Kabarmasjid.id, Surabaya – Manusia sering kali terjebak dalam kepalsuan yang mereka ciptakan sendiri, sibuk membangun citra terbaik di hadapan sesama sementara menyembunyikan realitas batin yang rapuh. Di era modern yang serba pamer ini, kejujuran terhadap diri sendiri menjadi barang langka karena ego selalu menuntut pembenaran atas setiap kesalahan. Guna membedah fenomena psikologis dan spiritual ini, Masjid Al-Hikmah Gayungsari, Surabaya, menggelar kajian subuh pada Jumat, 3 Juli 2026, bersama narasumber Ustadz Adhan Sanusi, Lc., M.Ag., yang mengupas tuntas Bab IV dari kitab 50 Kaidah Al-Qur’an Untuk Jiwa dan Kehidupan.
Dalam pemaparannya, Ustadz Adhan Sanusi mengingatkan jamaah bahwa hakikat keberadaan manusia di bumi hari ini adalah untuk menjawab rangkaian ujian kehidupan. Setiap detik yang dilewati merupakan lembar soal yang jawabannya tidak lain adalah amal perbuatan manusia sendiri. Namun, sebuah amal tidak akan dinilai benar dan mampu menjadi jawaban ujian yang valid kecuali jika amal tersebut dibangun di atas landasan ilmu yang lurus.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa dalam menempuh ujian besar kehidupan ini, Allah SWT telah menetapkan lima pengawas yang menyaksikan setiap gerak-gerik manusia. Pengawas tersebut meliputi malaikat Raqib dan Atid, tempat atau bumi yang dipijak, manusia di sekitar kita—terutama keluarga—serta Allah SWT yang Maha Menyaksikan. Di samping keempat hal itu, ada satu saksi yang sangat krusial namun sering diabaikan, yaitu diri manusia itu sendiri.
Fokus utama kajian subuh kali ini tertuju pada pengawas internal tersebut melalui tadabur Surah Al-Qiyamah ayat 14 dan 15. Ayat yang berbunyi “Balil insanu ‘ala nafsihi basirah, walau alqo ma’adzirah” ini menegaskan bahwa bahkan manusia itu menjadi saksi yang sangat jeli atas dirinya sendiri, meskipun ia terus-menerus mengemukakan berbagai alasan pembenaran. Di sinilah Al-Qur’an meletakkan kaidah fundamental tentang bagaimana seseorang seharusnya berinteraksi dengan batinnya.
Ustadz Adhan menguraikan bahwa kata bashirah memiliki makna kejelasan yang mutlak dan hujah yang sangat kuat. Artinya, jauh di lubuk batin terdalam, setiap individu sebenarnya sangat tahu apakah tindakan yang ia lakukan itu benar atau salah, serta apakah ucapan yang keluar dari mulutnya berupa fakta atau sekadar bualan. Sayangnya, manusia kerap menggunakan topeng ‘alasan’ demi menutupi cacat batin dan menjaga wibawa di depan publik.
Sebagai contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seseorang yang terlambat datang ke tempat kerja sering kali berdalih bahwa jalanan sedang macet parah. Padahal, bashirah di dalam hatinya mengetahui dengan sangat jelas bahwa penyebab utamanya adalah rasa malas atau keputusannya untuk tidur lagi setelah subuh. Ketidakjujuran-ketidakjujuran kecil seperti inilah yang jika dipelihara akan menjadi penghalang besar bagi seseorang untuk bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik.
Fenomena mencari pembenaran ini juga kerap terjadi saat manusia berinteraksi dengan aturan agama atau nas-nas syariat. Ketika ada sebuah kewajiban atau larangan Tuhan yang tidak sejalan dengan hawa nafsu, ego manusia akan bekerja keras mencari celah argumen untuk menghindar. Berbagai dalih mulai dari ‘belum siap’, ‘tuntutan pekerjaan’, hingga alasan pembelaan gender sering kali diproduksi hanya untuk menjustifikasi keengganan tunduk pada aturan Sang Pencipta.
Penyakit spiritual lain yang dibedah dalam kajian ini adalah kecenderungan manusia yang terlalu tajam dalam melihat aib orang lain, namun buta terhadap aib sendiri. Istilah populer saat ini adalah kepo, di mana seseorang menghabiskan energi untuk menguliti kesalahan tetangga atau teman, tetapi lalai memeriksa kebobrokan moralnya sendiri. Padahal, tanda utama seseorang yang tertipu oleh egonya sendiri adalah ketika ia lancar menghafal dosa orang lain namun gagap mendefinisikan kekurangan diri.
Oleh karena itu, Ustadz Adhan menekankan pentingnya bagi setiap muslim untuk melakukan taftis, yaitu memeriksa kondisi batin secara jeli dan mendalam. Jika diibaratkan sebuah negara, hati adalah presiden atau rajanya, sedangkan akal dan nafsu adalah para penasihat yang saling bertarung memperebutkan pengaruh. Ketika kita mampu mendeteksi dan memperbaiki satu saja penyakit atau keraguan kecil di dalam hati, maka kebijakan dan perilaku seluruh anggota tubuh akan ikut berubah secara masif.
Melalui pemahaman kaidah ini, manusia juga akan memiliki tameng yang kokoh dalam menyikapi penilaian eksternal, baik berupa pujian maupun cacian. Orang yang mengenal ukuran dirinya dengan baik tidak akan melambung tinggi dan menjadi sombong saat dipuji melebihi kapasitas aslinya. Sebaliknya, ia juga tidak akan hancur atau terpuruk ketika dicaci dan direndahkan, karena ia tahu persis batasan dan kadar kualitas yang ada pada dirinya di hadapan Allah SWT.
Merujuk pada kisah-kisah mulia dalam Al-Qur’an, sifat mengakui kelemahan diri tanpa dalih adalah ciri utama para nabi dan orang saleh. Mulai dari Nabi Adam yang langsung mengaku zalim setelah mendekati pohon terlarang, Nabi Nuh yang memohon perlindungan dari ketidaktahuan, hingga Nabi Yunus yang berpasrah di perut ikan dengan zikirnya, semuanya melepaskan ego kedirian mereka. Langkah pertama untuk mendapatkan rahmat dan ampunan Allah adalah dengan meletakkan kesombongan dan berani berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang yang zalim.”

Sebagai penutup, kajian subuh ini mengajak jamaah untuk bijak membedakan dua jenis kekurangan dalam hidup. Kekurangan yang bersifat takdir di luar kuasa manusia—seperti rupa fisik atau rezeki yang telah digariskan—harus disikapi dengan rida penuh. Namun, kekurangan yang berada dalam wilayah kuasa kita—seperti tumpukan dosa, akhlak yang buruk, dan tipisnya keyakinan kepada Allah—itulah yang wajib dideteksi dengan tajam menggunakan bashirah agar bisa segera diperbaiki sebelum ajal menjemput.
Sumber: Kajian subuh bersama Ustadz Adhan Sanusi, Lc., M.Ag. mengenai Kitab 50 Kaidah Al-Qur’an Untuk Jiwa dan Kehidupan (Bab IV) yang diselenggarakan di Masjid Al Hikmah Gayungsari Surabaya pada Jum’at 3 Juli 2026.