Hadits Jibril dan Rahasia Rasa: Mengapa Islam Saja Belum Cukup Tanpa Ihsan?

Ustadz Muhammad Anfa'ul 'Ulum, Lc.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Dalam hiruk-pikuk kehidupan modern yang menuntut kecepatan dan pencapaian lahiriah, manusia sering kali melupakan satu poros paling krusial dalam dirinya, yaitu hati. Ketika rutinitas ibadah terjebak pada formalitas gerakan tanpa sentuhan rasa, jiwa perlahan-lahan akan mengalami kekeringan dan kehilangan arah. Berangkat dari kegelisahan spiritual tersebut, Masjid Arroyan yang berlokasi di Surabaya menggelar sebuah kajian subuh mendalam pada Minggu, 5 Juli 2026, bersama Ustadz Muhammad Anfa’ul ‘Ulum, Lc., seorang staf khidmah dari STIDKI Arrahmah Surabaya. Kajian bernilai tinggi ini secara khusus membedah mukadimah dari kitab klasik monumental karya Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah yang berjudul Madarijus Salikin.

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dikenal luas sebagai salah satu pakar kedokteran jiwa dan penyakit hati terbaik dalam sejarah Islam. Beliau merupakan murid utama dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, berada dalam satu angkatan dengan ahli tafsir kenamaan, Imam Ibnu Katsir. Jika Ibnu Katsir lebih banyak memfokuskan warisan keilmuannya pada bidang hadis, sejarah, dan riwayat tafsir, maka Ibnul Qayyim memilih jalan untuk mengupas tuntas urusan ahwalul qulub atau kondisi-kondisi hati. Kitab Madarijus Salikin sendiri secara harfiah memiliki arti “tangga-tangga para pejalan menuju Allah”, yang menjadi panduan bertahap bagi seorang hamba dalam membersihkan rintangan spiritual di dalam dirinya.

Keunikan utama dari kitab Madarijus Salikin terletak pada sumber mata air pembahasannya yang sangat fokus. Seluruh isi kitab yang menjabarkan metode penyucian jiwa ini sebenarnya merupakan hasil perasan, ulasan, dan kupasan mendalam dari satu ayat suci di dalam Surah Al-Fatihah, yaitu “Iyaka na’budu wa iyaka nasta’in” yang berarti “Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan”. Dari satu potongan ayat yang setiap hari diulang oleh umat Muslim inilah, Ibnul Qayyim berhasil merumuskan sebuah karya besar yang menjabarkan bagaimana hubungan timbal balik antara penghambaan total dan ketergantungan mutlak seorang manusia kepada Sang Pencipta.

Dalam pemaparannya, Ustadz Anfa’ul ‘Ulum menekankan bahwa urgensi menata hati atau tazkiyatun nafs diposisikan begitu tinggi di dalam Al-Qur’an. Hal ini dibuktikan melalui struktur unik dalam Surah As-Syams, di mana Allah SWT bersumpah berturut-turut demi berbagai objek ciptaan-Nya yang megah di alam semesta, mulai dari matahari, bulan, siang, malam, langit, hingga hamparan bumi. Rentetan sumpah yang panjang tersebut ternyata ditujukan untuk mengarahkan perhatian manusia pada satu muara yang paling penting, yaitu demi jiwa manusia beserta seluruh kesempurnaan potensi yang telah ditiupkan ke dalamnya.

Al-Qur’an kemudian menegaskan konsekuensi logis dari sumpah-sumpah tersebut melalui sebuah hukum kepastian yang tidak bisa diganggu gugat. Manusia yang senantiasa berupaya membersihkan hatinya dari noda-noda maksiat, egoisme, dan penyakit hati dijamin akan meraih keberuntungan serta kebahagiaan yang hakiki dalam hidupnya. Sebaliknya, kehancuran, kerugian, dan kesengsaraan yang nyata akan menjadi bagian bagi siapa saja yang memilih untuk menelantarkan jiwanya dalam kekotoran. Dari prinsip dasar inilah lahir seluruh cabang keilmuan Islam yang fokus pada dimensi pembersihan batin.

Lebih lanjut, narasumber mengaitkan urgensi penataan hati ini dengan struktur bangunan agama Islam yang tersirat dalam Hadits Jibril yang sangat masyhur. Ketika Malaikat Jibril menjelma menjadi seorang pria berbaju putih bersih dan bertanya kepada Rasulullah SAW, terdapat tiga tingkatan utama yang disebutkan, yaitu Islam, Iman, dan Ihsan. Ketiga pilar ini tidak dapat dipisahkan, namun masing-masing memiliki dimensi dan wilayah operasi yang berbeda dalam membentuk kesalehan seorang hamba secara utuh.

Dimensi pertama, yaitu Islam, berada pada wilayah lahiriah yang mencakup amalan-amalan yang dapat ditangkap oleh pancaindra dan dilihat oleh mata manusia. Ikrar dua kalimat syahadat harus diucapkan secara jelas, gerakan salat dapat disaksikan, pembayaran zakat dapat dihitung, ibadah puasa terlihat dari penahanan diri, hingga pelaksanaan haji yang melibatkan perjalanan fisik. Wilayah syariat luar ini merupakan fondasi wajib bagi setiap Muslim, namun belum menyentuh inti terdalam dari kualitas spiritual yang sesungguhnya.

Peningkatan kualitas beragama baru terjadi ketika seseorang memasuki dimensi Iman dan Ihsan, yang wilayah operasinya berada sepenuhnya di dalam hati manusia. Iman berbicara tentang keyakinan mendalam yang tidak tampak, seperti rasa diawasi oleh malaikat atau keridaan penuh atas segala ketetapan takdir Allah. Sementara itu, Ihsan merupakan puncak rasa di mana seorang hamba beribadah seakan-akan ia sedang melihat Allah, atau minimal ia menghadirkan kesadaran penuh bahwa Allah SWT sedang mengawasi setiap detik gerak-gerik batinnya.

Dalam proses perjalanan menuju Allah, manusia juga harus memahami hakikat hidayah agar tidak terjebak dalam keputusasaan atau kesombongan. Hidayah secara garis besar terbagi menjadi dua jenis, di mana yang pertama disebut sebagai Hidayah Dalalatul Irsyad. Hidayah jenis ini memiliki arti bimbingan, arahan, petunjuk, dan pengajaran ilmu, yang tugas penyampaiannya diamanahkan kepada para Nabi, Rasul, serta diteruskan oleh para alim ulama sebagai warisan keilmuan yang nyata.

Namun, ada jenis hidayah kedua yang mutlak menjadi hak prerogatif Allah SWT, yaitu Hidayah Taufik. Hidayah taufik adalah sebuah kekuatan spiritual yang mampu menggetarkan, menggerakkan, dan mengubah isi hati seseorang secara instan untuk menerima serta mengamalkan kebenaran. Pola ini terlihat jelas pada kisah paman Rasulullah SAW, Abu Thalib, yang meskipun sepanjang hidupnya menjadi benteng pertahanan dan penyokong utama dakwah Islam, tetap wafat tanpa sempat bersyahadat karena hidayah taufik sepenuhnya berada di tangan Sang Pencipta.

Agar hati manusia mampu menangkap sinyal hidayah taufik tersebut secara jernih, Al-Qur’an tidak boleh hanya diperlakukan sebagai pajangan mati di atas rak buku rumah. Umat Muslim dituntut untuk naik kelas dari sekadar membaca teks (tilawah) menuju tingkat tadabur. Konsep tadabur ini menuntut seseorang untuk merenungkan kandungan makna ayat demi ayat secara mendalam, serta memosisikan Al-Qur’an sebagai sebuah dialog aktif di mana Allah SWT sedang berbicara langsung kepada dirinya.

Kajian ini memberikan sebuah pesan penting bahwa kesehatan hati adalah kunci utama keselamatan seorang hamba. Melalui metode penyucian jiwa yang berbasis pada tadabur Al-Qur’an, seseorang akan dituntun secara bertahap untuk mengenali berbagai jenis penyakit hati, menemukan obat penawarnya, serta meraih maqam spiritual yang tinggi. Rangkaian kajian ini diharapkan dapat terus berlanjut guna membentuk pribadi-pribadi Muslim yang tidak hanya saleh secara ritual lahiriah, tetapi juga bersih dan bercahaya di dalam batinnya.

Sumber: Kajian subuh kitab Madarijus Salikin oleh Ustadz Muhammad Anfa’ul ‘Ulum, Lc. di Masjid Arroyan Surabaya pada Minggu 5 Juli 2026.

E-Buletin