Kabarmasjid.id, Surabaya – Di tengah laju dinamika zaman yang kian cepat dan sarat tantangan moral, umat Islam terus diingatkan untuk menjaga keteguhan iman dan arah hidupnya. Salah satu upaya nyata dalam membentengi diri dari keterasingan nilai-nilai keagamaan adalah melalui majelis ilmu yang sejuk dan mencerahkan. Hal inilah yang mengemuka dalam kajian subuh yang diselenggarakan di Masjid Al-Hikmah Gayungsari, Surabaya, pada Jumat 24 Juli 2026. Menghadirkan penceramah Ustadz Muhammad Taufiq AB, kajian bertajuk “Mengokohkan SUNNAH di Tengah Gelombang FITNAH” tersebut mengajak seluruh jamaah untuk merefleksikan kembali kualitas ibadah serta kesiapan diri menghadapi hakikat kehidupan dunia.
Mengawali ceramahnya, Ustadz Muhammad Taufiq menekankan bahwa seluruh petunjuk ibadah dan kebaikan yang dirasakan umat Islam hari ini tidak lepas dari peran Nabi Muhammad SAW sebagai al-mu’allimul awwal (pengajar pertama). Beliau diutus oleh Allah SWT semata-mata sebagai rahmat bagi semesta alam. Lebih jauh, penceramah menjelaskan bahwa tanda-tanda kebaikan surga sejatinya sudah dapat dirasakan sejak di dunia melalui hati yang bersih, perilaku teratur, serta kecenderungan untuk selalu berbuat baik tanpa merugikan atau mengkhianati sesama.
Agar konsistensi ibadah tetap terjaga di tengah kesibukan harian, jamaah diajak untuk tidak melepaskan doa yang diajarkan Rasulullah SAW, yaitu permintaan agar senantiasa dibimbing dalam berzikir, bersyukur, dan meperbaiki kualitas ibadah (allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika). Menurut Ustadz Taufiq, salah satu tolok ukur utama keberhasilan seorang muslim dalam mengarungi kehidupan adalah sejauh mana ia mampu mengevaluasi dan menjaga kekhusyukan salatnya, terutama salat Subuh berjamaah yang memiliki keutamaan luar biasa pada hari Jumat.
Menyikapi fenomena sosial modern, kajian ini menggarisbawahi hadirnya “tsunami fitnah”—yakni gelombang kerusakan moral, maraknya berita kecurangan, serta kecenderungan hidup materialistis yang mengintai setiap saat. Untuk membentengi diri dari dampak buruk tersebut, umat Islam dituntut untuk sangat selektif dalam mengonsumsi rezeki. Bukan hanya halal secara zatnya, melainkan juga harus halal secara ma’nawi—yakni didapatkan melalui cara-cara yang benar, jujur, dan diridhai Allah SWT.
Mengutip Surah Al-Hadid ayat 20, Ustadz Muhammad Taufiq AB menguraikan dengan lugas hakikat kehidupan dunia yang sering kali menipu. Dunia pada dasarnya hanyalah arena permainan (la’ibun), kelalaian (lahwun), serta perhiasan (zinah) yang sifatnya sementara. Banyak orang terjebak dalam perlombaan menumpuk harta dan membanggakan keturunan, padahal semua kemewahan fisik tersebut akan lapuk dan sirna ditelan waktu sebagaimana tanaman yang mengering setelah dihantam hujan lebat.
Dalam kesempatan tersebut, dipaparkan pula nasihat mendalam dari Malaikat Jibril kepada Rasulullah SAW yang patut menjadi bahan perenungan setiap individu. Manusia dipersilakan untuk hidup sesukanya, namun harus disadari bahwa kematian adalah kepastian yang tidak bisa dihindari. Seseorang juga bebas mencintai apa pun dan siapa pun di dunia, tetapi pada akhirnya perpisahan mutlak akan terjadi, baik dipisahkan oleh takdir kehidupan maupun ajalnya masing-masing.
Prinsip keadilan ilahi menjadi poin penting lain yang digarisbawahi dalam ceramah ini. Setiap amalan, baik atau buruk, sekecil apa pun dipastikan mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT. Di samping itu, Ustadz Taufiq juga mengingatkan bahwa kehormatan dan kemuliaan seorang mukmin tidak diukur dari kedudukan sosial atau kekayaan, melainkan dari konsistensinya mendirikan ibadah malam (qiyamullail) serta menjaga kesucian diri dengan tidak menggantungkan harapan kepada manusia.
Menggambarkan suasana pengakhiran hidup, Ustadz Muhammad Taufiq mengingatkan sebuah hadis tentang detik-detik saat manusia diantar ke pemakaman. Ketika seseorang meninggal dunia, ada tiga hal yang mengiringinya menuju liang lahat: keluarga, harta, dan amal perbuatannya. Namun, dua hal pertama—keluarga dan harta—pasti akan kembali pulang ke rumah, sedangkan yang benar-benar setia tinggal mendampingi di alam kubur hanyalah amal ibadahnya.
Oleh karena itu, tradisi bertakziyah dan mengantar jenazah hendaknya dilakukan dengan sikap penuh kesadaran (khusyu’ dan tafakur), bukan sekadar rutinitas formalitas apalagi diisi dengan senda gurau. Mengunjungi orang sakit dan menghadiri pemakaman merupakan sarana pengingat efektif agar manusia tidak lalai dari tujuan utamanya diciptakan, sekaligus melatih diri untuk senantiasa bersiap menghadapi pertanyaan di alam barzakh.
Kehidupan setelah kematian di alam kubur dijelaskan memiliki dua kemungkinan yang sangat kontras. Bagi orang-orang beriman dan bertakwa, kubur akan dijadikan oleh Allah sebagai salah satu taman dari taman-taman surga (raudhatun min riyadhil jannah) yang penuh kedamaian hingga hari kebangkitan. Sebaliknya, bagi mereka yang memenuhi kehidupannya dengan kezaliman dan maksiat tanpa bertobat, kubur akan menjadi lorong dari lorong-lorong neraka.

Ustadz Muhammad Taufiq juga berpesan agar setiap muslim senantiasa menjaga hubungan baik sesama manusia (hablum minannas). Memakan hak orang lain, perbuatan zalim, dan korupsi merupakan dosa berat yang pertanggungjawabannya di akhirat sangat rumit karena melibatkan hak sesama makhluk. Oleh sebab itu, pintu tobat dan perbaikan diri harus segera dibuka sebelum kesempatan hidup yang tersisa berakhir.
Kajian penuh makna ini ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan, ampunan, serta keteguhan iman bagi seluruh umat Islam. Dengan senantiasa berpegang teguh pada Sunnah Rasulullah SAW, memperbanyak sedekah, membasahi lidah dengan zikir, serta memperbaiki kualitas salat, diharapkan setiap muslim mampu berdiri kokoh menerjang gelombang fitnah zaman dan meraih kebahagiaan sejati di dunia maupun akhirat.
Sumber: Ustadz Muhammad Taufiq AB bertajuk “Mengokohkan SUNNAH di Tengah Gelombang FITNAH” yang disampaikan pada kajian Subuh di Masjid Al-Hikmah Gayungsari, Surabaya, Jumat 27 Juli 2026