Kisah Inspiratif Ibunda Imam Bukhari: Keajaiban Doa di Sepertiga Malam

KH Abdullah Bahreisy
KH Abdullah Bahreisy

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Setiap manusia yang hidup di dunia pasti tidak akan pernah luput dari yang namanya ujian dan musibah, mulai dari kehilangan harta benda, kegagalan usaha, hingga berpulangnya orang-orang tercinta ke Rahmatullah. Dalam menghadapi setiap cobaan hidup tersebut, Islam telah mengajarkan adab serta tuntunan terbaik agar seorang hamba tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga meraih derajat yang mulia di sisi Allah SWT. Suasana penuh ketenangan dan kekhusyukan menyelimuti jamaah yang hadir untuk menimba ilmu agama dalam kajian rutin yang membahas tuntunan hadis Shahih Bukhari dan Muslim. Kajian ilmiah dan spiritual ini diselenggarakan di Masjid Roudlotul Musyawarah (Kemayoran) Surabaya bersama penceramah Drs. KH. Abdullah Bahreisy pada Minggu 13 Juli 2026.

Dalam pembukaan ceramahnya, Kyai Abdullah Bahreisy mengingatkan pentingnya meluruskan niat dan pemahaman ketika musibah melanda, khususnya saat menghadapi kematian anggota keluarga. Beliau menjelaskan bahwasanya kebiasaan masyarakat jahiliyah terdahulu kerap meratapi kematian secara berlebihan dengan teriakan, jeritan, maupun ungkapan kesedihan yang melampaui batas (niyahah). Perilaku tersebut sangat dilarang dalam ajaran Islam karena menunjukkan ketidakterimaan terhadap takdir yang telah ditetapkan oleh Sang Maha Pencipta.

Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa meneteskan air mata saat berduka merupakan hal yang wajar dan manusiawi sebagai wujud kasih sayang (rahmah) dalam diri manusia. Bahkan, Rasulullah SAW sendiri pernah meneteskan air mata ketika putra beliau, Ibrahim, meninggal dunia sewaktu masih kecil. Namun, Rasulullah SAW memberi batasan yang tegas agar lisan tetap dijaga dan tidak mengucapkan kata-kata yang dimurkai oleh Allah SWT.

Sebagai solusi utama dalam menghadapi cobaan, Kyai Abdullah Bahreisy mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa mengamalkan kalimat istirja’, yaitu Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Kalimat ringkas namun sarat makna ini adalah pengakuan tulus bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini adalah milik Allah semata dan kelak semuanya akan kembali kepada-Nya.

Sesuai dengan janji Allah SWT di dalam Al-Qur’an, orang-orang yang bersabar dan senantiasa mengucapkan kalimat istirja’ saat ditimpa musibah akan dianugerahi tiga karunia yang sangat agung. Karunia tersebut mencakup shalawat (pujian dan keberkahan khusus) dari Allah SWT, limpahan rahmat-Nya, serta petunjuk (hidayah) yang akan memimpin langkah hamba tersebut menuju surga-Nya.

Selain ucapan istirja’, narasumber juga mengajarkan doa khusus yang diajarkan oleh Rasulullah SAW ketika seseorang ditimpa musibah: Allahumma’-jurni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Doa ini berisi permohonan agar Allah memberikan pahala atas kesabaran dalam menghadapi musibah tersebut sekaligus menggantikan apa yang hilang dengan sesuatu yang jauh lebih baik.

Untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam, Kyai Abdullah Bahreisy menceritakan keutamaan doa tersebut melalui kisah Ummu Salamah RA saat ditinggal wafat oleh suami tercintanya, Abu Salamah. Pada mulanya, Ummu Salamah sempat merasa ragu apakah ada sosok lelaki yang lebih baik dari suaminya, namun setelah mengamalkan doa tersebut dengan penuh keyakinan, beliau akhirnya dipinang langsung oleh Rasulullah SAW sebagai istrinya.

Kisah inspiratif lainnya yang disampaikan dalam ceramah tersebut adalah ketabahan ibunda dari Imam Bukhari ketika mengasuh putranya yang masih kecil dalam keadaan yatim, miskin, dan mengalami kebutaan. Sang ibu tidak pernah putus asa dan terus bermunajat serta menangis di sepertiga malam meminta kesembuhan bagi putranya kepada Allah SWT.

Berkat keteguhan iman dan doa yang tidak pernah putus di sepertiga malam, Allah SWT mengabulkan doa sang ibu melalui mimpi bertemu Nabi Ibrahim AS. Tak lama kemudian, penglihatan Imam Bukhari kecil pulih kembali hingga akhirnya beliau tumbuh menjadi seorang ulama besar ahli hadis yang karya-karyanya diabadikan dan dipelajari oleh umat Islam di seluruh dunia hingga saat ini.

Dalam sesi kajian tersebut, dijelaskan pula kisah hikmah seorang pedagang kaya raya yang mengalami musibah kebakaran hingga seluruh toko dan barang dagangannya habis tak tersisa. Alih-alih stres atau putus asa, pedagang tersebut tetap tersenyum dan bersabar karena meyakini bahwa Allah SWT yang memberi dan Allah pula yang berhak mengambil kembali.

Keteguhan sikap dan keikhlasan pedagang tersebut dalam bersedekah di saat terpuruk akhirnya dibalas oleh Allah SWT secara tunai dan tidak disangka-sangka. Ketika istrinya mengolah ikan yang dibeli dari sisa uang yang ada, di dalam perut ikan tersebut ditemukan sembilan butir mutiara berharga tinggi yang membuat kehidupannya kembali bangkit.

Mengakhiri kajian tersebut. KH. Abdullah Bahreisy berpesan agar umat Islam senantiasa melatih kesabaran (as-sabru) dan memperbanyak istigfar dalam setiap dinamika kehidupan. Beliau menekankan bahwa setiap ujian yang diberikan Allah sejatinya adalah proses untuk menaikkan derajat hamba-Nya serta membukakan jalan keluar yang tidak pernah disangka-sangka.

Sumber: Kajian Kitab Bukhori Muslim yang disampaikan oleh Drs. KH. Abdullah Bahreisy di Masjid Roudlotul Musyawarah (Kemayoran) Surabaya pada Minggu 13 Juli 2026.

E-Buletin