Kabarmasjid.id, Surabaya – Kerinduan akan hadirnya keadilan dan kedamaian sejati merupakan fitrah mendasar yang tertanam kuat dalam lubuk hati setiap manusia. Di tengah karut-marut dunia yang kian dipenuhi kezaliman, ketimpangan, dan penderitaan, manusia secara naluriah akan selalu mencari sosok pembebas yang mampu mengembalikan tatanan kehidupan menjadi harmonis. Narasi tentang datangnya sang penyelamat di akhir zaman ini rupanya bukan monopoli satu kaum saja, melainkan sebuah memori kolektif yang gaungnya dapat ditemukan di hampir seluruh peradaban dan keyakinan di muka bumi.
Fenomena kerinduan universal inilah yang dibahas secara mendalam dalam Kajian Ahad Subuh yang berlangsung di Masjid Al Falah, Surabaya, pada Minggu 6 Juli 2026, bersama narasumber Ustadz H. Mulyani Taufiq, M.HI. Dalam ceramah bertajuk “Al-Mahdi dalam Berbagai Tradisi,” beliau mengupas bagaimana konsep mengenai juru selamat akhir zaman hidup dan diyakini oleh berbagai pemeluk agama serta budaya. Mulai dari tradisi lokal hingga agama-agama samawi, semua memiliki potret tersendiri mengenai sosok yang dinantikan tersebut.
Ustadz Mulyani mengawali penjelasannya dengan menegaskan bahwa setiap manusia, bahkan mereka yang tidak memercayai keberadaan Tuhan sekalipun, pasti menuntut dua hal dalam hidupnya, yaitu kebahagiaan dan keadilan. Ketika seseorang atau suatu kelompok mulai merasakan kezaliman, nurani mereka akan berontak. Naluri alamiah inilah yang kemudian melahirkan mitos, keyakinan, hingga doktrin teologis di berbagai belahan dunia mengenai datangnya fajar keadilan yang dipimpin oleh seorang tokoh sentral.
Dalam tradisi masyarakat Jawa, perwujudan dari harapan ini dikenal sangat kental melalui istilah Ratu Adil atau Satrio Piningit. Konsep ini lahir dari perpaduan antara nilai-nilai luhur akidah Islam yang berakulturasi dengan sisa-sisa tradisi Hindu, Buddha, serta kepercayaan lokal animisme. Menariknya, dalam catatan sejarah bangsa Indonesia, gelar Ratu Adil ini sering kali disematkan oleh rakyat kepada tokoh pahlawan yang dianggap membawa angin segar pembebasan, seperti Pangeran Diponegoro hingga Presiden pertama RI, Bung Karno.
Melangkah ke ajaran agama Hindu, konsep sang pembebas akhir zaman ini mewujud dalam keyakinan terhadap Kalki Awatara. Umat Hindu memercayai bahwa ketika bumi telah mencapai puncak kerusakan moral dan fisik—sebuah era yang mereka sebut sebagai zaman Kaliyuga—maka lingkaran penderitaan itu akan diputus oleh sosok penyelamat. Kalki Awatara digambarkan sebagai sosok perkasa yang turun dari langit dengan menunggangi kuda putih sembari menghunus pedang untuk menumpas segala bentuk kejahatan.
Tidak jauh berbeda, agama Buddha juga memiliki visi masa depan yang serupa mengenai hadirnya sosok penyelamat bernama Maitreya atau Maitrea. Berdasarkan teologi Buddha, Maitreya dikabarkan baru akan turun dari kahyangan ketika ajaran Buddha yang murni telah sepenuhnya dilupakan dan tidak ada lagi manusia di bumi yang mengamalkannya. Kedatangannya menjadi titik balik bagi pemulihan spiritualitas umat manusia yang telah berada di titik nadir.
Perspektif lain datang dari kelompok Syiah, khususnya aliran Imamiah, yang memercayai konsep keberadaan Imam Al-Muntadhor atau Imam yang Dinantikan. Tokoh yang diyakini sebagai Imam ke-12 ini tercatat lahir pada tahun 255 Hijriah dan kemudian mengalami masa “gaib” atau menghilang secara misterius ke dalam gua sejak usia kanak-anak. Bagi kaum Syiah, sang imam tidaklah tiada, melainkan sedang menanti instruksi ilahi untuk kembali muncul ke permukaan dunia guna menegakkan keadilan yang hakiki.
Beralih ke tradisi barat, umat Nasrani, baik dari kalangan Katolik maupun Kristen Protestan, memiliki doktrin yang sangat sentral mengenai kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya, atau yang populer dengan istilah Second Coming. Dalam iman Kristiani, Yesus yang dipercaya telah bangkit dan naik ke surga akan kembali turun ke dunia di akhir zaman. Kedatangan yang kedua ini dinilai sebagai puncak dari misi penyelamatan rohani sekaligus pengadilan akhir bagi seluruh umat manusia.
Sementara itu, salah satu narasi akhir zaman yang paling dinamis dan sarat dimensi geopolitik dapat ditemukan dalam teologi agama Yahudi mengenai Mesias. Bangsa Yahudi meyakini Mesias mereka hanya akan turun apabila beberapa nubuat penting telah terpenuhi di dunia nyata. Di antara syarat-syarat tersebut adalah hancurnya wilayah Babilonia (Irak modern), berdirinya negara Israel Raya, menghijaunya tanah Palestina, hingga dibangunnya kembali Haikal Sulaiman (The Temple of King Solomon) di Yerusalem.
Menutup komparasi lintas tradisi tersebut, Ustadz Mulyani Taufiq kemudian memaparkan bagaimana akidah Islam yang sahih mendudukkan perkara ini berdasarkan petunjuk Al-Qur’an dan Hadis. Di dalam eskatologi Islam, akhir zaman akan diwarnai oleh kemunculan dua tokoh besar yang bergerak beriringan untuk memulihkan dunia pasca-fitnah besar Dajjal. Dua tokoh suci tersebut tidak lain adalah Al-Mahdi (Imam Mahdi) dan Nabi Isa Al-Masih.
Islam membagi peran kedua tokoh ini secara sangat presisi dan harmonis demi kemaslahatan umat. Imam Mahdi, yang memiliki nama serupa dengan Rasulullah yaitu Muhammad bin Abdullah dan merupakan keturunan Fatimah, akan memegang kendali kepemimpinan dari sisi politik serta roda pemerintahan. Di sisi lain, Nabi Isa Al-Masih yang turun kembali ke bumi akan bertindak sebagai panglima tertinggi dari sisi religius dan spiritual keagamaan.

Perpaduan kepemimpinan ganda ini kelak akan membawa bumi masuk ke dalam era keemasan yang luar biasa makmur, di mana konflik bersenjata sirna dan kesejahteraan merata hingga tak ada lagi orang yang memenuhi syarat menerima zakat. Kendati demikian, Ustadz Mulyani mengingatkan para jemaah bahwa sekalipun era tersebut dipenuhi keadilan, umat Islam justru dilarang untuk mendambakan hidup di masa itu. Sebab, sedamai apa pun suasananya, kemunculan Imam Mahdi dan Nabi Isa merupakan alarm terdekat bahwa dunia telah berada di bibir juru kiamat yang mengharuskan setiap insan memperbanyak bekal takwa sejak sekarang.
Sumber: Kajian Ahad Subuh Masjid Al Falah Surabaya bertajuk “Al-Mahdi dalam Berbagai Tradisi” Ustadz H. Mulyani Taufiq, M.HI. yang diselenggarakan pada Minggu 6 Juli 2026.