Krisis Akhlak di Ruang Digital dan Pentingnya Meneladani Kelembutan Dakwah Nabi

Ustadz Gemma Ilhamy, M.Pd.I.
Ustadz Gemma Ilhamy, M.Pd.I.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Di tengah arus pesatnya perkembangan media sosial yang makin dipenuhi konten acak, batas-batas etika dan kesantunan kerap kali terabaikan dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai fenomena normalisasi perilaku kurang pantas hingga hilangnya rasa saling menghargai di ruang publik digital menjadi cermin nyata betapa krisis akhlak makin mengintai generasi muda maupun keluarga muslim modern. Untuk merespons dinamika tersebut, penting bagi umat Islam untuk kembali menyelami mutiara ajaran Nabi Muhammad SAW tentang pentingnya keluhuran budi pekerti sebagai fondasi utama beragama.

Pesan-pesan moral dan keagamaan tersebut mengemuka secara mendalam dalam kegiatan kajian rutin bertajuk “Sebaik-baik Kalian yang Terbaik Akhlaknya (Wasiyah Ash-Shugroh)” yang disampaikan oleh Ustadz Gemma Ilhamy, M.Pd.I. Acara spiritual ini diselenggarakan pada Kamis malam, 30 Juli 2026, berlokasi di Masjid Syafi’i Surabaya dan disiarkan secara langsung melalui kanal resmi Masjid Syafi’i Surabaya Chanel.

Dalam paparan pertamanya, Ustadz Gemma memberikan sorotan tajam terhadap fenomena konten media sosial saat ini. Banyak unggahan video yang menampilkan dinamika hubungan suami istri dengan cara tidak mendidik, seperti perilaku seorang istri yang menendang atau melempar suaminya demi sebatas hiburan maupun kejaran tayangan. Beliau menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk normalisasi yang keliru dan melanggar batas syariat, karena dapat merusak kewibawaan suami serta mengikis rasa hormat dalam hubungan rumah tangga.

Sebagai benteng pertahanan dari dampak negatif fenomena digital tersebut, umat Islam diajak untuk membentengi diri, keluarga, dan generasi mendatang dari tontonan yang merusak moral. Langkah paling mendasar yang harus ditempuh adalah dengan konsisten memperbaiki etika dan adab sehari-hari. Ustadz Gemma menegaskan bahwa indikator utama kebaikan seorang muslim dalam pandangan Nabi Muhammad SAW terletak pada sejauh mana ia mampu menjaga dan memperindah akhlaknya.

Merujuk pada hadis sahih riwayat Imam Bukhari dari sahabat Abdullah bin Mas’ud RA, Rasulullah SAW pernah menegaskan bahwa manusia yang paling beliau cintai adalah orang yang paling baik akhlaknya. Ustadz Gemma menjelaskan bahwa untuk mendapatkan cinta dari Nabi SAW, umat tidak dituntut melakukan hal-hal yang rumit atau aneh, melainkan cukup dengan menghiasi diri lewat tutur kata yang jujur, menjauhi dusta, serta berbuat baik kepada orang tua, anak, tetangga, hingga rekan bisnis.

Keutamaan bagi pemilik akhlak terpuji tidak berhenti pada limpahan cinta Rasulullah SAW semata, melainkan juga berlanjut hingga kehidupan akhirat. Dalam riwayat hadis lainnya disebutkan bahwa orang yang berakhlak mulia akan memiliki kedudukan atau tempat duduk yang paling dekat dengan Nabi SAW pada hari kiamat. Para ulama menafsirkan bahwa dekatnya tempat duduk tersebut menjadi isyarat kuat bahwa kediaman mereka di dalam surga kelak akan berdampingan langsung dengan Rasulullah SAW.

Kesempatan emas untuk menjadi “tetangga” Rasulullah SAW di akhirat merupakan sebuah peluang mulia yang terbuka lebar bagi setiap insan mukmin tanpa terkecuali. Meskipun di dunia manusia terpisah oleh jarak zaman dan tidak bisa bertetangga secara fisik dengan Nabi SAW, semua orang—termasuk masyarakat biasa—memiliki peluang yang sama di akhirat. Kuncinya sangat sederhana, yaitu kemauan yang kuat untuk melatih diri dan konsisten dalam merawat akhlak terpuji.

Lebih jauh, Ustadz Gemma memaparkan kutipan nasihat para ulama yang menyatakan bahwa siapa saja yang melebihi orang lain dalam hal akhlak, pada hakikatnya ia telah melampauinya dalam urusan agama. Hal ini disebabkan karena akhlak merupakan cerminan utama dari kualitas pemahaman keagamaan seseorang. Keluhuran budi pekerti ini harus diwujudkan secara menyeluruh dalam berbagai peran kehidupan, seperti kejujuran pedagang, keadilan bos yang tidak menunda hak gajinya karyawan, hingga adab menundukkan pandangan saat berada di jalan raya.

Sejarah mencatat bahwa pesatnya perkembangan dakwah Islam pada masa awal dipengaruhi secara dominan oleh keagungan akhlak yang dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau membagikan kisah tentang seorang pimpinan kaum kafir yang ditawan dan diikat di tiang Masjid Nabawi. Kendati berstatus sebagai tawanan, Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat untuk menyuguhkan makanan dan minuman terbaik. Sentuhan kelembutan dan kesantunan tanpa paksaan tersebut pada akhirnya meluluhkan hati sang tawanan hingga bersyahadat masuk Islam.

Dalam aspek keutamaan ibadah, akhlak mulia memiliki kedudukan istimewa yang amat dahsyat di sisi Allah SWT. Mengutip hadis riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzi, seorang mukmin yang konsisten memelihara kebaikan akhlaknya mampu meraih derajat karomah orang-orang yang rajin melaksanakan salat malam (qiyamullail) serta rutin menjalankan puasa sunah. Hal ini membuktikan betapa bernilainya adab dan etika dalam menaikkan kualitas spiritual seorang hamba.

Ustadz Gemma juga menegaskan pentingnya kelembutan sikap dalam berinteraksi serta menyampaikan kebenaran. Kelembutan bukan berarti melunakkan prinsip atau menghilangkan ketegasan, melainkan sebuah seni bersikap agar kebenaran dapat diterima dengan lapang dada. Beliau meneladani kisah bagaimana Rasulullah SAW mengajarkan kelembutan kepada Ummul Mukminin Aisyah RA saat menghadapi provokasi, serta kisah seorang ayah yang menasihati anaknya agar tidak meninggalkan salat demi permainan gim dengan cara yang tegas namun tetap penuh kasih.

Mengakhiri kajiannya, Ustadz Gemma mengajak seluruh jemaah untuk mulai mempraktikkan perbaikan etika dari lingkaran terdekat, seperti keluarga, teman sejawat, hingga lingkungan tempat kerja. Mengubah karakter memang membutuhkan proses belajar dan ketabahan, namun hal itu sangat mungkin dicapai jika diimbangi latihan serta doa. Beliau menutup dengan memanjatkan doa yang diajarkan Rasulullah SAW: “Allahumma kama ahsanta khalqi fa ahsin khuluqi” (Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperindah fisikku, maka perindahlah pula akhlakku).

Sumber: Kajian keagamaan bertajuk “Sebaik-baik Kalian yang Terbaik Akhlaknya (Wasiyah Ash-Shugroh)” yang disampaikan oleh Ustadz Gemma Ilhamy, M.Pd.I di Masjid Syafi’i Surabaya pada Kamis, 30 Juli 2026

E-Buletin