Menyelami Hakikat Eksistensi: Tiga Tujuan Utama Penciptaan Manusia Menurut Al-Qur’an

Ustadz Moksin Pattimura, M.Th.I.,
Ustadz Moksin Pattimura, M.Th.I.,

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Pernahkah kita merenung di tengah hiruk-pikuk rutinitas harian mengenai alasan mendasar mengapa kita dihidupkan di dunia ini? Sering kali manusia terjebak dalam lingkaran kerja, mengejar materi, dan pemenuhan ambisi duniawi hingga melupakan cetak biru (blueprint) awal penciptaannya. Padahal, memahami hakikat keberadaan diri merupakan kunci utama untuk meraih ketenangan batin dan arah hidup yang hakiki. Melalui pemahaman yang benar terhadap tujuan penciptaan, setiap helai napas dan aktivitas yang kita lakukan tidak akan menguap menjadi kesia-siaan, melainkan bernilai ibadah yang mulia di hadapan Sang Pencipta.

Kesadaran spiritual inilah yang dikupas tuntas dalam Kajian Subuh yang berlangsung di Masjid Al Falah Surabaya pada Senin, 29 Juni 2026. Menghadirkan narasumber Ustadz Moksin Pattimura, M.Th.I., kajian ini secara mendalam membedah tema “Tiga Tujuan Penciptaan Manusia” berdasarkan untaian ayat-ayat suci Al-Qur’an. Di hadapan para jemaah yang memenuhi ruang utama masjid selepas ibadah salat subuh, beliau mengajak umat Islam untuk kembali menata niat dan mengoreksi kualitas kehidupan spiritualnya agar selaras dengan apa yang telah digariskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tujuan pertama dan yang paling mendasar dari penciptaan manusia serta alam semesta adalah untuk mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala (Ma’rifatullah). Ustadz Moksin Pattimura menegaskan bahwa landasan utama dari poin ini termaktub secara jelas dalam Surah At-Talaq ayat 12. Dalam ayat tersebut, Allah menyatakan bahwa Dialah yang menciptakan tujuh lapis langit dan bumi yang serupa, di mana segala perintah-Nya berlaku di antara keduanya. Semua keteraturan kosmos ini sengaja dihadirkan agar manusia mengetahui, menyadari, dan meyakini dengan seyogianya bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Mengenal Allah bukan sekadar tahu nama-Nya, melainkan memahami betapa luas dan tak terbatasnya ilmu serta pengawasan-Nya atas makhluk. Dalam kajian tersebut dipaparkan bagaimana setiap detail kecil di alam semesta ini, mulai dari sehelai daun yang gugur hingga sebutir biji dalam kegelapan bumi, semuanya berada dalam takdir dan izin Allah. Bahkan, jika merujuk pada tafsir Surah Maryam ayat 84, hitungan napas manusia pun tidak luput dari pengawasan-Nya. Orang dewasa dalam sehari semalam diperkirakan menghirup napas sebanyak 17.000 hingga 30.000 kali, dan setiap embusan tersebut tercatat dengan sangat teliti di Lauhul Mahfuz.

Oleh karena itu, para ulama bersepakat bahwa mempelajari ilmu akidah dan tauhid hukumnya adalah fardu ain atau kewajiban bagi setiap individu. Tanpa pondasi ma’rifatullah yang kuat, seseorang tidak akan bisa mengenal hak-hak Allah maupun batasan-batasan yang dilarang-Nya. Pengetahuan yang mendalam tentang Allah inilah yang nantinya menjadi motor penggerak utama agar seorang hamba dapat mengikhlaskan seluruh hidupnya semata-mata demi kalimat tauhid, Lailahaillallah.

Beranjak pada tujuan yang kedua, manusia dan jin diciptakan secara khusus untuk beribadah dan menghambakan diri kepada Allah. Poin ini bersandar pada ayat yang sangat populer di telinga umat Islam, yaitu Surah Az-Zariyat ayat 56. Ustadz Moksin menjelaskan adanya beberapa sudut pandang para ahli tafsir mengenai ayat ini. Sebagian ulama, seperti Al-Kalbi dan Sofyan Tsauri, berpendapat bahwa orientasi ibadah ini secara khusus ditujukan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, yang memang memilih jalan ketundukan dibandingkan jalan maksiat.

Lebih jauh, esensi dari ibadah itu sendiri sebenarnya bermuara pada penegakan tauhid di atas muka bumi. Menariknya, Ustadz Moksin memberikan gambaran filosofis mengenai bagaimana seruan untuk menyembah Allah ini tidak pernah terputus sedetik pun di bumi. Ketika waktu subuh di Surabaya telah usai dan bergeser ke wilayah barat, maka di wilayah berikutnya akan selalu ada mengumandangkan azan dan ajakan untuk bersujud. Estafet ibadah yang berputar tanpa henti secara global ini membuktikan bahwa bumi adalah panggung besar penghambaan kepada Sang Pencipta.

Sementara itu, tujuan ketiga yang tidak kalah krusial adalah bahwa hidup ini didesain sebagai medan ujian untuk menyaring siapa yang paling baik amalnya. Hal ini ditegaskan Allah dalam Surah Hud ayat 7, yang menyebutkan bahwa penciptaan langit, bumi, dan Arsy di atas air ditujukan untuk menguji manusia: liyabluwakum ayyukum ahsanu amala. Di sinilah letak pembeda yang nyata, di mana Allah tidak melihat siapa yang paling banyak amalnya secara kuantitas mentah, melainkan siapa yang amalnya paling berkualitas.

Ustadz Moksin Pattimura menjabarkan bahwa amalan yang berkualitas (ahsanu amala) diartikan oleh para mufasir sebagai amalan yang lahir dari kesempurnaan akal untuk taat, sikap zuhud terhadap dunia, serta hati yang pandai bersyukur. Berkualitas berarti memenuhi syarat sah dan rukunnya dengan sempurna, serta dikerjakan dengan penuh keikhlasan. Karakteristik amalan inilah yang membedakan antara rutinitas ibadah yang kosong dengan ibadah yang mampu mentransformasi spiritualitas seseorang.

Sebagai uswah atau teladan terbaik dalam mengejar kualitas ibadah, kisah salat malam Rasulullah SAW turut diangkat dalam kajian ini. Berdasarkan hadis dari Hudzaifah, Rasulullah SAW pernah mendirikan salat malam dengan membaca Surah Al-Baqarah, An-Nisa, dan Ali Imran berturut-turut dalam satu rakaat saja. Durasi berdiri yang sangat lama hingga membuat kaki beliau bengkak-bengkak membuktikan betapa indahnya kualitas hubungan vertikal yang dibangun oleh Nabi kepada Allah SWT.

Kendati manusia modern saat ini mungkin tidak akan sanggup menyamai standar ibadah para nabi, Ustadz Moksin mengingatkan jemaah untuk minimal menjaga batas-batas kualitas ibadah wajib kita. Contoh sederhananya adalah menerapkan tumaninah dalam salat, yaitu diam sejenak dan benar-benar merasakan beban tubuh bertumpu saat ruku maupun sujud, bukan sekadar bergerak cepat bagai kilat. Menjaga kekhusyukan dan aturan main ibadah ini jauh lebih dicintai Allah daripada terjebak dalam formalitas fisik belaka.

Sebagai kesimpulan, hidup yang kita jalani di dunia ini bukanlah sebuah kebetulan tanpa arah, melainkan sebuah proyek besar yang memiliki tiga target utama: mengenal Allah, menyembah-Nya tanpa sekat, dan mempersembahkan karya atau amal terbaik kita. Dengan memahami tiga kompas spiritual ini, kita diharapkan mampu menjalani sisa usia dengan penuh kesadaran dan ketenangan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melimpahkan nikmat kesehatan dan keteguhan iman agar kita semua mampu menjadi hamba yang berkualitas dalam pandangan-Nya.

Sumber: Kajian Subuh bertema “Tiga Tujuan Penciptaan Manusia” yang disampaikan oleh Ustadz Moksin Pattimura, M.Th.I. di Masjid Al Falah Surabaya pada Senin 29 Juni 2026

E-Buletin