Merenungi Hakikat Kehidupan dan Pedihnya Pembalasan Melalui Surah Al-Mursalat

Ustadz Nabil Bachmid, S.Pd.I
Ustadz Nabil Bachmid, S.Pd.I

Bagikan postingan :

Kabarmajid.id, Surabaya – Kesibukan dunia sering kali membuat manusia terlena dan melupakan hakikat keberadaannya di muka bumi. Banyak yang terjebak dalam rutinitas harian hingga mengabaikan peringatan-peringatan spiritual yang sejatinya menjadi kompas kehidupan. Guna mengembalikan kesadaran spiritual tersebut, Masjid Al-Hilal Surabaya menggelar kajian rutin yang mendalam. Pada hari Rabu, 17 Juni 2026, Ustadz Nabil Bachmid, S.Pd.I hadir sebagai narasumber untuk mengupas tuntas Tafsir Qur’an Surah Al-Mursalat, dimulai dari ayat 15 hingga akhir surah.

Dalam pemaparannya, Ustadz Nabil mengawali dengan membahas kalimat yang menjadi benang merah dalam Surah Al-Mursalat, yaitu “Wailu yaumaidzil lil mukadzibin”. Kalimat yang diulang sebanyak sepuluh kali dalam surah ini membawa pesan peringatan yang sangat kuat. Berdasarkan penafsiran para ulama, kata wailun dapat merujuk pada sebuah lembah kotor di dalam neraka Jahanam yang menampung sisa kotoran para penghuninya, atau diartikan sebagai kecelakaan dan kebinasaan mutlak bagi mereka yang mendustakan hari kebangkitan.

Lebih lanjut, kajian ini mengajak jemaah untuk mengambil pelajaran berharga dari sejarah umat-umat terdahulu. Melalui ayat “Alam nuhlikil awwalin”, Allah mengingatkan kaum kafir Quraisy tentang nasib tragis kaum Nuh, Ad, Tsamud, hingga Firaun yang dibinasakan. Ust. Nabil menekankan bahwa kehancuran tersebut sama sekali bukan karena Allah berbuat zalim, melainkan akibat dari kezaliman dan dosa kesyirikan yang dilakukan oleh manusia itu sendiri.

Kendati demikian, kasih sayang Allah tetap membentang luas, khususnya bagi umat Nabi Muhammad SAW. Ustadz Nabil menjelaskan bahwa umat akhir zaman ini diberikan keistimewaan luar biasa dalam hal pertobatan. Berbeda dengan umat terdahulu yang harus menempuh syarat sangat berat, umat Nabi Muhammad cukup bersungguh-sungguh mengucapkan istigfar untuk mendapatkan ampunan. Selama sebuah kaum mau beristigfar dan mengakui dosanya, Allah menjamin tidak akan menurunkan azab kepada mereka.

Pesan mendalam lain yang disampaikan dalam kajian ini adalah mengenai fase penciptaan manusia. Allah mengingatkan manusia bahwa mereka diciptakan dari air mani yang hina hingga akhirnya dibentuk menjadi makhluk yang paling sempurna. Peringatan fisik ini sengaja dihadirkan agar manusia tidak berlaku durhaka dan sombong kepada Sang Pencipta yang telah menyempurnakan rupa dan fisik mereka.

Secara khusus, Ustadz Nabil memberikan sorotan penting pada fase usia 40 tahun dalam kehidupan manusia. Usia ini disebut sebagai puncak kekuatan fisik sekaligus momentum krusial untuk berbalik arah mendekatkan diri kepada Allah. Ketika memasuki usia ini, seorang hamba dianjurkan untuk memperbanyak doa syukur, bertobat, serta fokus memikirkan kesalehan diri dan keturunan, sebab setelah melewati angka tersebut, tubuh akan mulai mengalami penurunan fungsi secara bertahap.

Ketika masa tua tiba, kekuatan fisik manusia akan dikurangi seperti kulit yang melorot dan rambut yang memutih. Namun, Ust. Nabil menyampaikan kabar gembira bahwa iman dan amal saleh adalah pengecualian yang akan terus mengalirkan pahala tak terputus. Bagi mereka yang terbiasa memakmurkan masjid dan beramal saleh di masa mudanya, pahala ibadah tersebut akan tetap dicatat secara utuh oleh Allah meskipun di masa tua mereka sudah sakit-sakitan dan tidak mampu lagi melaksanakannya.

Kajian ini juga mengupas tanda kebesaran Allah melalui struktur geologis bumi, khususnya penciptaan gunung. Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an, gunung diciptakan sebagai pasak (autad) untuk menstabilkan bumi tempat manusia hidup dan mati. Secara ilmiah, bagian gunung yang menghunjam ke dalam perut bumi (2/3 bagian) jauh lebih dalam daripada bagian yang tampak di permukaan (1/3 bagian), berfungsi seperti paku yang menahan tenda dari guncangan angin.

Bagi mereka yang tetap bersikeras mendustakan kebenaran, kajian ini mengingatkan tentang pedihnya penyesalan di hari pembalasan nanti. Mereka yang dahulu memperolok-olok keberadaan neraka akan digiring untuk melihat azab tersebut dengan mata kepala sendiri. Mereka akan mencari naungan dari panasnya hari itu, namun yang mereka dapati hanyalah asap hitam pekat bercabang tiga yang justru terasa jauh lebih membakar.

Selain asap yang menyesakkan, percikan api neraka digambarkan memiliki ukuran yang sangat fantastis, yakni sebesar istana. Pada hari keputusan tersebut, semua manusia dari generasi pertama hingga terakhir akan dikumpulkan menjadi satu. Segala bentuk tipu daya, makar, maupun argumen pembelaan diri yang biasa digunakan di dunia tidak akan lagi diizinkan atau diterima oleh Allah SWT.

Sebaliknya, pemandangan yang sangat kontras akan dinikmati oleh orang-orang yang bertakwa. Ust. Nabil menjelaskan bahwa menjadi orang bertakwa membawa kebahagiaan sejati baik di dunia maupun di akhirat. Di dalam surga, mereka akan bersenang-senang menikmati naungan pepohonan yang teduh, dikelilingi mata air yang jernih, serta disajikan berbagai macam buah-buahan yang mereka sukai sebagai balasan atas keikhlasan amal mereka selama di dunia.

Sebagai penutup kajian Surah Al-Mursalat, Ustadz Nabil menyampaikan pesan retoris yang kuat dari akhir surah. Jika terhadap Al-Qur’an yang begitu jelas dan sempurna saja manusia tidak mau beriman, maka ajaran atau kitab mana lagi yang bisa mereka percayai? Kajian ini diakhiri dengan doa bersama agar seluruh jemaah yang hadir senantiasa dibimbing menjadi hamba-hamba yang bertakwa dan istikamah di jalan Allah SWT.

Sumber: Kajian “Tafsir Qur’an Surah Al Mursalat” yang disampaikan oleh Ustadz Nabil Bachmid, S.Pd.I di Masjid Al-Hilal Surabaya, pada Rabu 17 Juni 2026.

E-Buletin