Bukan Sekadar Dongeng, Ini Alasan Kisah-Kisah Al-Qur’an Mampu Menenangkan Jiwa

Ustadz Dr. Imamul Arifin, L.C., M.H.I.,
Ustadz Dr. Imamul Arifin, L.C., M.H.I.,

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari ujian, rintangan, dan pasang surut keimanan yang sering kali menguji keteguhan hati. Dalam menghadapi dinamika tersebut, Al-Qur’an hadir sebagai kompas moral sekaligus obat penawar lewat untaian kisah para utusan terdahulu. Guna mengupas tuntas hikmah di balik ayat-ayat penutup Surah Hud, Takmir Masjid Manarul Ilmi ITS Surabaya menggelar kajian rutin Ngaji Bakda Shubuh pada Sabtu 4 Juli 2026 bertempat di ruang utama masjid, dengan menghadirkan narasumber utama Ustadz Dr. Imamul Arifin, L.C., M.H.I., yang mengupas secara mendalam Tafsir Surah Hud ayat 120 hingga 123.

Mengawali ceramahnya, Ustadz Imamul Arifin mengajak seluruh jemaah yang hadir secara langsung maupun melalui siaran digital untuk senantiasa bersyukur atas nikmat istiqamah. Beliau menekankan bahwa kemudahan untuk melangkahkan kaki melaksanakan salat subuh berjamaah di masjid merupakan sebuah anugerah besar yang harus dijaga. Rutinitas mentadaburi ayat-ayat suci Al-Qur’an setelah beribadah menjadi sarana krusial untuk mengisi baterai spiritual umat sebelum menghadapi hiruk-pikuk aktivitas duniawi sepanjang hari.

Masuk pada inti pembahasan, beliau menjelaskan bahwa ayat ke-120 dari Surah Hud menegaskan fungsi utama dari disampaikannya kisah para nabi dan rasul dalam kitab suci. Allah Subhanahu wa taala sengaja menceritakan sejarah perjuangan para utusan terdahulu kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk meneguhkan hati beliau. Tantangan dakwah yang berat, penolakan yang masif, hingga ejekan dari kaum kafir Quraisy kala itu membutuhkan sandaran spiritual yang kuat, yang salah satunya diperoleh melalui refleksi sejarah para pendahulu.

Lebih lanjut, narasumber yang merupakan pakar hukum Islam ini menguraikan perbedaan mendasar antara istilah “kisah” dalam Al-Qur’an dengan “cerita” atau dongeng pada umumnya. Jika cerita fiktif sering kali ditambahkan bumbu karangan dan manipulasi demi menarik simpati, maka kisah Al-Qur’an adalah kebenaran mutlak (al-haq) yang terjadi apa adanya tanpa rekayasa. Kisah-kisah nyata tersebut diturutkan bukan sekadar sebagai materi sejarah, melainkan sebagai sumber nasihat (mau’idhah) dan peringatan yang hidup bagi orang-orang yang beriman.

Dalam konteks psikologis dakwah, Ustadz Imamul Arifin menyebutkan bahwa kisah-kisah ini juga berfungsi sebagai obat penawar bagi rasa kecewa dan sedih yang dialami Rasulullah ﷺ. Sebagai manusia, Nabi Muhammad ﷺ terkadang merasa bersalah atau sedih melihat umatnya yang enggan menerima kebenaran dan memilih jalan kesesatan. Melalui Surah Hud, Allah mengingatkan sang rasul bahwa tugas utamanya hanyalah menyampaikan, sementara keputusan akhir mengenai hidayah sepenuhnya berada di tangan Sang Pencipta.

Menariknya, kajian ini juga membedah secara mendalam mengenai klasifikasi hidayah yang sering disalahpahami oleh masyarakat awam. Ustadz Imamul Arifin membaginya menjadi dua tahapan besar, yaitu Hidayatul Irsyad dan Hidayatut Taufik. Hidayatul Irsyad adalah tingkat pengetahuan di mana seseorang mampu membedakan dengan jelas antara perkara yang halal dan haram, ataupun antara kebajikan dan kemaksiatan lewat ilmu yang dipelajarinya.

Namun, ilmu saja tidak cukup jika tidak dibersamai dengan tahapan kedua, yakni Hidayatut Taufik. Tahap ini merupakan hak prerogatif Allah yang mewujud dalam bentuk kekuatan fisik dan mental bagi seorang hamba untuk mengamalkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Oleh karena itu, beliau mengingatkan jemaah agar tidak hanya mengejar wawasan keislaman, tetapi juga terus mengetuk pintu langit demi mendapatkan taufik agar ilmu tersebut menjadi berkah dan aplikatif dalam keseharian.

Beralih ke ayat 121 dan 122, Ustadz Imamul Arifin menjelaskan adanya dikotomi sikap antara orang yang beriman dan mereka yang ingkar. Ayat ini mengandung sebuah tantangan atau pernyataan tegas dari Allah kepada orang-orang kafir untuk berbuat sesuka hati sesuai dengan batasan kemampuan dan kemauan mereka. Di sisi lain, kaum muslimin juga diperintahkan untuk terus konsisten beramal saleh, di mana kedua belah pihak pada akhirnya berada dalam posisi sama-sama menunggu hasil akhir dari ketetapan-Nya.

Melangkah pada ayat terakhir, yaitu ayat 123, fokus kajian beralih pada hakikat perkara gaib (ghaibiyat) yang meliputi alam semesta. Beliau menegaskan bahwa segala sesuatu yang tidak tampak di langit dan di bumi adalah milik Allah secara mutlak, termasuk misteri tentang hari kiamat, jodoh, dan ajal seseorang. Jemaah diperingatkan dengan keras untuk tidak melampaui batas logika manusia atau profesi medis dengan mencoba memvonis kepastian umur seseorang, karena hal itu berarti merampas wewenang ketuhanan.

Sebagai solusi menghadapi ketidakpastian masa depan dan misteri hal gaib tersebut, Al-Qur’an memberikan dua kunci utama: ibadah dan tawakal (fa’budhu watawakkal ‘alaih). Manusia diwajibkan untuk memaksimalkan ikhtiar lahiriah, seperti berobat saat sakit atau bekerja keras mencari nafkah, namun wajib menyerahkan hasilnya kepada Allah. Sikap pasrah yang total setelah usaha maksimal inilah yang membedakan psikologis orang beriman dengan orang kafir, sehingga membuahkan ketenangan batin yang sejati.

Di penghujung tafsir ayat tersebut, beliau juga mengulas sisi keindahan linguistik Al-Qur’an lewat variasi bacaan atau qira’at. Perbedaan akhiran ayat antara kata ta’malun (apa yang kalian kerjakan) dan ya’malun (apa yang mereka kerjakan) dijelaskan secara ilmiah berdasarkan riwayat yang sah tanpa saling membenturkan makna. Hal ini menunjukkan betapa kayanya kandungan Al-Qur’an yang senantiasa relevan dan terjaga autentisitasnya dari masa ke masa melalui transmisi lisan para ulama.

Sebagai refleksi dan kesimpulan penutup, Ustadz Imamul Arifin memberikan pesan edukatif yang sangat penting bagi para orang tua dalam mendidik anak-anak di rumah. Beliau mengimbau agar pola asuh anak lebih banyak mengadopsi kisah-kisah nyata yang penuh keteladanan moral dari Al-Qur’an, seperti Surah Yusuf yang akan dibahas pada kajian berikutnya, ketimbang mendongengkan cerita fabel fiktif yang kurang mendidik. Dengan menanamkan rekam jejak perjuangan figur saleh sejak dini, diharapkan karakter generasi muda muslim masa depan dapat terbentuk dengan kokoh dan berakhlak mulia.

Sumber: Ngaji Ba’da Shubuh Tafsir Al-Qur’an Surah Hud Ayat 120–123″ bersama Ustadz Dr. Imamul Arifin, L.C., M.H.I. di Masjid Manarul Ilmi ITS Surabaya pada Sabtu 4 Juli 2026.

E-Buletin