Kabarmasjid.id, Surabaya – Setiap manusia dalam perjalanan hidupnya pasti pernah diuji dengan dinamika takdir yang tidak sesuai dengan keinginan dan prasangka pribadinya. Ketika musibah, kesempitan, atau kegagalan menghampiri, tak jarang timbul gejolak batin yang mempertanyakan ketetapan Sang Pencipta. Berangkat dari fenomena spiritual ini, kajian keislaman yang dipimpin oleh Ustadz Drs. Najih Ihsan, M.Pd.I di Masjid Al Hikmah Gayungsari, Surabaya, pada Minggu 12 Juli 2026, mengupas secara mendalam pentingnya menjaga prasangka baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai pondasi utama akidah seorang muslim.
Dalam pembukaannya, Ustadz Najih Ihsan menegaskan bahwa kewajiban menjaga prasangka baik (husnudzon) kepada Allah bukan sekadar imbauan moral, melainkan bagian tak terpisahkan dari makna dan konsekuensi dua kalimat syahadat. Seorang hamba yang menyatakan keimanannya secara mantap dituntut untuk meyakini bahwa segala ketentuan yang ditetapkan oleh Allah memiliki kebaikan yang mutlak. Ketika rasa kecewa memicu prasangka buruk (su’udzon), di situlah kesempurnaan tauhid seseorang mulai tergerus dan menyimpang dari hakikat keimanan yang sejati.
Landasan utama untuk membangun prasangka baik tersebut dimulai dari pemahaman mendalam mengenai Asmaul Husna atau nama-nama Allah yang maha indah. Ustadz Najih Ihsan menjelaskan bahwa nama-nama Allah merupakan cerminan mutlak dari sifat dan perbuatan-Nya (af’al). Karena seluruh Asmaul Husna bernilai sempurna dan maha baik, maka seluruh sifat serta perbuatan Allah yang ditimpakan kepada makhluk-Nya sudah pasti mengandung kebaikan dan keadilan yang tidak pernah salah.
Dalam realitas kehidupan sehari-hari, takdir yang dirasakan oleh manusia memang dapat terasa manis maupun pahit. Namun, penceramah mengingatkan agar manusia tidak mengukur kebaikan perbuatan Allah semata-mata dari kenikmatan fisik atau emosional yang dirasakannya saat itu. Rasa tidak enak atau penderitaan yang dialami seseorang bukanlah bukti bahwa ketetapan Allah itu buruk, melainkan gambaran keterbatasan sudut pandang manusia dalam menangkap hikmah Ilahi.
Materi kajian kemudian menyoroti kedalaman makna hadis tentang 99 nama Allah yang sering kali dipahami secara tekstual semata oleh kebanyakan masyarakat. Ustadz Najih Ihsan menekankan bahwa Asmaul Husna tidaklah terbatas pada jumlah 99 saja, melainkan sangat luas dan mencakup seluruh manifestasi kekuasaan Allah di alam semesta. Jumlah 99 yang disebutkan dalam hadis merupakan janji jaminan surga bagi siapa saja yang mampu memelihara, memahami, serta mengorelasikan nama-nama tersebut ke dalam setiap momen kehidupannya.
Korelasi antara Asmaul Husna dan realitas hidup tercermin dalam setiap helai napas dan aktivitas manusia dari waktu ke waktu. Ketika seseorang diberi keselamatan dalam perjalanan, nikmat menyantap makanan, hingga rezeki kesehatan fisik, semuanya terhubung secara langsung dengan nama-nama Allah seperti As-Salam, Ar-Razzaq, dan Al-Qawiy. Kesadaran akan kehadiran sifat-sifat Allah ini seharusnya membentengi hati nurani manusia agar senantiasa bersyukur dan terhindar dari sikap mengeluh.
Sebagai ilustrasi sejarah yang sangat menyentuh, kajian ini membedah kembali peristiwa tragis kekalahan umat Islam dalam Perang Uhud sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an Surat Ali ‘Imran ayat 154. Gugurnya 70 sahabat terbaik, termasuk paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthallib, menjadi ujian keimanan yang sangat berat bagi para pengikut Rasulullah saat itu. Peristiwa memilukan tersebut memicu dinamika psikologis dan memisahkan dengan jelas antara barisan orang beriman dan golongan munafik.
Di tengah kesedihan yang mendalam seusai Perang Uhud, timbul prasangka buruk dari kaum munafik yang meragukan janji pertolongan Allah serta kenabian Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Al-Qur’an mengabadikan sikap mereka yang berprasangka jahiliyah (dzannal jahiliyyah) dengan mengandaikan bahwa seandainya para korban tidak ikut berperang, niscaya mereka tidak akan terbunuh. Prasangka tersebut mengabaikan fakta logis bahwa takdir kematian dan ketetapan Allah tidak dapat dihindari oleh siapa pun.
Ustadz Najih Ihsan menegaskan bahwa ungkapan pengandaian yang bernada menyesali takdir merupakan salah satu bentuk ucapan yang dapat merusak akidah seseorang. Ketetapan ajal (qadar) telah tertulis dengan pasti, sehingga di mana pun manusia berada, kematian akan tetap menjemputnya jika waktunya telah tiba. Mengakui takdir Allah serta tidak menyalahkan keadaan merupakan bukti nyata dari kematangan iman seorang hamba dalam menghadapi musibah.
Bahaya dari sikap su’udzon kepada Allah juga dijelaskan secara tegas melalui ancaman azab sebagaimana termaktub dalam Surat Al-Fath ayat 6. Al-Qur’an menyebutkan bahwa prasangka buruk kepada Allah merupakan ciri khas dari perilaku orang-orang munafik dan musyrik, baik laki-laki maupun perempuan. Mereka yang memelihara prasangka buruk akan mendatangkan kemurkaan Allah serta mendapat balasan berupa tempat kembali yang amat buruk di akhirat kelak.
Ustadz Najih Ihsan juga mengingatkan jamaah agar senantiasa bermuhasabah dan berhati-hati terhadap penyakit kemunafikan yang kerap menyeruak tanpa disadari. Kekhawatiran akan terjerumus ke dalam iklim nifak pernah dirasakan oleh sahabat besar seperti Umar bin Khattab yang sangat cermat menjaga kebersihan hatinya. Mengikis sikap malas dalam beribadah dan menjauhi prasangka buruk menjadi benteng utama agar seorang muslim tidak terkontaminasi oleh karakter kaum munafik.

Sebagai penutup kajian, Ustadz Najih Ihsan mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa memperdalam ilmu agama dan memperkuat keimanan terhadap takdir Allah, baik takdir yang baik maupun yang terasa buruk. Kunci utama agar seseorang selamat dari penyakit su’udzon adalah dengan terus belajar mengenal Allah (marifatullah), memahami nama dan sifat-Nya, serta meyakini keberadaan hikmah di balik setiap peristiwa. Dengan ikhtiar dan doa yang konsisten, seorang hamba akan mampu meraih ketenangan jiwa serta kesempurnaan tauhid dalam mengarungi gelombang kehidupan.
Sumber: kajian kitab Tauhid bertema “Larangan Berprasangka Buruk Kepada Allah” yang disampaikan oleh Drs. Najih Ihsan, M.Pd.I di Masjid Al Hikmah Gayungsari, Surabaya, pada Minggu 12 Juli 2026.