Orang Tua Wajib Tahu! Ini 3 Fase Kelelahan dalam Mendidik Anak dan Cara Mengatasinya

Ustadz Muhammad Sholeh Drehem, Lc., M.Ag.,
Ustadz Muhammad Sholeh Drehem, Lc., M.Ag.,

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Pada Sabtu malam, 27 Juni 2026, Masjid Nur Syamsiah kembali menjadi pusat perhatian ratusan jemaah yang menghadiri agenda rutin Pengajian Akbar. Dalam suasana khidmat yang menyelimuti ruang utama masjid, narasumber utama, Ustadz Muhammad Sholeh Drehem, Lc., M.Ag., hadir menyampaikan untaian ilmu yang sangat krusial bagi ketahanan keluarga muslim. Kajian yang berlangsung selama lebih dari satu jam ini secara khusus membedah tema besar mengenai reposisi peran orang tua serta manajemen tantangan dalam mengasuh anak di tengah gempuran zaman modern.

Mengawali ceramahnya, Ustadz Muhammad Sholeh mengingatkan jemaah bahwa pembahasan mengenai anak merupakan kelanjutan dari rangkaian amanah keduniawian yang dibebankan Allah kepada manusia. Beliau menegaskan bahwa kehadiran seorang anak di tengah keluarga bukanlah sekadar siklus biologi atau pelengkap status sosial semata. Lebih dari itu, setiap anak yang lahir ke dunia adalah sebuah proyek kemanusiaan jangka panjang yang bernilai ibadah 24 jam penuh bagi orang tua yang ikhlas mengawalnya.

Dalam perspektif teologis, setiap anak yang berhasil tumbuh dalam rahim seorang ibu dinilai sebagai entitas yang dipilih langsung oleh Allah SWT. Dari jutaan sel yang berkompetisi saat proses pembuahan, hanya satu yang diizinkan-Nya untuk mewujud menjadi manusia baru. Kesadaran inilah yang menurut Ustadz Sholeh harus ditanamkan ke dalam sanubari setiap orang tua, agar mereka tidak sedetik pun meremehkan, menyia-nyiakan, apalagi merasa kecewa terhadap jenis kelamin maupun kondisi fisik anak yang diamanahkan kepada mereka.

Secara spesifik, kajian ini memberikan apresiasi mendalam bagi para orang tua yang dikaruniai anak perempuan. Merujuk pada hadis Rasulullah SAW, Ustadz Sholeh menjabarkan betapa dahsyatnya ganjaran bagi siapa saja yang mampu mendidik, mencukupi nafkah yang halal, serta menjaga kehormatan dua anak perempuan hingga mereka siap diantarkan ke jenjang pernikahan. Imbalan dari kesabaran ekstra tersebut tidak main-main, yakni sebuah jaminan kepastian untuk masuk surga berdekatan dengan posisi Rasulullah SAW.

Melangkah ke substansi pengasuhan, narasumber memaparkan bahwa keberhasilan sejati orang tua muslim tidak diukur dari tingginya jabatan struktural anak atau kemilau harta yang mereka kumpulkan di dunia. Indikator kesuksesan yang utama adalah ketika orang tua berhasil membangun kedisiplinan shalat di dalam diri anak. Sukses shalat di sini bermakna anak mampu mendirikannya dengan gerakan dan rukun yang benar, mengerjakannya tepat waktu, dan yang terpenting, memiliki kesadaran internal untuk shalat tanpa perlu lagi diancam atau disuruh oleh orang tuanya.

Pilar kesuksesan kedua yang wajib dikejar oleh institusi keluarga adalah kemampuan anak dalam berinteraksi dengan kitab suci Al-Qur’an. Orang tua dinilai berhasil apabila anak-anak mereka mampu membaca Al-Qur’an secara tartil sesuai kaidah tajwid yang benar. Lebih dari sekadar kemampuan teknis membaca, indikator ini menuntut adanya pembiasaan harian di mana anak meluangkan waktu secara mandiri untuk mendaras ayat-ayat suci tanpa harus menunggu perintah atau teguran dari ayah dan ibunya.

Guna mewujudkan visi besar tersebut, Ustadz Sholeh membedah panduan komprehensif dari kitab klasik Tarbiyatul Aulad fil Islam karya Dr. Abdullah Nashih Ulwan. Pilar pertama yang wajib ditegakkan adalah Tarbiyah Al-Imaniyah atau pendidikan keimanan. Fondasi akidah yang lurus dan pemahaman tauhid yang kokoh harus menjadi menu utama yang diperkenalkan sejak dini, agar anak memiliki imunitas spiritual yang kuat dan menjadikan Allah sebagai poros utama dalam setiap langkah hidupnya.

Tanggung jawab berikutnya beralih pada aspek Tarbiyah Al-Khuluqiyah (pendidikan moral) dan Tarbiyah Al-Aqliyah (pendidikan intelektual). Orang tua dituntut aktif membentuk karakter mulia seperti kejujuran, kesabaran, serta tata krama terhadap sesama manusia. Di sisi lain, ketajaman berpikir anak juga harus diasah dengan mengarahkan potensi kecerdasan mereka pada hal-hal positif, sekaligus membentengi pikiran mereka dari candu digital seperti game daring dan tontonan yang merusak sel otak.

Tidak kalah penting, aspek Tarbiyah Al-Jasadiyah (pendidikan fisik) dan Tarbiyah Al-Ijtima’iyah (pendidikan sosial) turut diulas secara mendalam. Menjaga kesehatan fisik anak melalui asupan makanan yang halal dan thayyib adalah bagian dari menunaikan amanah Allah. Sementara dalam ruang lingkup sosial, orang tua yang cerdas harus mengetahui secara detail dengan siapa anak mereka berteman, lingkungan sekolah tempat mereka tumbuh, hingga melacak rekam jejak digital dan nomor kontak lingkaran pertemanan terdekat anak.

Dua pilar terakhir dari konsep Tarbiyatul Aulad melibatkan pengelolaan aspek internal anak, yakni Tarbiyah An-Nafsiyah (pendidikan psikis) dan Tarbiyah Al-Jinsiyah (pendidikan seksualitas). Orang tua harus jeli membaca kondisi mental anak agar mereka tidak tumbuh menjadi pribadi yang minder atau menutup diri dari realitas. Di samping itu, edukasi seksualitas yang berlandaskan syariat harus diberikan secara proporsional saat anak memasuki usia pubertas, demi membentengi mereka dari bahaya penyimpangan moral modern seperti fenomena LGBT.

Menyadari bahwa jalan mendidik anak penuh dengan liku-liku, Ustadz Sholeh membagikan analogi mengenai tiga fase kelelahan yang pasti akan dilalui oleh setiap orang tua. Fase pertama adalah “capek mulut”, yang mendominasi masa kanak-kanak hingga menjelang puber, di mana orang tua harus terus-menerus cerewet mengarahkan kebaikan. Fase kedua berkembang menjadi “capek pikiran” saat anak menginjak usia remaja menuju dewasa, memaksa orang tua memikirkan masa depan, biaya pendidikan, hingga keselamatan pergaulan anak mereka.

Fase kelelahan terakhir adalah “capek perasaan”, yang umumnya dirasakan ketika anak-anak sudah menikah dan mulai hidup mandiri di luar rumah. Pada fase ini, orang tua harus pandai mengelola rasa khawatir serta menjaga keharmonisan hubungan baru bersama menantu dan besan. Mengakhiri ceramah akbarnya, Ustadz Muhammad Sholeh Drehem menekankan bahwa kunci dari segala keletihan tersebut adalah kekuatan doa. Ketika usaha maksimal telah dikerahkan, maka menghadapkan wajah dan menumpahkan segala keluh kesah hanya kepada Allah SWT adalah benteng terakhir bagi keselamatan generasi masa depan.

Sumber: Pengajian Akbar bersama Ustadz Muhammad Sholeh Drehem, Lc., M.Ag. di Masjid Nur Syamsiah pada Sabtu 27 Juni 2026.

E-Buletin