Menjaga Benteng Keluarga di Tengah Dinamika Syahwat Kekinian

Ustadz H. Heru Kusumahadi, Lc., M.Pd.I.
Ustadz H. Heru Kusumahadi, Lc., M.Pd.I.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Di era digital yang serba terbuka, dinamika kehidupan modern membawa tantangan baru yang kian kompleks bagi ketahanan keluarga dan moral generasi muda. Maraknya paparan konten negatif, pergeseran nilai-nilai sosial, hingga penyimpangan perilaku menjadi fenomena yang tidak lagi bisa diabaikan. Fenomena ini disampaikan secara lugas oleh Ustadz H. Heru Kusumahadi, Lc., M.Pd.I. dalam kajian subuh bertajuk “Dinamika Syahwat Kekinian” yang berlangsung pada Ahad, 12 Juli 2026, bertempat di Masjid As Sakinah Pantai Mentari, Surabaya.

Dalam pemaparannya, Ustadz Heru mengawalinya dengan membedakan secara mendalam antara konsep nafsu dan syahwat yang sering dianggap serupa oleh masyarakat awam. Meskipun keduanya bermakna kecondongan diri terhadap sesuatu, terdapat perbedaan mendasar pada pemicu dan batas kepuasannya. Nafsu umumnya didorong oleh kebutuhan internal tubuh dan akan berhenti ketika kebutuhan tersebut terpenuhi, seperti halnya dorongan untuk makan atau minum saat lapar dan haus.

Sebaliknya, syahwat lebih banyak terstimulasi oleh faktor eksternal, seperti apa yang dilihat, didengar, dan ditangkap oleh indra dari lingkungan sekitar. Berbeda dengan nafsu yang memiliki titik jenuh biologis, syahwat tidak memiliki batas pemenuhan dan cenderung menuntut kepuasan yang terus-menerus jika tidak dikendalikan. Oleh karena itu, jika syahwat dibiarkan lepas kontrol tanpa batasan norma dan agama, dampaknya dapat meluas hingga merusak tatanan sosial masyarakat.

Ustadz Heru kemudian membeberkan fakta dan data memprihatinkan mengenai tingginya angka kasus pornografi, perilaku seks bebas, hingga peningkatan perceraian akibat perselingkuhan. Tak kalah mengkhawatirkan, lonjakan kasus penyakit menular seksual seperti HIV/AIDS kini banyak dipicu oleh perilaku hubungan sesama jenis (LSL). Bahkan, fenomena penyimpangan yang tak masuk akal, seperti fenomena fetisme hingga perilaku incest dalam grup-grup media sosial, kini menjadi ancaman nyata yang sudah merambah ke berbagai wilayah.

Kendati fenomena negatif kerap mengemuka, kajian ini menegaskan bahwa syahwat pada dasarnya adalah anugerah dan fitrah yang Allah SWT ciptakan dengan maksud baik. Syahwat berfungsi sebagai pengikat kasih sayang antara suami dan istri, pelindung keutuhan rumah tangga, serta dorongan untuk melanjutkan keturunan dan mengelola harta. Yang menjadi permasalahan utama bukanlah keberadaan syahwat itu sendiri, melainkan ketika penyalurannya keluar dari koridor hukum syariat.

Ancaman dinamika syahwat kekinian ini dirasakan kian dekat karena telah menyusup hingga ke dalam ruang-ruang privat keluarga melalui gawai. Banyak anak usia sekolah yang kini terpapar konten dewasa dan permainan digital yang tidak sesuai dengan usianya tanpa sepengetahuan orang tua. Kondisi ini membuat generasi muda berada dalam posisi rentan karena menerima gelombang informasi tanpa dibekali pemahaman moral yang cukup untuk memilah mana yang benar dan salah.

Guna membentengi keluarga dari dampak buruk tersebut, langkah pertama yang sangat krusial adalah membangun komunikasi yang terbuka dan intensif antara orang tua dan anak. Edukasi mengenai batasan pergaulan, penjagaan diri, dan pendidikan karakter tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada lembaga formal atau penceramah umum. Hubungan emosional yang erat antara orang tua dan anak menjadi kunci utama agar pesan moral dapat diterima dengan baik tanpa terkesan menghakimi.

Pendampingan orang tua juga perlu disesuaikan dengan tahapan perkembangan serta fitrah gender anak. Pada fase anak-anak, peran kedua orang tua sangat dibutuhkan untuk mengokohkan identitas diri dan keberanian. Seiring bertambahnya usia menuju masa akil balig, pola interaksi mulai disesuaikan, di mana figur ibu memegang peran penting dalam mengedukasi anak laki-laki tentang cara menghormati wanita, sementara ayah menjadi benteng edukasi bagi anak perempuan dalam menjaga kehormatannya.

Momen untuk menyampaikan edukasi moral dan nilai-nilai keagamaan ini sebaiknya dilakukan secara natural dan santai. Orang tua dianjurkan tidak menggunakan metode formal yang kaku yang justru dapat memicu jarak atau rasa canggung pada anak. Memanfaatkan momentum berita yang sedang hangat dibicarakan atau saat berkumpul santai bersama keluarga menjadi pendekatan yang jauh lebih efektif untuk menyisipkan nasihat kehidupan.

Selain ikhtiar secara pola asuh, benteng perlindungan yang tidak boleh dilupakan adalah pendekatan spiritual melalui peningkatan kualitas ibadah. Orang tua dianjurkan untuk tidak hanya berfokus pada sukses materi anak, tetapi juga secara konsisten memohon keselamatan moral dan keimanan mereka. Menambahkan amalan ibadah sunnah yang diniatkan khusus untuk memohon penjagaan Allah SWT bagi putra-putri menjadi ikhtiar batin yang sangat berharga.

Doa yang terus-menerus dipanjatkan oleh orang tua memiliki kekuatan besar untuk mengalihkan keburukan menjadi keselamatan bagi anak-anaknya. Dalam kajian tersebut, dicontohkan pula doa yang diajarkan Rasulullah SAW untuk memohon ampunan dosa, kesucian hati, serta penjagaan kemaluan bagi generasi muda. Doa ini menjadi senjata ampuh bagi setiap orang tua di tengah derasnya arus fitnah akhir zaman.

Sebagai penutup, menjaga anak-anak dari ancaman dinamika syahwat kekinian membutuhkan sinergi utuh antara keteladanan, edukasi yang tepat, dan ketaatan spiritual di dalam rumah tangga. Dengan keterlibatan aktif orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak serta menyandarkan seluruh ikhtiar kepada Allah SWT, diharapkan benteng keluarga tetap kokoh melahirkan generasi yang selamat, berbudi pekerti luhur, dan berpegang teguh pada nilai-nilai agama.

Sumber: Kajian agama bertajuk “Dinamika Syahwat Kekinian” yang disampaikan oleh Ustadz H. Heru Kusumahadi, Lc., M.Pd.I. di Masjid As Sakinah Pantai Mentari, Surabaya, pada Minggu, 12 Juli 2026.

E-Buletin