Sering Nyeri Punggung? Ternyata Gerakan Shalat yang Sempurna Bisa Jadi Obatnya!

Ustadz Ahmad Susil Aji, SKM., S.Tr.Kes., seorang praktisi fisioterapi dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo Surabaya.
Ustadz Ahmad Susil Aji, SKM., S.Tr.Kes., seorang praktisi fisioterapi dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo Surabaya.

Bagikan postingan :

Kabamasjid.id, Surabaya – Nyeri punggung dan pegal leher kini hampir menjadi “penyakit kebangsaan” masyarakat modern yang sehari-hari akrab dengan meja kerja, gawai, dan gaya hidup minim gerak. Diskusi mengenai pentingnya menjaga anatomi tulang belakang ini mengemuka dalam kajian “Ngaji Sehat” episode ke-34 yang diselenggarakan pada Kamis, 23 Juli 2026, bertempat di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, dengan menghadirkan narasumber Ustadz Ahmad Susil Aji, SKM., S.Tr.Kes., seorang praktisi fisioterapi dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo Surabaya.

Kajian ini mengurai kenyataan bahwa hampir setiap orang dalam fase hidupnya pernah merasakan keluhan fisik, mulai dari leher kaku, pundak tegang, hingga nyeri pada punggung bawah. Fenomena ini tidak hanya menurunkan kualitas hidup dan produktivitas harian, tetapi juga memicu ketergantungan masyarakat pada obat-obatan pereda nyeri yang jika dikonsumsi secara terus-menerus justru berisiko merusak organ penting seperti lambung dan ginjal.

Ustadz Ahmad Susil Aji menekankan bahwa mayoritas keluhan nyeri punggung sebetulnya bukan disebabkan oleh penyakit struktural yang berat, melainkan murni akibat kesalahan postur (postural error) serta pola kebiasaan aktivitas harian yang keliru. Postur tubuh manusia secara alami dibentuk sejak dalam kandungan hingga masa balita melalui pembentukan kurva servikal dan lumbal yang presisi, namun kurva alamiah tersebut kerap rusak akibat kebiasaan hidup modern.

Kebiasaan duduk membungkuk saat menatap layar komputer atau ponsel memaksa posisi kepala maju ke depan, sehingga kelengkungan leher meningkat secara tidak wajar (lordotik berlebih). Dalam jangka panjang, tekanan berulang pada ruas leher ini dapat menyempitkan jalur pembuluh darah dan saraf, yang bermanifestasi berupa rasa kesemutan, kebas, hingga nyeri memancar sampai ke jemari tangan.

Gaya hidup mager (malas bergerak) dan durasi duduk yang berlebihan juga memicu kelemahan pada otot-otot dinding perut serta pemendekan pada otot paha belakang (hamstring). Ketika otot hamstring memendek dan kaku, kelenturan tubuh bagian bawah akan menurun drastis, sehingga ruang gerak pinggul menjadi terbatas dan ketegangan ekstra dialihkan langsung ke area tulang belakang bawah.

Masalah postur ini semakin diperparah oleh fenomena lingkar perut berlebih atau obesitas abdominal yang kerap dialami masyarakat perkotaan. Beban perut yang membesar menarik pusat gravitasi tubuh ke depan, memaksa otot-otot punggung bawah bekerja ekstra keras menahan beban agar tubuh tidak jatuh, yang pada akhirnya memicu kelelahan otot kronis, kekakuan (spasme), dan rasa nyeri menahun.

Satu hal yang sangat menarik dan sarat hikmah dari pemaparan kajian ini adalah bagaimana syariat Islam sebenarnya telah menyediakan mekanisme terapi preventif alami melalui rangkaian ibadah shalat. Jika dijalankan dengan tata cara dan kaidah anatomis yang benar, tiap-tiap transisi gerakan shalat mengandung fungsi biomekanika yang sangat selaras dengan prinsip-prinsip fisioterapi modern.

Posisi berdiri tegak (qiyam) yang disertai pandangan mata fokus menatap tempat sujud merupakan bentuk koreksi postur leher yang sangat efektif. Menundukkan kepala secara terukur ke tempat sujud membantu mengurangi strain pada servikal, merilekskan otot leher belakang, serta melancarkan kembali aliran darah menuju otak setelah seharian tegang menatap layar.

Gerakan rukuk yang sempurna—dengan punggung rata membentang 90 derajat dan kedua tangan menekan tempurung lutut secara kokoh—berfungsi sebagai latihan regangan (stretching) alami bagi otot hamstring dan punggung bawah. Kepresisian sudut rukuk ini secara bertahap mengembalikan kelenturan paha belakang serta meluruskan kembali kurva tulang belakang yang kaku.

Sementara itu, posisi sujud—yang diulang puluhan kali dalam sehari oleh seorang muslim—bekerja layaknya latihan knee-to-chest dalam posisi terbalik (reversed pelvic tilt). Sujud yang dilakukan dengan menempelkan dahi dan hidung secara sempurna ke sajadah memberikan efek traksi alami pada ruas tulang belakang, merenggangkan sekat antar-ruas tulang, dan merilekskan otot-otot penyangga pinggang.

Bahkan tata cara duduk tasyahud akhir (iftirasy/tawarruk) juga menyimpan dimensi fisiologis tersendiri dalam mengoreksi ketidakseimbangan postur akibat dominasi penggunaan anggota tubuh kanan. Posisi silang kaki yang terukur membantu merenggangkan sendi panggul dan melepaskan kram otot yang terakumulasi akibat kebiasaan duduk yang serba salah sepanjang hari.

Kunci utama agar gerakan shalat membawa dampak medis dan terapeutik yang nyata terletak pada penerapan tuma’ninah atau memberi jeda tenang pada setiap posisi. Dalam disiplin fisioterapi, peregangan otot membutuhkan waktu tahan (holding time) minimal 6 detik untuk mengaktifkan refleks relaksasi neuro-muskular; sebuah syarat ilmiah yang ternyata telah diatur sempurna dalam rukun shalat sejak empat belas abad yang lalu.

Sumber: “Ngaji Sehat” episode ke-34 bertajuk Postur Tubuh yang Baik untuk Mengatasi Keluhan Nyeri Punggung yang disampaikan oleh Ustadz Ahmad Susil Aji, SKM., S.Tr.Kes. (praktisi fisioterapi RSUD Dr. Soetomo) di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya pada Kamis, 23 Juli 2026

E-Buletin