Kabarmasjid.id, Surabaya –Kematian adalah satu-satunya kepastian dalam hidup yang ironisnya paling sering dilupakan oleh manusia. Di tengah hiruk-pikuk mengejar dunia, manusia kerap lupa bahwa napas yang berembus saat ini bisa jadi merupakan embusan yang terakhir. Melalui mimbar Jumat, umat Muslim kembali diingatkan untuk merenungkan sejauh mana persiapan yang telah dilakukan sebelum malaikat maut datang menjemput secara tiba-tiba.
Pesan spiritual yang mendalam ini disampaikan oleh Ustadz Dr. H. Muhammad Arif, MA saat bertindak sebagai khatib dalam ibadah salat Jumat yang disiarkan secara langsung oleh Masjid Ash-Shoobiriin TV pada Jumat, 10 Juli 2026. Di hadapan ratusan jemaah yang memadati ruang utama Masjid Ash-Shoobiriin, beliau menyampaikan khotbah menyentuh hati bertema “Kematian Tanpa Penyesalan”. Khotbah ini mengajak setiap hamba untuk mengevaluasi diri agar tidak menjadi golongan yang merugi di akhirat kelak.
Mengawali khotbahnya, Ustadz Muhammad Arif membedah pesan mendalam yang terkandung dalam surah Luqman ayat 34. Ayat terakhir dalam surah tersebut menegaskan bahwa ada lima perkara gaib yang kuncinya hanya dipegang dan diketahui oleh Allah SWT. Salah satu perkara besar yang mengawali ayat tersebut adalah tentang kepastian hari kiamat, di mana tidak ada satu pun makhluk di jagat raya ini—baik malaikat maupun nabi—yang mengetahui kapan momentum mahadahsyat itu akan terjadi.
Khatib kemudian menjelaskan bagaimana keterbatasan manusia tercermin dalam fenomena alam seperti turunnya hujan. Meskipun manusia modern saat ini telah mencapai puncak kemajuan teknologi melalui badan meteorologi seperti BMKG yang mampu memprediksi cuaca, ketetapan mutlak mengenai seberapa besar kadar air yang turun tetap berada dalam kuasa Ilahi. Seringkali, takdir Allah melampaui prediksi manusia, seperti fenomena hujan deras yang mengguyur Kota Surabaya selama dua hari berturut-turut di tengah puncak musim kemarau beberapa waktu lalu.
Hal serupa juga terjadi dalam dunia kedokteran terkait misteri janin di dalam rahim seorang ibu. Keberadaan teknologi ultrasonografi (USG) memang dapat membantu manusia untuk melihat perkiraan jenis kelamin bayi yang dikandung. Namun, Ustadz Muhammad Arif mengingatkan bahwa hal-hal substansial di balik kehidupan anak tersebut kelak—apakah ia akan tumbuh menjadi anak yang saleh, bagaimana garis rezekinya, hingga apakah ia akan menjadi anak yang durhaka—tetap menjadi rahasia mutlak yang hanya diketahui oleh Allah SWT.
Lebih lanjut, khotbah tersebut menyoroti ketidakberdayaan manusia dalam merencanakan masa depannya sendiri. Manusia boleh saja menyusun rencana yang matang untuk esok hari, tetapi tidak ada satu pun jiwa yang tahu apa yang sebenarnya akan ia kerjakan dan apa yang akan menimpanya satu detik kemudian. Guna menggambarkan realitas ini, khatib menceritakan sebuah kisah nyata tentang seorang jemaah yang menghadiri reuni umrah dengan penuh kebahagiaan sejak pagi hari, namun tiba-tiba mengembuskan napas terakhirnya di atas sajadah tepat sebelum sempat menyelesaikan salat Asar.
Puncak dari segala rahasia gaib tersebut adalah ketidaktahuan manusia mengenai waktu, tempat, dan cara mereka akan meninggal dunia. Tragedi-tragedi besar, seperti kecelakaan maut yang melibatkan kereta api, menjadi bukti nyata bahwa tidak ada seorang pun korban yang menyangka hari itu adalah akhir dari perjalanan hidup mereka. Ketidakpastian inilah yang seharusnya disikapi oleh setiap Muslim dengan kewaspadaan penuh, bukan dengan kelalaian yang melinakan.
Dalam khotbahnya, Ustadz Muhammad Arif juga membagikan sebuah kisah inspiratif tentang sekelompok pendaki internasional yang mencoba menaklukkan Mount Everest. Saat badai salju dahsyat melanda dan mengancam nyawa mereka, seorang pendaki asal Amerika bertanya kepada dua pendaki Muslim asal Pakistan mengenai apakah mereka tidak takut mati. Jawaban kedua pemuda Muslim tersebut sungguh menggetarkan hati: mereka sama sekali tidak takut pada kematian karena itu adalah janji yang pasti, melainkan mereka khawatir apakah saat kematian itu datang, diri mereka sudah berada dalam kondisi siap atau belum.
Kekhawatiran akan ketidaksiapan tersebut selaras dengan peringatan Allah di dalam Al-Qur’an mengenai dua kelompok manusia yang akan mengalami penyesalan luar biasa saat sakaratulmaut. Kelompok pertama digambarkan dalam surah Al-Mu’minun ayat 99-100, yaitu orang-orang kafir yang mendustakan ayat-ayat Allah. Ketika nyawa berada di tenggorokan, mereka merengek dan memohon dengan sangat agar dikembalikan ke dunia untuk memperbaiki diri, namun Allah menolak mentah-mentah dan menegaskan adanya alam barzakh sebagai dinding pemisah yang tak mungkin ditembus kembali.
Penyesalan yang tidak kalah dahsyat ternyata juga bisa dialami oleh kelompok kedua, yakni orang-orang beriman yang lalai, sebagaimana diabadikan dalam surah Al-Munafiqun. Golongan ini akan memohon agar Allah menunda kematian mereka walau hanya sekejap agar mereka bisa bersedekah dan mengerjakan amal saleh. Ustadz Muhammad Arif mengingatkan dengan tegas bahwa jika ajal telah tiba, Allah tidak akan pernah memajukannya atau memundurkannya walau sedetik pun, sehingga permohonan tersebut akan berakhir sia-sia.

Menutup khotbah pertamanya, Ustadz Muhammad Arif memberikan tamparan spiritual bagi seluruh jemaah terkait waktu yang sering disia-siakan selama hidup. Sangat ironis jika manusia yang telah dianugerahi umur panjang hingga 60 atau 65 tahun oleh Allah, kelak di akhir hayatnya justru merengek meminta tambahan waktu karena semasa hidup tidak sempat mendirikan salat atau bersedekah. Oleh karena itu, kalimat kafa bil mauti wa’idhan (cukuplah kematian itu menjadi penasihat) harus benar-benar ditanamkan dalam sanubari agar setiap Muslim termotivasi memanfaatkan sisa umurnya dengan bijak.
Sebagai solusi nyata agar terhindar dari penyesalan di akhir hayat, jemaah diajak untuk merutinkan ibadah sedekah yang memiliki keutamaan luar biasa, di mana pahalanya akan dilipatgandakan hingga 700 kali lipat dan menjadi pelindung di hari kiamat. Melalui khotbah Jumat di Masjid Ash-Shoobiriin ini, umat Muslim kembali disadarkan bahwa orang yang paling berbahagia bukanlah mereka yang menimbun harta di dunia, melainkan mereka yang telah beristirahat di alam kubur namun pahala jariyahnya tetap mengalir tiada henti karena persiapan matang yang mereka lakukan sebelum ajal menjemput.
Sumber: Khutbah Jum’at oleh Ustadz Dr. H. Muhammad Arif, MA bertema “Kematian Tanpa Penyesalan” di Masjid Ash-Shoobiriin Surabaya pada 10 Juli 2026.