Stop Kebencian di Dunia Maya! Ini Tuntunan Hijrah Maknawi untuk Generasi Digital

KH. Mohammad Sholahuddin
KH. Mohammad Sholahuddin

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Di tengah derasnya arus modernisasi dan pergeseran pola interaksi sosial yang kian dinamis, kebutuhan manusia akan siraman rohani menjadi jangkar utama agar tidak terombang-ambing dalam kedangkalan moral. Kajian keagamaan yang diselenggarakan secara konsisten bukan sekadar menjadi ruang pemenuhan ritualistik, melainkan juga bertransformasi sebagai wadah edukasi moral yang sangat krusial bagi tatanan masyarakat kontemporer.

Sebagai wujud nyata dari upaya menjaga konsistensi iman tersebut, Masjid Raudhatul Musyawarah (Kemayoran) Surabaya kembali menggelar Kajian Rutin dan Aurad Istighotsah pada Kamis malam, 25 Juni 2026, yang dipimpin langsung oleh KH. Mohammad Sholahuddin selaku narasumber utama dan disiarkan secara langsung melalui kanal resmi masjid guna menjangkau umat yang lebih luas. Melalui momentum yang penuh kekhusyukan ini, beliau mengajak seluruh jemaah untuk sejenak menepi dari hiruk-pikuk duniawi, mengisinya dengan iktikaf, serta meluruskan kembali orientasi hidup semata-mata demi merengkuh rida dan rahmat Allah SWT.

Dalam tausiyah pembukanya, KH. Mohammad Sholahuddin secara mendalam mengupas esensi dari hijrah spiritual yang harus dimaknai di luar batas sekat fisik atau sekadar perpindahan tempat tinggal geografis. Merujuk pada sabda Rasulullah SAW mengenai batasan esensial seorang muhajir, beliau menegaskan bahwa inti dari sebuah perpindahan hakiki adalah komitmen kuat untuk meninggalkan segala bentuk kemaksiatan menuju jalan ketaatan yang paripurna. Sisa umur yang dianugerahkan oleh Sang Pencipta sudah sepatutnya dipandang sebagai modal utama yang sangat berharga untuk segera kembali ke jalan-Nya sebelum kesempatan itu tertutup rapat.

Secara lebih spesifik, penceramah memberikan tuntunan praktis mengenai langkah-langkah peningkatan kualitas ibadah sehari-hari yang harus dilakukan secara bertahap namun konsisten. Bagi mereka yang belum tertib mendirikan salat wajib, langkah awal yang paling krusial adalah memperbaikinya secara menyeluruh, yang kemudian bagi yang sudah tertib dapat ditingkatkan dengan menambahkan salat sunah rawatib, baik qobliah maupun ba’diah. Tidak berhenti di situ, jemaah juga didorong untuk menghidupkan malam-malam mereka dengan salat tahajud, memperbanyak istigfar, serta menggaungkan selawat sebagai wujud kerinduan mendalam kepada baginda Nabi Muhammad SAW.

Konteks hijrah ini kemudian ditarik oleh KH. Mohammad Sholahuddin ke dalam dinamika kehidupan masyarakat modern di era digital yang penuh dengan tantangan moral tersendiri. Beliau menyoroti bagaimana kebiasaan individu dalam berinteraksi melalui gawai acap kali menjebak mereka dalam kelalaian yang berkepanjangan tanpa disadari. Hijrah secara maknawi di zaman sekarang mengharuskan setiap Muslim untuk berani merombak kebiasaan buruk dalam ruang siber dan menggantinya dengan aktivitas yang membawa kemaslahatan nyata bagi sesama.

Salah satu poin paling tajam yang ditekankan dalam kajian tersebut adalah fenomena penyebaran berita bohong atau hoaks yang kian merajalela dan tak terkendali di berbagai platform media sosial. KH. Mohammad Sholahuddin menyerukan dengan tegas agar umat Islam segera berhijrah dari kebiasaan buruk menyebarkan hoaks atau konten kebencian menuju kebiasaan baru yang memproduksi kemanfaatan. Media sosial harus diubah fungsinya menjadi panggung untuk menebarkan kedamaian, ilmu yang bermanfaat, serta pesan-pesan kesejukan yang mampu merajut kembali tali persaudaraan.

Lebih lanjut, beliau juga mengingatkan jemaah untuk melakukan manajemen waktu yang bijaksana, terutama dalam membatasi penggunaan telepon genggam yang sering kali menyita sebagian besar waktu produktif manusia sehari-hari. Sang kiai mengajak para jemaah untuk berani mengurangi durasi menatap layar gawai demi mengalokasikan waktu tersebut untuk membaca, mentadaburi, serta mengamalkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Dengan cara demikian, teknologi tidak lagi menjadi berhala modern yang menjauhkan hamba dari penciptanya, melainkan bertransformasi menjadi sarana penunjang spiritualitas.

Esensi ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin) juga menjadi landasan utama yang digaungkan dalam majelis ilmu malam itu. Menurut KH. Mohammad Sholahuddin, implementasi nyata dari konsep rahmatan lil ‘alamin di era sekarang tidak boleh hanya berhenti pada tatanan retorika semata, melainkan wajib diwujudkan melalui aksi sosial yang nyata. Membantu anak-anak yatim, menyantuni kaum dhuafa, dan memberikan solusi atas kesulitan sesama manusia merupakan cerminan dari wajah Islam yang penuh kasih dan bebas dari narasi kebencian.

Memasuki inti dari kegiatan keagamaan malam itu, suasana di dalam Masjid Kemayoran Surabaya berangsur-angsur menjadi kian khusyuk saat pembacaan tawasul fatihah mulai digaungkan oleh pemimpin majelis. Doa dan fatihah tersebut secara khusus dihadiahkan kepada para nabi terdahulu, malaikat-malaikat muqorrobin, para sahabat khulafaur rasyidin, ulama-ulama salaf, wali songo, hingga para masyaikh pendiri organisasi Nahdlatul Ulama. Rangkaian tawasul ini menjadi jembatan spiritual yang menghubungkan jemaah masa kini dengan sanad keilmuan dan perjuangan para kekasih Allah terdahulu.

Setelah prosesi tawasul selesai, lantunan suci Surah Yasin berkumandang dengan syahdu, meresap ke dalam sanubari setiap jemaah yang hadir maupun yang menyimak lewat layar digital. Pembacaan surah yang agung ini menjadi pembuka gerbang bagi pembacaan aurad istighotsah, yang dipenuhi dengan kalimat-kalimat tayyibah, asmaul husna, serta permohonan ampunan yang mendalam. Untaian zikir seperti Ya Qadim, Ya Samari’, Ya Bashir, Ya Hafizh, Ya Nashir dilantunkan secara berulang-ulang, menciptakan atmosfer spiritual yang sangat kuat dan menenteramkan jiwa.

Melalui pembacaan wirid dan zikir istighotsah yang intens tersebut, jemaah secara bersama-sama mengetuk pintu langit, memohon pertolongan Allah atas segala problematika kehidupan yang kian kompleks. Doa-doa khusus dipanjatkan agar mereka yang sedang didera kesulitan ekonomi dilapangkan rezekinya, yang sedang menghadapi ujian konflik atau masalah diberikan jalan keluar terbaik, serta yang sedang menderita sakit segera diangkat penyakitnya. Penguatan spiritualitas kolektif ini memberikan secercah harapan dan keteguhan mental bagi umat dalam menghadapi ketidakpastian zaman.

Kajian rutin yang penuh keberkahan ini akhirnya dipungkasi dengan pembacaan doa penutup yang komprehensif, mencakup permohonan keselamatan universal lahir dan batin. Di samping mendoakan kebaikan untuk diri sendiri, keluarga, serta keturunan agar menjadi generasi yang saleh dan salihah, majelis ini juga memanjatkan doa khusus demi keselamatan, persatuan, dan kedamaian seluruh bangsa serta tanah air Indonesia. Dengan berakhirnya doa tersebut, jemaah pulang membawa komitmen baru untuk mengimplementasikan nilai-nilai hijrah digital dalam kehidupan sehari-hari demi terwujudnya masyarakat yang harmonis.

Sumber: Kajian Rutin dan Aurad Istighotsah bersama KH. Mohammad Sholahuddin yang diselenggarakan di Masjid Raudhatul Musyawarah (Kemayoran) Surabaya pada Kamis 25 Juni 2026.

E-Buletin