Menata Niat Menuntut Ilmu: Kamu Masuk Level Mana Menurut Imam Al-Ghazali?

KH. Ahmad Mujab Muthohar (Gus Mujab)
KH. Ahmad Mujab Muthohar (Gus Mujab)

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Menuntut ilmu merupakan kewajiban fundamental bagi setiap muslim, namun orientasi serta motivasi di balik proses pencarian tersebut sering kali menjadi pembeda utama yang menentukan nilai spiritual di hadapan Allah SWT. Kajian rutin pengajian kitab yang disampaikan oleh KH. Ahmad Mujab Muthohar (Gus Mujab) dalam kajian rutin Kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghazali yang berlangsung pada Senin malam 27 Juli 2026 Masjid Roudlotul Musyawarah (Kemayoran) Surabaya.

Dalam pemaparannya, Gus Mujab menguraikan pemikiran Imam Al-Ghazali mengenai klasifikasi atau tingkatan (leveling) para pencari ilmu. Pembagian ini bukan diukur dari seberapa tinggi gelar akademik atau seberapa luas hafalan seseorang, melainkan dari dorongan batin dan tujuan utama yang bersemayam di dalam hati ketika menuntut ilmu.

Kelompok pertama merupakan tingkatan tertinggi, yakni mereka yang menuntut ilmu murni sebagai bekal menuju akhirat. Golongan ini tidak memiliki motif duniawi sedikit pun, seperti mencari pekerjaan, menumpuk harta, atau mengejar jabatan. Seluruh proses belajar yang mereka jalani diniatkan semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT dan mengabdi kepada masyarakat.

Orang-orang dalam kelompok pertama ini dikategorikan oleh Imam Al-Ghazali sebagai kelompok yang beruntung (minal fa’izin). Keikhlasan yang tertanam dalam hati membuat ilmu yang mereka miliki menjadi cahaya yang membimbing setiap tindakan, sehingga mereka terhindar dari godaan menyalahgunakan ilmu untuk kepentingan pribadi.

Adapun kelompok kedua mencakup orang-orang yang menuntut ilmu untuk mendukung keberlangsungan hidup dan memenuhi kebutuhan duniawi. Melalui ilmunya, mereka memperoleh mata pencaharian, kedudukan, atau penghormatan dari sesama manusia. Kelompok ini menjadi gambaran umum dari realitas penuntut ilmu masa kini.

Hal yang membedakan kelompok kedua ini adalah hadirnya kesadaran batin. Mereka sejatinya menyadari bahwa niat mencari ilmu untuk tujuan duniawi adalah hal yang kurang tepat dan bernilai rendah. Ada penyesalan dan rasa bersalah dalam hati mereka karena belum sanggup menata niat sepenuhnya untuk akhirat.

Nasib kelompok kedua ini berada di persimpangan jalan dan penuh dengan kekhawatiran. Jika mereka mendapat taufik untuk bertaubat sebelum ajalnya tiba, maka mereka akan digolongkan ke dalam kelompok orang yang beruntung. Namun, jika ajal menjemput sebelum sempat memperbaiki niat, dikhawatirkan mereka akan mengakhiri hidup dalam keadaan buruk (su’ul khatimah).

Kelompok ketiga adalah golongan yang paling berbahaya dan mengkhawatirkan, yaitu mereka yang telah dikuasai oleh godaan setan. Orang-orang dalam kelompok ini menjadikan ilmu semata-mata sebagai alat untuk menumpuk kekayaan, bersaing dalam kemewahan, membanggakan jabatan, serta memamerkan banyaknya pengikut.

Secara kasat mata, golongan ketiga ini kerap menampilkan simbol-simbol keilmuan dan kesalehan. Mereka mengenakan pakaian ala ulama dan bertutur kata dengan bahasa agama, namun lahir dan batinnya murni dikejar oleh ambisi duniawi. Imam Al-Ghazali menyebut mereka sebagai orang-orang yang binasa, bodoh, dan tertipu oleh prasangka mereka sendiri.

Gus Mujab menekankan bahwa potret kelompok ketiga ini menjadi peringatan keras bagi para pemilik ilmu dan tokoh masyarakat. Ketika ilmu agama atau keahlian akademik dijadikan komoditas untuk meraih popularitas dan keuntungan materi, maka fungsi ilmu sebagai pencerah dan pembebas akan sirna.

Di samping mengulas bab penataan niat, kajian tersebut juga merefleksikan pentingnya pengembangan ilmu pengetahuan bagi kemajuan peradaban. Gus Mujab meneladani masa kejayaan Islam pada era Abbasiyah di Baghdad, di mana lembaga seperti Bait Al-Hikmah menjadi pusat penterjemahan dan pengembangan ilmu dari berbagai bangsa demi memajukan umat.

Sebagai penutup, pengajaran dari Kitab Bidayatul Hidayah ini mengajak setiap penuntut ilmu untuk terus mengintrospeksi diri dan meluruskan niat. Ilmu tidak boleh sekadar menjadi sarana meraih status sosial, melainkan harus diabdikan sebagai jalan pengabdian, perbaikan peradaban, dan bekal hakiki menuju kehidupan akhirat.

Sumber: Kitab Bidayatul Hidayah yang disampaikan oleh KH. Ahmad Mujab Muthohar pada Senin malam, 27 Juli 2026, di Masjid Kemayoran Surabaya.

E-Buletin