Menjaga Keikhlasan dan Akhlak di Tengah Dinamika Modernisasi

Habib Ahmad Yunus Al-Muhdhor
Habib Ahmad Yunus Al-Muhdhor

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Kehidupan modern yang serba cepat sering kali membawa manusia pada keraguan, kecemasan, dan hilangnya pegangan spiritual dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Di tengah riuk-pikuk kesibukan duniawi, menghadiri majelis ilmu menjadi oase yang menyejukkan sekaligus pengingat akan hakikat penghambaan kita kepada Sang Pencipta. Berpegang pada nasihat para ulama terdahulu merupakan fondasi penting agar kita tidak tersesat dalam arus zaman.

Suasana khusyuk dan penuh keberkahan menyelimuti pengajian rutin yang disampaikan oleh Habib Ahmad Yunus Al-Muhdhor di Masjid Nur Syamsiah pada Rabu, 22 Juli 2026. Dalam tausiyahnya, beliau mengupas secara mendalam wasiat spiritual dari ulama besar Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Kajian tersebut memberikan petunjuk praktis mengenai cara menata hati, menjaga adab, serta meluruskan niat dalam menghadapi dinamika kehidupan.

Mengawali paparannya, Habib Ahmad Yunus Al-Muhdhor menegaskan bahwa ketakwaan kepada Allah SWT merupakan kunci utama bagi siapa saja yang ingin meraih derajat tertinggi di dunia maupun di akhirat. Takwa bukan sekadar rasa takut akan siksa neraka atau mengharap nikmat surga, melainkan rasa hormat dan pengagungan yang tulus kepada Sang Maha Pencipta. Dengan takwa, Allah janji akan memberikan jalan keluar dari setiap kesempitan serta mengalirkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Dalam konteks ikhtiar dan pekerjaan sehari-hari, penceramah mengingatkan agar umat Islam tidak berlebihan dalam mengatur serta mengkhawatirkan hal-hal yang berada di luar kendali manusia. Bekerja dan berbisnis adalah bagian dari kewajiban serta bentuk adab penghambaan kepada Allah. Namun, hasil akhir dari segala usaha harus sepenuhnya dipasrahkan kepada takdir dan ketetapan-Nya tanpa mengikis prasangka baik kita kepada Tuhan.

Lebih lanjut, beliau menguraikan konsep keseimbangan jiwa yang wajib dimiliki oleh setiap mukmin, yaitu memadukan rasa takut (khauf) dan harapan (raja’). Rasa takut membuat seseorang waspada agar tidak terjerumus ke dalam maksiat, sementara harapan menjaga jiwa agar tidak mudah berputus asa dari rahmat Allah. Keduanya ibarat sepasang sayap burung yang harus sama kuat agar mampu membawa manusia terbang menuju keridaan-Nya.

Aspek keikhlasan dalam beramal juga menjadi sorotan penting dalam kajian tersebut. Beliau mengingatkan bahaya sifat riya atau keinginan untuk dipuji dan dipandang mulia oleh sesama manusia. Amal ibadah yang tampak besar di mata manusia bisa menjadi sia-sia dan terolak di hadapan Allah apabila tidak didasari oleh ketulusan hati yang murni.

Oleh karena itu, setiap muslim dianjurkan untuk senantiasa melakukan muhasabah atau evaluasi diri secara berkala. Membiasakan istigfar sehabis melaksanakan ibadah—seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW setelah salam dalam salat—merupakan bentuk kesadaran bahwa amal yang kita kerjakan masih jauh dari sempurna. Istigfar menjadi sarana pembersih dari potensi kelalaian dan rasa bangga diri yang terselip.

Selain menata hubungan pribadi dengan Allah, penataan lisan dan hubungan sosial antar sesama hamba menjadi benteng akhlak yang tak kalah krusial. Habib Ahmad Yunus mengimbau agar umat menjaga lidah dari fitnah, ghibah, adu domba, serta prasangka buruk. Lisan yang tidak terkontrol dapat menjadi senjata yang melukai diri sendiri maupun orang lain di dunia dan akhirat.

Penyakit hati seperti sifat iri dengki (hasad), sombong (kibr), dan merasa kagum pada diri sendiri (ujub) turut diperingatkan agar dibuang jauh-jauh dari jiwa. Sifat-sifat tercela ini sering kali menjadi penghalang masuknya cahaya hidayah dan merusak pahala dari kebaikan yang telah ditanam. Sebaliknya, kerendahan hati dan kepedulian terhadap sesama akan membuka pintu-pintu keberkahan hidup.

Memasuki sesi tanya jawab, penceramah memberikan penjelasan komprehensif terkait berbagai amalan praktis pascasalat. Beliau menjelaskan keberadaan dasar sunnah membaca istigfar tiga kali serta zikir sebelum memanjatkan doa. Mengenai tradisi bersalaman seusai salat, beliau memaparkan bahwa hukum asalnya adalah mubah yang bertujuan untuk mempererat silaturahmi dan menjaga kerukunan antar jamaah.

Terkait dengan fenomena sosial dan kepemimpinan, beliau menekankan batas-batas kebolehan membicarakan kelemahan atau kebijakan publik. Mengkritik atau membahas tindakan yang berdampak luas bagi masyarakat diperbolehkan sebatas untuk mencegah kemudaratan dan demi kemaslahatan umum, bukan atas dasar kebencian personal atau prasangka pribadi.

Pengajian rutin ini ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan, keberkahan, serta keteguhan iman seluruh umat. Pesan mendalam yang disampaikan Habib Ahmad Yunus Al-Muhdhor di Masjid Nur Syamsiah menjadi pengingat berharga bahwa jalan menuju kebahagiaan sejati dimulai dari pembersihan hati, perbaikan akhlak, serta ketulusan niat dalam setiap helai napas kehidupan.

Sumber: Ceramah Habib Ahmad Yunus Al-Muhdhor dalam pengajian rutin di Masjid Nur Syamsiah pada Rabu 22 Juli 2026

E-Buletin