Tafsir Surah As-Saffat: Hikmah Penyelamatan dan Azab Kaum Sodom

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Kehidupan para nabi dan rasul selalu menyimpan petunjuk moral serta spiritual yang tak lekang oleh waktu bagi umat manusia. Melalui kisah-kisah perjuangan mereka, Al-Qur’an menyampaikan pesan ketauhidan sekaligus peringatan nyata atas dampak kehancuran akibat pembangkangan moral. Menggali hikmah dari sejarah masa lalu menjadi pijakan penting untuk memperkuat iman di tengah dinamika zaman. Pembahasan mendalam mengenai ikhtiar dakwah dan ikhtibar kaum terdahulu ini disampaikan dalam pengajian rutin Ngaji Bakda Shubuh yang diselenggarakan di Masjid Manarul Ilmi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada Rabu, 13 Juli 2026, dengan menghadirkan penceramah Drs. Wahyuddin, M.Ei.

Dalam ceramahnya, Ustadz Wahyuddin mengupas tafsir Surah As-Saffat ayat 133 hingga 138 yang secara khusus mengulas kisah perjalanan dakwah Nabi Luth ‘Alaihissalam. Beliau menceritakan bahwa Nabi Luth AS, yang merupakan keponakan dari Nabi Ibrahim AS, diutus oleh Allah SWT untuk berdakwah kepada penduduk negeri Sodom di kawasan Syam. Kaum tersebut dikenal melakukan perbuatan dosa besar berupa kemaksiatan homoseksual, sebuah penyimpangan moral yang belum pernah dilakukan oleh kaum-kaum sebelumnya.

Meskipun menghadapi penolakan keras dan penentangan dari mayoritas masyarakat Sodom, Nabi Luth AS tetap menjalankan amanah dakwahnya dengan penuh kesabaran. Dalam menyampaikan risalah, beliau terus mengingatkan kaumnya agar meninggalkan perbuatan keji serta kembali bertauhid kepada Allah SWT. Namun, kesombongan dan kebutaan hati membuat kaum tersebut terus membangkang hingga akhirnya ketetapan serta azab Allah SWT turun menimpa mereka.

Lebih lanjut, penceramah menjelaskan detik-detik penyelamatan yang dianugerahkan Allah SWT kepada Nabi Luth AS dan para pengikutnya yang beriman. Ketika kebinasaan diturunkan atas negeri Sodom, Allah memerintahkan Nabi Luth AS dan keluarganya untuk keluar meninggalkan wilayah tersebut. Kendati demikian, tidak seluruh anggota keluarga beliau selamat dari kehancuran dahsyat yang melanda kota itu.

Mengutip penafsiran dari kitab tafsir, Ustadz Wahyuddin menerangkan keterlibatan dan nasib istri Nabi Luth AS yang tergolong dalam kelompok al-ghobirin. Istri Nabi Luth AS memilih untuk tidak ikut berhijrah dan diam menetap bersama orang-orang yang membangkang. Walaupun tidak melakukan perbuatan keji secara langsung, sikap pengkhianatan dan kepatuhannya terhadap perilaku kaum penentang membuat dirinya ikut binasa bersama masyarakat Sodom.

Penjelasan tafsir juga membedakan nasib keturunan Nabi Luth AS berdasarkan keteguhan iman mereka. Dua putri beliau dari istri kedua yang tetap berada dalam keimanan berhasil ikut berhijrah dan diselamatkan oleh Allah SWT. Sebaliknya, putri-putri beliau dari istri pertama memilih bertahan bersama suami mereka yang enggan beriman, sehingga turut tertimpa azab kehancuran.

Melalui ulasan tersebut, Ustadz Wahyuddin menekankan ikhtibar penting mengenai hakikat dakwah dalam Islam. Beliau menyampaikan bahwa tugas utama seorang dai atau pengajak kebaikan hanyalah menyampaikan kebenaran dengan cara yang hikmah dan santun. Mengenai apakah dakwah tersebut diterima atau ditolak, hal itu sepenuhnya merupakan otoritas dan hidayah dari Allah SWT.

Sikap tawakal menjadi kunci utama bagi setiap muslim yang berusaha menegakkan amar ma’ruf nahi munkar di tengah masyarakat. Seorang pejuang kebaikan tidak boleh berkecil hati atau berputus asa apabila ajakannya mendapat penolakan. Begitu pula saat dakwahnya membuahkan hasil, ia tidak sepatutnya sombong karena kesadaran bahwa perubahan hati seseorang semata-mata terjadi atas izin Allah SWT.

Selain itu, ceramah ini memaparkan perbedaan mendasar antara tugas Nabi Muhammad SAW dengan para nabi terdahulu. Para nabi sebelum Rasulullah SAW diutus khusus untuk kaum dan periode waktu tertentu. Adapun Nabi Muhammad SAW diutus sebagai rahmatan lil ‘alamin untuk membawa risalah kebenaran bagi seluruh umat manusia hingga akhir zaman.

Ustadz Wahyuddin juga menyinggung peringatan Allah SWT dalam Surah As-Saffat ayat 137–138 kepada penduduk Makkah. Kaum musyrikin Makkah disindir karena mereka sering melewati bekas reruntuhan negeri Sodom saat melakukan perjalanan dagang ke Syam. Keberadaan peninggalan tersebut seharusnya menjadi bahan perenungan logis agar mereka tidak mengulangi kebiasaan buruk dan kedurhakaan kaum masa lalu.

Sejarah dan kisah-kisah dalam Al-Qur’an pada hakikatnya dihadirkan sebagai cermin dan pelajaran bernilai tinggi bagi perjalanan hidup manusia. Memahami rekam jejak peristiwa masa lalu memungkinkan umat beriman merencanakan langkah kehidupan yang lebih baik, terhindar dari lubang kesalahan yang sama, serta terus memperkuat kualitas keimanan.

Pengajian yang berlangsung khidmat tersebut ditutup dengan panjatan doa bersama. Para jamaah berdoa memohon keampunan atas segala dosa, petunjuk kebaikan, kesehatan, umur yang berkah, serta keteguhan hati agar senantiasa berada dalam jalan ketakwaan hingga akhir hayat.

Sumber: Ngaji Bakda Shubuh bersama Drs. Wahyuddin, M.Ei., yang membahas Tafsir Al-Misbah diselengarakan di Masjid Manarul Ilmi ITS Surabaya pada Rabu, 13 Juli 2026.

E-Buletin