz Ali membedah aspek psikologis keimanan sahabat Abu Bakar r.a.. Tangisan Abu Bakar bukanlah ekspresi cengeng atau emosional belaka, melainkan cerminan dari kedalaman pemahaman (tafakkur) dan evaluasi diri yang jujur saat berhadapan langsung dengan keagungan kalam Ilahi.
Mengutip Surah Al-Anfal ayat 2, kajian ini mengingatkan kembali ciri mukmin sejati yang hatinya bergetar saat nama Allah disebut serta bertambah imannya ketika ayat-ayat-Nya dibacakan. Kelembutan hati inilah yang membedakan kesadaran hamba yang tulus (Abdullah) dengan sekadar pencari kedudukan duniawi.
Di samping itu, narasumber juga memaparkan deretan fakta historis sahabat Abu Bakar r.a., mulai dari kesetiannya menemani hijrah Nabi, ketokohannya memelopori kodifikasi Al-Qur’an, hingga fakta bahwa beliau menuntaskan hafalan Al-Qur’an selama 23 tahun. Durasi hafalan ini mengajarkan bahwa tolok ukur kemuliaan bukanlah adu cepat menghafal, melainkan sejauh mana ayat tersebut diresapi dan diwujudkan dalam tindakan sehari-hari.
Satu penekanan relevan yang dinukil dari keteladanan Abu Bakar r.a. adalah benteng mental dalam menghadapi sanjungan publik. Ustadz Ali mengingatkan bahaya penyakit hati dan kerapuhan mental yang kerap melanda seseorang akibat tenggelam dalam pujian manusia tanpa memiliki kesiapan spiritual.

Sebagai penutup perenungan, Ustadz Ali mengajak seluruh jemaah untuk mempraktikkan dan menghafal doa perlindungan yang diajarkan Abu Bakar r.a. sewaktu menerima pujian. Doa tersebut berbunyi permohonan agar tidak dihukum atas apa yang dikatakan orang lain, diampuni atas keburukan yang tidak diketahui publik, serta dijadikan pribadi yang lebih baik dari persangkaan manusia.
Melalui majelis Ngaji Bakda Shubuh ini, pesan kelembutan hati dan keteguhan iman Abu Bakar As-Siddiq r.a. tidak hanya menjadi narasi sejarah masa lalu, melainkan kompas moral yang sangat krusial bagi masyarakat modern agar tetap mawas diri di tengah godaan popularitas dan ujian zaman.
Sumber: Ngaji Bakda Shubuh bersama Ustadz M. Ali Misbahul Munir yang menelaah Kitab Riyadhus Shalihin di Masjid Manarul Ilmi ITS Surabaya pada Kamis, 6 Agustus 2026