Kabarmasjid.id, Surabaya – Di tengah tingginya dinamika kehidupan modern, kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan fisik kerap kali terabaikan. Banyak orang baru menyadari betapa berharganya nikmat sehat ketika tubuh mulai digerogoti oleh penyakit kronis seperti kanker. Sebagai langkah edukatif untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap deteksi dini kanker, Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya bekerja sama dengan RSUD Dr. Soetomo menggelar agenda rutin Ngaji Sehat edisi ke-33 pada Kamis, 16 Juli 2026, yang bertempat di Ruang Utama Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya dengan menghadirkan narasumber dr. Muhammad Hafiz, Sp.Onk.Rad., seorang dokter spesialis onkologi radiasi dari RSUD Dr. Soetomo.
Membuka pemaparannya, dr. Muhammad Hafiz mengingatkan para jemaah akan pesan Rasulullah SAW mengenai dua nikmat yang sering kali membuat manusia terlena dan tertipu, yaitu nikmat kesehatan dan waktu luang. Ia menekankan bahwa dalam pandangan Islam, tubuh manusia merupakan amanah dari Allah SWT yang wajib dijaga dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, melakukan upaya pencegahan, mengenali sinyal bahaya dari tubuh, serta berikhtiar mencari pengobatan medis yang tepat merupakan bentuk nyata dari rasa syukur atas nikmat sehat yang telah dikaruniakan.
Fenomena kasus kanker di dunia maupun di Indonesia hingga saat ini menunjukkan tren yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal yang sangat disayangkan dalam dunia medis adalah mayoritas penderita kanker baru datang memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan ketika penyakitnya sudah memasuki stadium lanjut. Padahal, semakin awal kanker terdeteksi dan mendapatkan penanganan medis, maka tingkat kesembuhan serta angka harapan hidup pasien akan jauh lebih tinggi dibandingkan jika ditangani pada kondisi yang sudah parah.
Guna menekan risiko terpapar kanker, masyarakat diimbau untuk konsisten menerapkan pola hidup sehat yang terangkum dalam kampanye “CERDIK”. Konsep ini meliputi Cek kesehatan secara rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit sehari, Diet seimbang dengan asupan kalori yang terukur, Istirahat yang cukup, serta Kelola stres dengan baik. Pengelolaan stres menjadi faktor penting yang menekankan bahwa kondisi psikologis yang tidak stabil dapat merubah lingkungan sel tubuh dan memicu pertumbuhan sel abnormal.
Selain tindakan pencegahan, masyarakat juga diminta untuk peka terhadap sinyal-sinyal awal kewaspadaan tubuh melalui prinsip “WASPADALAH”. Tanda-tanda vital yang harus diwaspadai antara lain munculnya benjolan tidak wajar di area tubuh seperti payudara meskipun tidak terasa sakit, pendarahan yang tidak normal—seperti wanita menopause yang kembali mengalami pendarahan—serta gangguan pencernaan atau pola buang air besar yang berubah secara signifikan dalam jangka panjang.
Indikator bahaya lainnya yang tidak boleh diabaikan adalah perubahan pada tahi lalat, batuk kronis atau suara serak yang tak kunjung sembuh, sulit menelan, serta penurunan berat badan secara drastis tanpa alasan yang jelas. Dr. Hafiz menegaskan bahwa rasa takut untuk memeriksakan diri ke dokter sering kali menjadi penghambat utama. Masyarakat perlu memahami bahwa menunda pemeriksaan tidak menghilangkan penyakit, melainkan justru menutup peluang untuk mendapatkan penanganan dini yang jauh lebih efektif.
Dalam dunia medis modern, tata laksana pengobatan kanker bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu pembedahan (operasi), kemoterapi, dan radioterapi. Seiring pesatnya perkembangan ilmu kedokteran, kini telah berkembang pula modalitas terapi terkini seperti terapi hormonal, imunoterapi, dan targeted therapy. Setiap metode memiliki peran saling melengkapi, di mana pembedahan dan radioterapi berfokus pada penanganan lokal di area tumor, sedangkan kemoterapi bekerja secara sistemik melalui aliran darah untuk membunuh sel kanker di seluruh tubuh.
Secara khusus, dr. Hafiz menjelaskan mekanisme kerja radioterapi yang sering kali memicu kekhawatiran masyarakat. Radioterapi memanfaatkan sinar-X berenergi tinggi untuk mematikan dan menghancurkan sel-sel kanker. Berkat bantuan teknologi pemetaan CT Simulator, dosis radiasi kini dapat difokuskan secara sangat presisi pada bentuk target tumor sehingga efek samping paparan radiasi terhadap jaringan dan organ sehat di sekitarnya dapat ditekan seminimal mungkin.
Pada sesi pemaparan tersebut, dr. Hafiz juga meluruskan dua mitos besar mengenai kanker yang masih beredar luas di tengah masyarakat. Mitos pertama menyatakan bahwa tindakan biopsi atau pengambilan sampel jaringan dapat membuat tumor semakin ganas dan membesar. Ia menegaskan bahwa biopsi adalah prosedur medis yang sangat aman dan justru wajib dilakukan di awal untuk mengetahui jenis sel kanker secara pasti agar tim dokter dapat menentukan jenis obat dan modalitas terapi yang paling presisi.
Mitos kedua yang tak kalah populer adalah anggapan bahwa pasien yang telah menjalani terapi radiasi akan memancarkan radiasi berbahaya bagi orang-orang di sekitarnya. Dr. Hafiz membantah tegas kekhawatiran tersebut dan menjelaskan bahwa sinar radiasi hanya bekerja di dalam ruangan khusus (bunker) saat mesin dinyalakan. Begitu proses radioterapi selesai dan pasien keluar dari ruangan, tubuh pasien sama sekali tidak mengandung maupun memancarkan gelombang radioaktif, sehingga aman untuk langsung berinteraksi dengan keluarga.
Menjawab pertanyaan jemaah seputar gaya hidup dan makanan pemicu kanker, dipaparkan pula fakta ilmiah mengenai konsumsi daging panggang seperti sate. Berdasarkan berbagai penelitian medis, daging merah yang dimasak pada suhu tinggi dalam waktu lama hingga gosong mengandung zat karsinogenik yang terbukti meningkatkan risiko terjadinya kanker rektum atau usus besar. Oleh sebab itu, masyarakat dianjurkan untuk membatasi konsumsi makanan olahan yang dibakar sampai hitam guna menjaga kesehatan saluran pencernaan.

Mengakhiri kajian Ngaji Sehat, dr. Hafiz mengingatkan bahwa selain berikhtiar secara medis, aspek ketawakalan dan dukungan moral dari keluarga merupakan modal vital bagi kesembuhan pasien. Pasien kanker membutuhkan support system yang kuat dari lingkungan terdekat agar tetap memiliki semangat hidup dan imunitas yang baik. Kombinasi antara ikhtiar medis yang tepat, pola hidup sehat, serta kepasrahan diri kepada Sang Creator menjadi kunci utama dalam menghadapi pertarungan melawan kanker.
Sumber: Ngaji Sehat edisi ke-33 di Masjid Al Akbar Surabaya yang menghadirkan Dr. Muhammad Hafiz, Sp.Onk.Rad. (Spesialis Onkologi Radiasi RSUD Dr. Soetomo Surabaya) pada 16 Juli 2026.