Kabarmasjid.id, Surabaya – Kehidupan modern sering kali menjebak manusia dalam labirin pencapaian materi, pangkat, dan status sosial yang semu. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang menuntut validasi duniawi, manusia kerap lupa akan hakikat sejati keberadaannya di muka bumi ini. Momentum pergantian waktu dan kehadiran bulan-bulan suci dalam Islam sejatinya hadir sebagai alarm spiritual untuk mengetuk kembali kesadaran kita yang mulai tertidur. Melalui momen transisi spiritual yang penuh berkah, umat Muslim diajak untuk merenungkan kembali orientasi hidup serta arah langkah yang selama ini telah ditempuh.
Tepat pada pelaksanaan Sholat Jum’at yang berlangsung khidmat di Masjid Ash-Shoobiriin pada tanggal 26 Juni 2026, Ustadz Drs. H. Najib Suhail, M.Pd hadir menyampaikan pesan-pesan mendalam dalam khotbahnya. Beliau mengajak seluruh jemaah yang hadir maupun pemirsa yang menyaksikan siaran langsung untuk merefleksikan kembali esensi kehidupan. Di mimbar yang mulia tersebut, sang khatib menyampaikan khotbah bertajuk “Menguatkan Status Kehambaan dalam Semangat Hijrah” sebagai panduan moral di tengah dinamika zaman.
Dalam bagian awal khotbahnya, Ustadz Najib Suhail menekankan pentingnya merawat rasa syukur atas segala bentuk nikmat dan karunia yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT. Apapun wujud nikmat yang diterima, baik berupa kesehatan, kesempatan, maupun kelapangan, sudah sepatutnya dijadikan sarana utama untuk selalu mengingat dan mendekatkan diri kepada-Nya. Dengan selalu mengondisikan hati dalam keadaan berzikir dan berikhtiar di jalan yang mulia, maka naungan rida, hidayah, magfirah, serta rahmat Allah akan senantiasa menyertai setiap langkah hidup manusia dalam situasi bagaimanapun.
Lebih lanjut, khatib mengingatkan jamaah mengenai sebuah karunia besar berupa kesempatan hidup untuk bertemu kembali dengan bulan Muharram. Sebagai salah satu dari empat bulan yang disucikan dan dimuliakan oleh Allah (asyhurul hurum), Muharram memegang posisi yang sangat agung dalam kalender Islam. Keberadaan bulan ini membawa konsekuensi spiritual yang besar, di mana umat Islam dilarang keras untuk melakukan berbagai macam aktivitas kemaksiatan dan kezaliman, serta diwajibkan untuk lebih menjaga kesucian diri dan lingkungan sekitar.
Momentum bulan Muharram ini tidak boleh dilewati begitu saja hanya sebagai pergantian tahun tanpa makna yang membekas. Ustadz Najib Suhail menegaskan bahwa bulan suci ini harus dijadikan sebagai titik tolak untuk melakukan hijrah yang sesungguhnya. Hijrah di sini bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan sebuah transformasi total untuk meninggalkan segala bentuk aktivitas kemaksiatan, sikap mental yang destruktif, dan perilaku tidak patut, menuju amalan-amalan saleh yang dicintai serta diridai oleh Allah SWT.
Melalui semangat hijrah tersebut, ladang utama yang harus dibangun, dikawal, dan dikuatkan kembali adalah status kehambaan kita di hadapan Sang Pencipta. Manusia sering kali mengalami amnesia spiritual terhadap kontrak awal penciptaannya ketika mulai disibukkan oleh urusan dunia. Khatib kemudian menyitir ayat Al-Qur’an dalam Surat Az-Zariyat ayat 56 untuk mempertegas landasan teologis ini, bahwa tidaklah Allah menciptakan golongan jin dan manusia melainkan semata-mata hanya untuk beribadah dan mengabdi kepada-Nya.
Berdasarkan hakikat penciptaan tersebut, sudah sepatutnya setiap manusia memandang dunia ini bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai ladang investasi amal. Kehidupan dunia sejatinya memiliki sifat yang fana, tidak abadi, dan akan berujung pada kebinasaan. Ustadz Najib Suhail mengingatkan bahwa segala hal yang sering dibanggakan manusia semasa hidup, mulai dari pangkat, jabatan, kekayaan, kegagahan, ketampanan, hingga kekuatan fisik, seluruhnya akan hancur dan sirna pada saat yang telah ditentukan.
Hal yang sangat mendalam dari pesan khotbah tersebut adalah penegasan bahwa tuntutan awal dan akhir dari Allah SWT kepada manusia tertuju pada status kehambaan mereka. Ketika kelak manusia mati dan kembali menghadap Sang Khalik, Allah tidak akan menagih atau mempertanyakan status duniawi, pencapaian karier, ataupun tingginya strata sosial seseorang. Pertanyaan dan tagihan utama yang akan dihadapi oleh setiap individu adalah sejauh mana tingkat ketundukan, kepatuhan, dan pembuktian diri mereka sebagai seorang hamba.
Menyambung refleksi tersebut, khatib mengulas pesan mendalam yang terkandung di dalam Surat Al-Fajr mengenai panggilan terhadap jiwa yang tenang (an-nafsul muthma’innah). Hakikatnya, jiwa manusia diciptakan dalam keadaan tenang karena sejatinya manusia merupakan makhluk yang diproyeksikan sebagai penghuni surga. Namun, dinamika kehidupan di muka bumi, keterbatasan fisik, serta godaan nafsu sering kali membuat manusia menjadi tempatnya salah, lupa, suka mengeluh, dan tergelincir ke dalam perbuatan maksiat.
Oleh karena itu, pintu kepulangan menuju Allah SWT hanya dapat dimasuki dengan satu cara, yaitu dengan memperkuat, menjaga, dan mengawal identitas diri sebagai Abdullah atau hamba Allah. Hanya dengan memposisikan diri secara total sebagai hamba yang taat, maka seorang manusia akan mendapatkan rida dan keikhlasan dari Rabb-nya. Melalui pengakuan status kehambaan yang tulus itulah, Allah SWT akan mengucurkan rahmat-Nya, mengampuni segala dosa, dan memasukkan jiwa tersebut ke dalam surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan.
Kesadaran untuk mengawal status kehambaan ini harus segera ditumbuhkan selagi manusia masih dianugerahi ingatan, kesehatan, dan kesadaran oleh Allah SWT. Kita tidak pernah tahu kapan garis akhir kehidupan kita akan tiba, sebab kematian sering kali datang menyapa tanpa memberikan tanda atau sebab yang jelas. Banyak fenomena di sekitar kita di mana seseorang yang tampak sehat bugar tiba-tiba dipanggil oleh-Nya tanpa harus melalui proses sakit, usia tua, kecelakaan, ataupun terjadinya peperangan.

Khotbah Sholat Jum’at di Masjid Ash-Shoobiriin ini kemudian diakhiri dengan doa yang dipanjatkan secara khusyuk oleh khatib dan diaminkan oleh seluruh jamaah. Dalam baris-baris doanya, Ustadz Najib Suhail memohon agar kita semua senantiasa dianugerahi akhir hidup yang baik (husnul khatimah). Beliau juga menyelipkan doa khusus memohon keselamatan, perlindungan, dan kemenangan bagi umat Muslim yang tengah menghadapi ujian berat di berbagai belahan bumi, khususnya bagi saudara-saudara Muslim yang berada di Palestina.
Sumber: Khutbah Sholat Jum’at bertajuk “Menguatkan Status Kehambaan dalam Semangat Hijrah” yang disampaikan oleh Ustadz Drs. H. Najib Suhail, M.Pd di Masjid Ash-Shoobiriin pada Jum’sy 26 Juni 2026