Indahnya Bersahabat dengan Ahli Ilmu: Meniti Jalan Menuju Surga

Prof. Dr. H. Saiful Jazil, M.Ag.
Prof. Dr. H. Saiful Jazil, M.Ag.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Di tengah dinamika kehidupan modern yang serba cepat dan sarat dengan tuntutan keduniaan, kerinduan akan keheningan spiritual serta petunjuk hidup yang lurus menjadi kebutuhan hakiki setiap insan beriman. Suasana penuh keberkahan dan kekhusyukan tersebut begitu terasa dalam pelaksanaan ibadah shalat Jumat yang berlangsung pada tanggal 24 Juli 2026 bertepatan dengan 9 Safar 1448 Hijriah di Ruang Utama Masjid Al-Akbar Surabaya, dengan menghadirkan narasumber utama almukarram Prof. Dr. H. Saiful Jazil, M.Ag. selaku khatib.

Dalam penyampaian khutbahnya yang bertajuk “Indahnya Bersahabat dengan Ahli Ilmu”, Prof. Saiful Jazil mengawali nasihatnya dengan mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT. Beliau menekankan pentingnya memanfaatkan setiap detik kesempatan dalam hidup untuk meningkatkan kualitas iman dan takwa menurut kemampuan masing-masing. Langkah ini menjadi fondasi utama agar kelak di akhirat kita termasuk dalam golongan hamba yang dicintai Allah, memperoleh ampunan-Nya, serta terhindar dari siksa neraka.

Memasuki inti materi kajian, sang khatib menukil sebuah riwayat yang tertuang dalam kitab An-Nawadir karya ulama besar Syekh Shihabuddin Ahmad bin Salamah Al-Qalyubi Al-Misri. Pada bab khusus mengenai keutamaan ulama (faidatun fi fadhlil ulama), dijelaskan bagaimana kedudukan spiritual para penuntut ilmu dan ahli ilmu di mata Allah SWT. Karya klasik ini memberikan gambaran komprehensif mengenai betapa mulianya orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk mendalami dan mensyiarkan ilmu agama.

Khatib memaparkan gambaran suasana hari kiamat ketika salah seorang ahli ilmu dari umat Nabi Muhammad SAW dihadirkan di hadapan Allah SWT untuk menerima kehormatan yang amat luar biasa. Atas perintah Allah, Malaikat Jibril menggandeng tangan ulama tersebut untuk diantarkan langsung menghadap Rasulullah SAW. Saat itu, Beliau sedang berada di tepi telaga (Al-Haudh) untuk membagikan minuman kepada umatnya yang sedang mengalami dahaga luar biasa di padang mahsyar.

Pemandangan menakjubkan terjadi tatkala Rasulullah SAW melihat kedatangan sang ahli ilmu bersama Malaikat Jibril. Jika kepada manusia pada umumnya Rasulullah SAW memberikan air telaga menggunakan cawan atau wadah, maka khusus kepada orang yang ahli ilmu ini Beliau bangkit dan memberikan minum secara langsung menggunakan kedua telapak tangan Beliau sendiri. Penghormatan personal dari Baginda Nabi ini menjadi bukti betapa tingginya derajat penuntut ilmu di hadapan Ilahi.

Sikap istimewa tersebut tentu memancing rasa penasaran dari orang-orang yang menyaksikan kejadian dahsyat itu, hingga mereka bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai perbedaannya. Rasulullah SAW lantas menjelaskan bahwa mayoritas manusia semasa di dunia disibukkan oleh aktivitas perdagangan dan urusan mencari harta keduniaan. Sebaliknya, hamba yang mulia ini memanfaatkan waktunya di dunia dengan memprioritaskan cinta kepada ilmu serta konsisten dalam menuntutnya.

Kisah berlanjut tatkala ahli ilmu tersebut diperintahkan untuk melintasi jembatan Shiratal Mustaqim, sebuah titian krusial yang menentukan takdir akhir manusia menuju surga atau neraka. Ketika sedang melintas, tiba-tiba terdengar suara rintihan memanggil dari arah bawah jembatan. Seseorang yang berada dalam kesulitan dan kesengsaraan memohon bantuan serta pertolongan agar diselamatkan dari penderitaan yang mengancamnya.

Mendengar panggilan tersebut, sang ahli ilmu bertanya mengenai identitas orang yang memanggilnya dari bawah jembatan. Orang itu kemudian menjawab bahwa dirinya adalah salah satu sahabat dekat atau teman karib sang ulama sewaktu hidup bersama di dunia. Pengakuan ini menyentuh kesadaran sang ulama akan ikatan persahabatan dan kebaikan yang pernah terjalin di antara mereka semasa hidup.

Tanpa ragu, sang ahli ilmu langsung bermunajat dan memohon kepada Allah SWT agar memberikan pertolongan kepada sahabatnya yang terancam jatuh ke dalam neraka tersebut. Berkat syafa’at, derajat kealiman, serta kesalehan yang dimiliki sang ulama, Allah SWT mengabulkan doa tersebut dan mengizinkan sahabatnya diangkat untuk diselamatkan dari siksa neraka, lalu berjalan bersama menuju keselamatan.

Peristiwa spiritual ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW yang sangat populer, yakni “Yuhsyarul mar’u ma’a man ahabba”—seseorang kelak pada hari kiamat akan dikumpulkan bersama dengan siapa yang dicintainya. Hadits ini menegaskan bahwa ikatan cinta yang tulus karena Allah, khususnya kecintaan kepada para ulama dan majelis ilmu, akan membawa dampak keselamatan yang nyata di akhirat kelak.

Sebagai landasan spiritual dalam mengarungi kehidupan, Al-Qur’an juga mengajarkan doa agar seorang hamba diwafatkan dalam keadaan muslim serta dikumpulkan kembali bersama hamba-hamba Allah yang saleh. Untuk mewujudkan hal tersebut, jamaah diajak untuk aktif memakmurkan majelis-majelis ilmu yang ada di sekitar tempat tinggal, seperti rangkaian kajian rutinitas ba’da Subuh dan ba’da Maghrib yang senantiasa diselenggarakan di Masjid Al-Akbar Surabaya.

Mengakhiri khutbahnya, Prof. Saiful Jazil mendoakan agar seluruh jamaah senantiasa dianugerahi kesehatan, kekuatan iman, serta keistiqamahan dalam menuntut ilmu dan bersahabat dengan para ulama. Dengan terus menjaga hubungan baik bersama orang-orang saleh dan rajin menghadiri majelis ilmu, harapan besar terbentang agar kita semua kelak dihimpun kembali bersama mereka di dalam surga-Nya yang penuh kenikmatan.

Sumber: Khutbah Jumat berjudul “Indahnya Bersahabat dengan Ahli Ilmu: Meniti Jalan Menuju Surga Bersama Mereka” yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Saiful Jazil, M.Ag. di Masjid Al-Akbar Surabaya pada 24 Juli 2026

E-Buletin