Kaya Maupun Tertimpa Musibah, Ini 4 Soal Kehidupan yang Pasti Dihadapi Setiap Muslim

Ustadz Adhan Sanusi, Lc.
Ustadz Adhan Sanusi, Lc.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Kehidupan manusia pada hakikatnya tak ubahnya sebuah ruang ujian yang terus berjalan tanpa henti setiap harinya. Setiap matahari terbit, setiap individu sejatinya melangkah masuk ke dalam “kelas ujian” baru yang menuntut respon dan kesiapan rohani. Pesan mendalam inilah yang disampaikan oleh Ustadz Adhan Sanusi, Lc. dalam Kajian Subuh bertajuk “4 Soal Kehidupan Untuk 1 Jawaban” yang diselenggarakan di Masjid Al Falah Surabaya pada Minggu 19 Juli 2026. Dalam tausiyahnya, beliau mengingatkan jemaah bahwa agar tidak mendapatkan “nilai merah” dalam rapot kehidupan akhirat, seorang muslim harus senantiasa rajin belajar dan membekali diri dengan pemahaman agama yang lurus.

Ustadz Adhan Sanusi membuka pemaparannya dengan menekankan pentingnya menuntut ilmu sebagai pondasi utama kelulusan ujian hidup. Beliau mengambil tamsil bahwa kegagalan seseorang dalam ujian sekolah biasanya disebabkan oleh rasa malas dan enggan belajar. Hal serupa berlaku dalam kehidupan spiritual; ketika seorang muslim enggan bermajelis ilmu, ia akan gagap dalam menghadapi dinamika takdir dan rentan terjatuh ke dalam kelalaian.

Lebih lanjut, beliau mengutip sabda Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa majelis ilmu merupakan jalan lapang menuju surga. Menuntut ilmu bukan sekadar formalitas mendengarkan ceramah, melainkan proses penyucian jiwa agar mampu membedakan mana yang hak dan yang batil. Ketika Allah SWT menghendaki kebaikan pada diri seorang hamba, maka Allah akan memahamkannya dalam urusan agama (mayuridillahu bihi khairan yufaqihu fiddin).

Di tengah beragamnya dinamika dan persoalan hidup yang kompleks, Ustadz Adhan menjelaskan bahwa sejatinya Allah SWT memberikan empat bentuk soal ujian utama. Menariknya, meskipun soal kehidupannya bervariasi, jawaban yang dituntut oleh Sang Maha Pencipta hanya satu. Jawaban tunggal tersebut berpatokan pada firman Allah dalam Surah Al-Mulk: liyabluakum ayyukum ahsanu amala, yaitu untuk menguji siapa di antara hamba-Nya yang memiliki kualitas amal terbaik.

Soal ujian kehidupan yang pertama adalah perintah Allah SWT yang mencakup seluruh kewajiban fardu. Perintah ini menguji sejauh mana ketaatan hamba dalam bertindak dan bertutur kata harian, seperti kewajiban berkata baik kepada sesama manusia (waquulu linasi husna) tanpa memandang latar belakang mereka. Selain itu, perintah menjaga keharmonisan keluarga dan menegakkan salat lima waktu menjadi tolok ukur utama apakah seseorang lulus pada lembar ujian pertama ini.

Soal ujian yang kedua adalah larangan Allah SWT yang menuntut hamba untuk menjauhi segala hal yang diharamkan. Dalam kehidupan rumah tangga maupun sosial, larangan ini sering kali menguji ego manusia, seperti larangan bagi seorang suami untuk mencela istrinya (la yafruk mukminun mukminatan) atau larangan berbuat curang dalam muamalah dan bisnis. Menjaga diri dari yang haram serta konsisten menjalankan yang fardu merupakan syarat mendasar bagi seseorang untuk diangkat derajatnya sebagai kekasih Allah (wali Allah).

Soal ujian yang ketiga datang dalam bentuk nikmat dan kelapangan hidup, baik berupa harta, kesehatan, maupun jabatan. Banyak orang tidak menyadari bahwa kenikmatan duniawi sejatinya adalah soal ujian yang sangat berat. Jabatan dan kekayaan kerap menjebak manusia ke dalam sifat serakah jika tidak disikapi dengan benar, padahal seorang pemimpin yang adil justru menjadi golongan pertama yang akan mendapat naungan Allah di hari kiamat.

Kunci utama untuk lulus dari ujian nikmat ini adalah bersyukur. Namun, Ustadz Adhan menegaskan bahwa rasa syukur atas kelimpahan nikmat tidak akan pernah bisa terwujud tanpa adanya kesabaran. Dalam hal ini, kesabaran yang dimaksud adalah sabar dalam terus melanggengkan ketaatan serta sabar dalam menahan diri dari godaan untuk melanggar batas-batas larangan Allah saat memiliki kelapangan.

Soal ujian yang keempat dan tak kalah menantangnya adalah musibah, kesusahan, serta kehilangan. Baik berupa penderitaan fisik, kegagalan usaha, maupun kepergian orang-orang tercinta, musibah kerap menyapa manusia tanpa diduga. Kunci utama dalam menghadapi soal ujian keempat ini adalah bersabar, sebagaimana teladan para nabi dan orang-orang saleh sepanjang sejarah.

Secara mendalam, Ustadz Adhan Sanusi membeberkan rahasia agar seseorang mampu bersabar di tengah terpaan musibah. Mengutip hikmah dari Syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi, beliau menjelaskan bahwa di balik kesabaran yang kokoh, terdapat pondasi syukur yang unik. Jika orang pada umumnya bersyukur saat nikmat baru datang, orang yang sabar mampu bersyukur atas nikmat-nikmat lain yang tidak hilang dari dirinya.

Sebagai analogi, ketika seseorang kehilangan satu nikmat, ia hendaknya melihat betapa banyaknya nikmat lain yang masih Allah sisakan dan tetapkan padanya. Sebagaimana keteguhan masyarakat Gaza atau kisah sahabat nabi yang tetap mengucap alhamdulillah saat harus kehilangan anggota tubuhnya, sudut pandang syukur terhadap nikmat yang tersisa inilah yang melahirkan ketenangan rohani dan kesabaran yang hakiki.

Sebagai penutup, Ustadz Adhan Sanusi mengajak seluruh jemaah untuk senantiasa menyadari posisi diri sebagai hamba yang sedang diuji setiap hari. Baik saat berhadapan dengan perintah, larangan, kelapangan nikmat, maupun himpitan musibah, muara yang dicari tetaplah satu: menghadirkan respon amal terbaik (ahsanu amala). Dengan terus membekali diri melalui majelis ilmu dan memperbaiki kualitas amal, setiap muslim diharapkan mampu meraih nilai terbaik di hadapan Allah SWT.

Sumber: Kajian Subuh bertajuk “4 Soal Kehidupan Untuk 1 Jawaban” Ustadz Adhan Sanusi, Lc. yang diselengarakan pada Minggu 19 Juli 2026 di Masjid Al Falah Surabaya

E-Buletin