Kabarmasjid.id, Surabaya – Di tengah derasnya arus informasi digital dan dinamika geopolitik global, umat Islam sering kali dihadapkan pada narasi-narasi yang dapat mengaburkan pemahaman adidah yang lurus. Untuk membentengi jamaah dari kesalahpahaman tersebut, Masjid Taqwa Surabaya menyelenggarakan khutbah Jum’at pada 17 Juli 2026 yang disampaikan oleh khatib Ustadz Umar Baladraf, M.Pd.I. Dalam mimbar ilmiah tersebut, beliau menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya menjaga keteguhan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah serta kewaspadaan terhadap bahaya paham Syiah Rafidah.
Mengawal khutbahnya, Ustadz Umar Baladraf mengingatkan seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Takwa diartikan sebagai bentuk ketaatan menjalankan perintah Allah berdasarkan petunjuk dalil yang shahih dengan mengharapkan pahala-Nya, sekaligus meninggalkan segala bentuk kemaksiatan karena rasa takut akan siksa-Nya. Wasiat takwa ini menjadi pondasi utama bagi setiap Muslim dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Khatib kemudian menjelaskan salah satu prinsip penting dalam ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah, yaitu ar-rad ‘alal mukhalif atau memberikan bantahan serta peringatan terhadap pemikiran dan kelompok yang menyimpang. Prinsip ini merupakan bagian tak terpisahkan dari pilar amar ma’ruf nahi munkar yang diperintahkan Allah SWT dalam Al-Qur’an. Peringatan ini penting agar umat Islam tidak terperosok ke dalam kesesatan yang ditutupi oleh berbagai pencitraan.
Dalam penjelasannya, Ustadz Umar memberikan sorotan khusus agar masyarakat tidak terkecoh oleh retorika politik atau propaganda kekinian. Sebagian kaum muslimin saat ini dinilai mudah simpati dan mendukung kelompok tertentu hanya karena mereka tampak berada di garis depan dalam menentang musuh atau membela isu Palestina. Padahal, di balik simpati politik tersebut, terdapat ancaman aqidah yang sangat mendasar dan berbahaya bagi keimanan.
Menelusuri rekam jejak sejarahnya, kemunculan ajaran Syiah Rafidah dipelopori oleh sosok Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi yang berpura-pura masuk Islam pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Sejak awal kemunculannya, kelompok ini telah menanamkan pemikiran ekstrem yang menyimpang dari ajaran Islam yang murni, bahkan sampai pada tingkat mengagungkan manusia secara berlebihan melebihi batasan syariat.
Salah satu bentuk penyimpangan aqidah yang dikupas dalam khutbah tersebut adalah keyakinan mereka tentang sifat Al-Bada’ bagi Allah SWT, yaitu anggapan bahwa Allah baru mengetahui sesuatu setelah peristiwa itu terjadi. Pada saat yang sama, mereka justru meyakini bahwa imam-imam mereka memiliki pengetahuan ghaib yang mengetahui segala hal di langit dan di bumi. Pemikiran ini jelas bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang menegaskan kesempurnaan ilmu Allah.
Penyimpangan berikutnya berkaitan dengan sikap mereka terhadap para sahabat Nabi SAW. Paham Syiah Rafidah secara terbuka mencela dan mengkafirkan mayoritas sahabat Rasulullah, serta menganggap para sahabat murtad sepeninggal Nabi, kecuali hanya beberapa orang saja. Padahal, para sahabat merupakan generasi terbaik yang telah dijamin keutamaannya oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.
Tidak berhenti di situ, ajaran ini juga meragukan keaslian kitab suci Al-Qur’an yang ada di tangan umat Islam saat ini. Mereka meyakini bahwa Al-Qur’an telah mengalami perubahan dan pengurangan oleh para sahabat. Merekapun meyakini keberadaan mushaf lain, seperti Mushaf Fatimah, yang diklaim jauh lebih tebal dan berbeda dari mushaf yang dipegang oleh kaum muslimin di seluruh dunia.
Dalam hal pengagungan terhadap tokoh, paham ini menerapkan sikap ghuluw atau berlebih-lebihan kepada 12 imam mereka. Kedudukan para imam tersebut diyakini berada di atas derajat para nabi, rasul, dan malaikat. Bahkan, terdapat tuduhan menyesatkan dari tokoh-tokoh mereka yang menyatakan bahwa para nabi, termasuk Nabi Muhammad SAW, dianggap tidak berhasil dalam menegakkan keadilan di muka bumi.
Khatib juga menyoroti bagaimana paham ini menjadi pendorong utama timbulnya praktik kesyirikan di tengah umat, seperti mengkeramatkan kuburan. Mereka memperbolehkan meminta bantuan, berdoa, dan memohon hajat (istighatsah) kepada roh-roh orang yang telah meninggal dunia. Praktik ini sangat bertentangan dengan ajaran tauhid yang memurnikan doa dan permohonan pertolongan hanya kepada Allah SWT belaka.

Untuk mempertegas pandangan ajaran Islam yang lurus, khatib mengutip berbagai ketegangan pandangan dari para ulama salaf. Imam Al-Bukhari hingga Imam Ahmad bin Yunus menegaskan garis batas yang tegas terkait akidah kelompok ini. Penilaian para ulama klasik menunjukkan betapa seriusnya bahaya penyimpangan aqidah tersebut bagi keutuhan ajaran Islam.
Mengakhiri khutbahnya, Ustadz Umar Baladraf mengajak seluruh jamaah dan umat Islam untuk senantiasa berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para sahabat dan ulama salaf. Umat diimbau agar selalu kritis, memperdalam ilmu agama dari sumber yang tepercaya, serta berdoa agar Allah SWT senantiasa menjaga keimanan dan menyelamatkan kaum muslimin dari segala bentuk kesesatan.
Sumber: khutbah Jumat yang disampaikan oleh Ustadz Umar Baladraf, M.Pd.I., pada tanggal 17 Juli 2026 di Masjid Taqwa Surabaya