Kabarmasjid.id, Surabaya – Di tengah derasnya arus modernisasi dan pergeseran nilai sosial hari ini, tantangan terbesar bagi setiap keluarga Muslim adalah menjaga benteng moral generasi muda. Kesibukan duniawi sering kali mengaburkan prioritas utama dalam mendidik anak, padahal masa depan peradaban sangat bergantung pada nilai apa yang kita tanamkan di dalam jiwa mereka sejak dini. Kesadaran kolektif inilah yang kembali digugah dalam ibadah shalat Jum’at di Masjid Al Amin Surabaya pada 3 Juli 2026, di mana Ustadz Ma’ruf Nursalam, Lc. selaku khatib menyampaikan khutbah yang sangat menggugah hati mengenai urgensi dan strategi membentuk generasi Qurani di era kontemporer.
Dalam pemaparannya, khatib menjelaskan bahwa secara kebahasaan, kata “Qurani” dilekati oleh ya nisbah di bagian akhir, yang bermakna penggolongan atau penyandaran. Dengan demikian, generasi Qurani bukan sekadar mereka yang mampu mengeja atau menghafal bait-bait ayat suci secara lisan. Lebih dalam dari itu, generasi Qurani adalah sebuah generasi yang secara sadar menggolongkan, mengidentifikasikan, dan menyandarkan seluruh gerak-gerik, urusan, serta jalan kehidupannya pada tuntunan otentik yang terkandung di dalam Al-Qur’an.
Tanggung jawab besar untuk melahirkan generasi dengan karakter mulia ini tidak bisa dibebankan kepada lembaga pendidikan formal semata. Khatib menegaskan bahwa aktor paling dominan dan berada di garda terdepan dalam proses pembentukan ini adalah kedua orang tua. Kesadaran untuk mendekatkan diri pada Al-Qur’an harus tumbuh terlebih dahulu di dalam dada ayah dan ibu, bahkan sejak anak masih berada dalam usia dini atau sebelum mereka lahir ke dunia, agar rumah menjadi madrasah pertama yang subur akan nilai-nilai samawi.
Menjadi bagian dari generasi yang mencintai Kitabullah merupakan sebuah kemuliaan tertinggi yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW. Melalui hadits riwayat Bukhari, diingatkan kembali bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang terus-menerus belajar dan mengajarkan Al-Qur’an. Ketika orang tua dan anak berkumpul dalam sebuah majelis untuk mengkaji ayat-ayat Allah, sejatinya mereka sedang berada di taman surga (Raudhatul Jannah), di mana ketenangan diturunkan, rahmat dilimpahkan, dan para malaikat sibuk memohonkan ampunan untuk mereka.
Selain menjadi hamba terbaik, mereka yang mendedikasikan hidupnya bersama Al-Qur’an juga dijanjikan pemenuhan derajat yang tinggi di sisi Allah SWT. Al-Qur’an adalah rujukan ilmu pengetahuan yang paling tinggi kedudukannya karena kemaslahatan yang ditawarkannya mencakup urusan dunia maupun akhirat. Di tengah kerusakan moral yang kerap memicu kehancuran di muka bumi, eksistensi hamba-hamba yang konsisten mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an inilah yang menjadi salah satu sebab tetap ter jaganya berkah bumi dan langit oleh Sang Pencipta.
Setiap tetesan keringat dan waktu yang dikorbankan dalam berinteraksi dengan Kitabullah tidak akan pernah sia-sia karena ganjaran pahala yang melimpah telah menanti. Setiap huruf yang dibaca dinilai sebagai satu kebaikan, yang kemudian dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat oleh Allah SWT. Keutamaan ini menjadi motivasi spiritual yang luar biasa bagi anak-anak yang sedang tumbuh, bahwa proses belajar yang mereka lalui dari mengeja satu per satu huruf hijaiyah adalah tabungan investasi pahala yang sangat masif.
Keuntungan hakiki dari kedekatan dengan Al-Qur’an akan semakin terasa nyata saat manusia menghadapi fase terberat dalam kehidupan eskatologisnya, yaitu hari kiamat. Al-Qur’an yang dibaca, dijaga, dan diimplementasikan selama hidup di dunia akan bermutasi menjadi syafi’an atau penolong bagi para sahabatnya. Di saat setiap manusia sibuk menyelamatkan diri masing-masing, syafaat Al-Qur’an datang sebagai pelindung dan penuntun hamba menuju keselamatan batin yang abadi.
Lebih dari sekadar hafalan dan tumpukan pahala, pemahaman mendalam terhadap makna Al-Qur’an berfungsi sebagai kompas moral bagi anak. Ketika jiwa seorang muda telah disinari oleh hidayah Al-Qur’an, nurani mereka akan menjadi terang benderang dalam membedakan mana yang membawa maslahat dan mana yang mendatangkan mudarat. Dampak positifnya, mereka akan memiliki benteng internal yang kuat untuk menjauhi kemaksiatan dan dosa secara sukarela, tanpa perlu diawasi secara melekat oleh orang tua atau otoritas mana pun.
Namun, cita-cita mulia untuk mencetak generasi tangguh ini tidak akan pernah terwujud jika hanya menjadi angan-angan kosong tanpa adanya aksi nyata. Khatib mengingatkan pentingnya berjalan di atas sunatullah atau hukum sebab-akibat yang telah digariskan oleh Allah SWT, di mana hasil yang dipanen selalu berbanding lurus dengan apa yang ditanam. Merupakan sebuah kemustahilan mengharapkan anak yang saleh dan akrab dengan masjid jika orang tuanya tidak pernah mau berjuang dan berkorban meluangkan waktu untuk mendidik mereka.
Kendati demikian, ikhtiar lahiriah yang maksimal wajib dibersamai dengan kekuatan doa yang tidak pernah putus, sebab penentu mutlak dari segala keberhasilan usaha manusia adalah hak prerogatif Allah SWT. Sejarah Islam mengajarkan bahwa keterbatasan fisik, usia, maupun fasilitas keduniawian bukanlah penghalang bagi terkabulnya sebuah harapan besar. Manusia hanya berkewajiban mengerahkan seluruh potensi terbaiknya sembari menggantungkan seluruh hasil akhirnya kepada takdir dan ketetapan Ilahi.
Untuk menguatkan keyakinan para jemaah, khatib menyitir kisah inspiratif Nabi Zakaria AS yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Secara kalkulasi medis dan logika kemanusiaan, Nabi Zakaria sudah tidak mungkin memiliki keturunan karena rambutnya telah memutih, tulangnya melemah, dan sang istri divonis mandul. Namun, kekuatan doa yang dipanjatkan dengan penuh ketulusan dan tanpa rasa putus asa mampu menembus batas ketidakmungkinan tersebut, hingga akhirnya Allah menganugerahkan seorang putra saleh bernama Nabi Yahya AS.

Sebagai penutup, khatib mengajak kita semua untuk merefleksikan kembali bahwa tingkat kebahagiaan dan harapan kita dalam mendidik generasi penerus akan setingkat dengan kesempurnaan usaha dan doa yang kita rakit. Ketika ikhtiar telah maksimal dan doa telah membubung tinggi ke langit, ketenangan batin akan menyelimuti hati setiap orang tua, bahkan sebelum hasil nyata itu terlihat di depan mata. Mari jadikan momentum ini untuk berbenah, bergerak aktif menuntun jemari anak-anak kita agar senantiasa melangkah di bawah naungan hidayah Al-Qur’an demi keselamatan dunia dan akhirat.
Sumber: Khutbah Jum’at bertema “Membentuk Generasi Qurani” yang disampaikan oleh Ustadz Ma’ruf Nursalam, Lc. di Masjid Al Amin, Surabaya pada tanggal 3 Juli 2026.