Kabarmasjid.id, Surabaya – Di tengah derasnya arus modernisasi dan tuntutan kehidupan, banyak orang tua yang menghabiskan waktu dan energinya demi mengumpulkan harta benda untuk masa depan anak-anak mereka. Paradigma yang berkembang di masyarakat seolah-olah menyatakan bahwa kesuksesan mengasuh anak diukur dari seberapa banyak aset materi yang ditinggalkan. Namun, esensi utama dalam membentuk generasi penerus yang tangguh dan mulia sering kali terlupakan, yakni penanaman fondasi karakter, moral, dan etika yang kuat.
Untuk mengupas tuntas fenomena ini, Masjid Syafi’i Surabaya menyelenggarakan sebuah Kajian Spesial bertajuk “Pentingnya Mewariskan Akhlaq dan Adab” pada Kamis, 9 Juli 2026, dengan menghadirkan narasumber utama Al-Ustadz Yusuf Usman Baisa, Lc.. Dalam pemaparannya, beliau menekankan bahwa fokus utama orang tua saat ini harus didekonstruksi dari yang awalnya sekadar mengejar warisan materi menuju warisan nilai yang jauh lebih berharga. Kajian ini membuka mata para jemaah mengenai betapa krusialnya membekali anak dengan tata krama sebelum mereka dilepas ke dunia luar.
Ustadz Yusuf Usman Baisa mengawali penjelasannya dengan sebuah analogi yang mendalam mengenai manusia sebagai sebuah wadah. Beliau mengibaratkan manusia seperti botol kosong; jika botol tersebut diisi dengan air putih yang jernih, maka botol itu akan dinilai baik dan bermanfaat bagi yang melihatnya. Sebaliknya, jika botol yang sama diisi dengan arak atau minuman keras, maka persepsi dan nilai dari botol tersebut seketika akan berubah menjadi buruk. Begitu pula dengan anak-anak kita, nilai kemuliaan mereka tidak ditentukan oleh kemasan luar, melainkan oleh apa yang diisikan ke dalam jiwa mereka.
Lebih lanjut, beliau memperingatkan dampak buruk jika orang tua hanya fokus mewariskan harta berlimpah kepada anak yang tidak memiliki adab. Harta materi di tangan individu yang tidak bermoral hanya akan menjadi instrumen untuk memicu perbuatan dosa, kemaksiatan, dan kejahatan. Ironisnya, orang tua yang telah wafat pun berpotensi ikut menanggung aliran dosa jariyah tersebut karena telah gagal mendidik anak mereka dengan benar semasa hidup. Oleh karena itu, adab harus diposisikan di atas segalanya sebelum harta itu diserahkan.
Dalam konteks keilmuan, kajian ini juga memberikan pandangan kritis mengenai perbandingan antara ilmu dan adab. Ustadz Yusuf menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan pada hakikatnya adalah sebuah senjata. Jika senjata tersebut dipegang oleh orang yang beradab, ia akan digunakan untuk membawa kemaslahatan dan melindungi sesama. Namun, jika ilmu dikuasai oleh orang yang tidak beradab, senjata tersebut akan meletus ke segala arah, menciptakan manipulasi, kelicikan, dan kejahatan di tengah masyarakat.
Tantangan ini menjadi kian nyata di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) seperti saat ini. Ustadz Yusuf mengingatkan bahwa saat ini siapa pun bisa menjadi “berilmu” hanya dalam hitungan detik dengan bantuan teknologi AI. Namun, mesin dan robot tercanggih sekalipun tidak akan pernah memiliki niat, kesadaran nurani, rasa cinta, benci, ataupun pemahaman tentang pahala dan dosa. Kelebihan mutlak manusia yang tidak bisa digantikan oleh teknologi manapun adalah kemampuan untuk memiliki adab dan moralitas.
Guna memperjelas pembahasan, narasumber juga memaparkan perbedaan mendasar antara akhlak dan adab yang sering kali disalahpahami oleh masyarakat. Hubungan antara keduanya diibaratkan seperti hubungan antara iman dan Islam. Akhlak merupakan sifat-sifat dasar mulia—seperti kejujuran, keadilan, dan sifat amanah—yang posisinya abstrak dan tertanam di dalam jiwa manusia sehingga tidak dapat dilihat secara langsung. Sementara itu, adab adalah wujud nyata, sikap, atau perbuatan konkret yang terpancar dari akhlak tersebut dan dapat dinilai oleh orang lain.
Merujuk pada keteladanan para ulama salaf terdahulu, Ustadz Yusuf mengutip mutiara hikmah dari Sufyan al-Thawri mengenai tiga tahapan penting dalam mendidik anak. Tahapan pertama adalah fase usia 0 hingga 7 tahun, di mana anak-anak harus dipuaskan masa bermainnya namun tetap disisipi dengan nilai-nilai kebaikan. Fase bermain yang tuntas pada usia dini sangat penting agar anak tidak tumbuh menjadi orang dewasa yang suka mempermainkan hal-hal serius atau sakral dalam kehidupan kelak.
Memasuki tahapan kedua, yaitu usia 7 hingga 14 tahun, orang tua harus fokus penuh untuk melatih adab, sopan santun, tata krama, dan moralitas anak. Penanaman adab pada fase ini bertindak sebagai persiapan mental bagi anak sebelum mereka memasuki usia balig. Anak yang telah terlatih adabnya sejak dini akan jauh lebih mudah diarahkan untuk melaksanakan kewajiban agama, seperti salat dan menghormati orang tua, karena jiwa mereka telah siap menerima beban syariat.
Tahapan ketiga adalah fase usia 14 hingga 21 tahun, di mana orang tua disarankan untuk mengubah pendekatan dengan menjadikan anak sebagai teman atau sahabat. Pada usia remaja ini, pola komunikasi yang searah atau mendikte sudah tidak lagi efektif. Orang tua perlu memperbanyak ruang dialog, diskusi, dan mendengarkan pendapat mereka, sekaligus mulai memberikan tanggung jawab secara bertahap untuk melatih jiwa kepemimpinan (leadership) dalam diri anak.

Sebagai penutup kajian yang sarat akan ilmu ini, Ustadz Yusuf Usman Baisa membacakan sebuah pepatah indah yang patut direnungkan oleh setiap jemaah. Dikatakan bahwa adab mampu menghiasi dan menutupi seseorang yang ilmunya sedikit, sehingga ia tetap dihormati. Sebaliknya, ilmu setinggi langit sekalipun tidak akan mampu menutupi atau menghiasi buruknya adab seseorang yang angkuh dan kasar. Hilangnya ilmu dan adab adalah sebuah kehinaan, sedangkan bersatunya kedua hal tersebut merupakan kekayaan hakiki yang tiada tara.
Melalui momentum kajian di Masjid Syafi’i Surabaya ini, para orang tua diajak untuk menata kembali prioritas dalam mendidik anak. Harta bisa habis dalam sekejap dan ilmu bisa dengan mudah dicari melalui gawai, namun adab yang mulia akan melekat pada diri anak sepanjang hayatnya. Ketika adab berhasil diwariskan dengan baik, nilai-nilai luhur tersebut akan terus mengalir dari anak ke cucu hingga cicit, menjelma menjadi investasi akhirat berupa sedekah jariyah yang pahalanya tidak akan pernah terputus.
Sumber: Kajian spesial berjudul “Pentingnya Mewariskan Akhlaq dan Adab bersama Al-Ustadz Yusuf Usman Baisa, Lc. yang diselenggarakan Masjid Syafi’i Surabaya pada Kamis, 9 Juli 2026.