Kabarmasjid.id, Surabaya – Kesibukan duniawi kerap kali melalaikan manusia dari esensi peribadatan yang sesungguhnya, padahal Allah SWT telah menyediakan momentum-momentum emas di setiap pekannya bagi hamba yang ingin berserah diri secara total. Merujuk pada suasana khidmat menjelang pelaksanaan ibadah ibadah mulia, sebuah kajian mendalam mengenai Kitab Usfuriyah garapan Syekh Muhammad bin Abu Bakar sukses diselenggarakan di Masjid Al-Ikhsan, Surabaya, bersama narasumber terkemuka Ustadz H. Maimun Zuhdi yang mengupas tuntas keutamaan hari Jumat serta rahasia spiritual di dalamnya.
Dalam pemaparannya yang berbobot, beliau mengingatkan para jemaah akan pentingnya kedisiplinan waktu saat menghadiri ibadah shalat Jumat, sebuah hal yang sering kali disepelekan oleh sebagian kaum muslimin urban. Ustadz Maimun menjelaskan secara gamblang bahwa para malaikat berdiri di pintu-pintu masjid untuk mencatat setiap hamba yang masuk berdasarkan urutan kedatangannya. Namun, lembaran catatan istimewa tersebut akan segera ditutup tepat ketika sang khatib naik ke atas mimbar, sehingga mereka yang datang terlambat hanya akan menggugurkan kewajiban tanpa berkesempatan meraih pahala kemuliaan yang melimpah.
Lebih lanjut, kajian ini menguraikan waktu-waktu paling mustajab untuk mengetuk pintu langit di hari Jumat yang sangat sayang apabila dilewatkan begitu saja. Salah satu momentum terbaik adalah saat prosesi shalat Jumat sedang berlangsung, khususnya ketika seorang hamba bersujud di rakaat terakhir maupun sesaat sebelum mengucapkan salam pada tahiyat akhir. Beliau mengingatkan agar jemaah mengoptimalkan doa batin dalam hati pada detik-detik krusial tersebut guna memohon keselamatan, kesehatan, serta kelapangan rezeki secara tulus kehadirat Allah SWT.
Tak hanya di dalam prosesi ritual shalat, Ustadz Maimun juga menjabarkan waktu mustajab kedua yang berlandaskan pada kompilasi riwayat sahih para sahabat Nabi, yakni rentang waktu setelah shalat Asar hingga menjelang terbenamnya matahari. Jemaah dianjurkan untuk tidak terburu-buru beranjak dari tempat duduknya pasca-Asar, melainkan bertahan dalam zikir sembari menanti datangnya waktu Maghrib. Aktivitas berdiam diri di dalam masjid untuk menunggu shalat berikutnya secara teologis bernilai sama dengan ibadah shalat yang tiada terputus di mata para malaikat.
Puncak keistimewaan doa di hari Jumat kian sempurna dengan diajarkannya sebuah amalan kalimat thayyibah mulia yang bersumber dari riwayat sahabat Jabir bin Abdillah. Umat Islam dianjurkan merutinkan doa agung “Lailaha illa anta ya Hannan ya Mannan ya Badi’as samawati wal ard ya Dzal Jalali wal Ikram” demi bermunajat atas hajat-hajat yang besar. Kalimat mulia ini diyakini memiliki kekuatan spiritual yang luar biasa, bahkan jika seseorang memohon sesuatu yang luasnya membentang antara barat dan timur, Allah SWT dengan kemurahan-Nya akan mengijabah permintaan tersebut.
Guna memperkuat urgensi mendahulukan akhirat di atas segala urusan duniawi, Ustadz Maimun Zuhdi mengisahkan sebuah narasi klasik yang sangat menyentuh hati tentang tokoh sufi terkemuka bernama Hamid Alihafi. Pada suatu hari Jumat, menjelang adzan dikumandangkan, Hamid diuji dengan tiga musibah duniawi yang terjadi secara simultan di mana unta tunggangannya mendadak hilang, beras gandum miliknya raib di tempat penggilingan, dan saluran air sawahnya meluap pada saat yang tidak tepat.
Mayoritas manusia modern mungkin akan memilih untuk menyelamatkan harta bendanya terlebih dahulu dan merelakan ibadah mereka tertinggal demi kalkulasi materi belaka. Namun, keimanan Hamid Alihafi berada di level yang berbeda karena ia secara sadar memutuskan untuk mengabaikan ketiga urusan dunia tersebut demi mengejar saf terdepan shalat Jumat. Ia berserah diri sepenuhnya, meyakini bahwa hilangnya dunia tidak sebanding dengan hilangnya kesempatan berdialog dengan Sang Pencipta pada hari yang agung.
Keajaiban iman pun terbukti nyata ketika Hamid Alihafi melangkah kembali ke kediamannya dengan perasaan cemas akan kondisi rumah tangga dan tanamannya yang kemungkinan besar telah hancur. Allah SWT justru membuktikan janji-Nya secara tunai di mana unta yang hilang telah kembali ke depan rumah karena ketakutan dikejar macan, dan sang istri rupanya sedang menanak nasi dari gandum yang diantarkan oleh tetangganya akibat salah ambil di tempat gilingan.
Tidak berhenti sampai di situ, ketika Hamid memeriksa lahan pertaniannya yang semula diperkirakan mengering atau rusak, ia justru mendapati pemandangan yang menakjubkan. Petani yang bertugas menjaga saluran air di petak sebelumnya ternyata tertidur pulas, sehingga aliran air meluap secara alami dan mengairi sawah Hamid dengan sempurna tanpa menyisakan kerusakan. Melalui kisah nyata ini, Ustadz Maimun menegaskan sebuah adagium spiritual bahwa barangsiapa mengejar urusan akhirat, maka dunia akan merangkak mengikuti di belakangnya.
Kajian Kitab Usfuriyah ini ditutup dengan sebuah kisah inspiratif lain dari zaman Nabi Musa AS yang membahas korelasi kuat antara sedekah dan perubahan takdir seorang hamba. Dikisahkan terdapat sepasang suami istri saleh yang diberikan pilihan mutlak oleh Allah SWT melalui wahyu Nabi Musa, yakni memilih masa muda yang bergelimang harta dengan masa tua yang miskin, atau memilih hidup serba kekurangan di masa muda demi merasakan kekayaan di masa tua.

Sang istri yang memiliki kecerdasan spiritual luar biasa kemudian memberikan pandangan visioner kepada suaminya untuk memilih kekayaan di masa muda mereka yang produktif. Landasan argumennya sangat mulia, yakni dengan kekayaan di masa muda yang sehat, mereka dapat mengalokasikannya secara maksimal untuk bersedekah dan membantu perjuangan kaum duafa, ketimbang menjadi kaya di masa tua yang energinya habis hanya untuk biaya pengobatan rumah sakit.
Pilihan visioner tersebut diiringi dengan tindakan nyata di mana setiap kali rezeki mengalir, mereka segera mendistribusikannya kepada sesama tanpa ada rasa kekhawatiran sedikit pun akan hari esok yang miskin. Melihat ketulusan dan kedahsyatan sedekah yang konsisten dilakukan oleh pasangan tersebut, Allah SWT akhirnya mengubah garis takdir mereka secara total dan menganugerahkan kekayaan yang melimpah sepanjang sisa hidup mereka tanpa pernah mencicipi kemiskinan yang dijanjikan sebelumnya.
Sumber: Kajian Kitab Al-Usfuriyah bersama Ustadz H. Maimun Zuhdi yang disiarkan oleh kanal YouTube Masjid Al-Ikhsan Surabaya pada Senin 6 Juli 2026.