Kabarmasjid.id, Surabaya – Kehidupan manusia modern sering kali didera oleh berbagai kecemasan, mulai dari urusan finansial, masa depan karier, hingga problematika keluarga yang datang silih berganti. Di tengah dunia yang bergerak begitu cepat dan penuh dengan ketidakpastian, manusia kerap terjebak dalam labirin kegalauan yang melelahkan jiwa. Salah satu kunci utama untuk memecahkan belenggu kecemasan tersebut adalah dengan memahami kembali hakikat keimanan kita terhadap salah satu rukun iman, yaitu takdir Allah SWT. Melalui pemahaman fikih takdir yang benar, seorang hamba tidak hanya akan menemukan jawaban atas penderitaannya, tetapi juga akan meraih mata air ketenangan sejati yang tidak akan pernah kering oleh terpaan ujian zaman.
Untuk mengupas tuntas rahasia spiritual tersebut, Masjid Nurul Iman yang terletak di Komplek Margorejo Indah, Surabaya, menyelenggarakan Kajian Dhuha spesial pada Sabtu pagi, 13 Juni 2026. Acara yang dihadiri oleh ratusan jemaah ini menghadirkan narasumber Ustadz Hanan Yasir, Lc., M.A., yang mengusung tema sangat menyentuh hati, yakni “Merasa Tenang dengan Takdir Allah Subhanahu Wa Taala”. Dalam ceramahnya yang sejuk namun sarat akan ilmu, beliau mengajak jemaah yang hadir di Kota Pahlawan tersebut untuk menata kembali sudut pandang dan sikap batin mereka ketika berinteraksi dengan segala ketetapan Illahi, baik yang berwujud manis maupun yang terasa pahit.
Di awal pemaparannya, Ustadz Hanan Yasir menekankan bahwa membahas takdir hakikatnya bukanlah perkara yang mudah karena kita sedang membicarakan sirullah—rahasia terdalam milik Allah SWT. Beliau mengingatkan bahwa lembaran takdir atas segala sesuatu telah dituliskan secara paten oleh pena (Qalam) atas perintah Allah di Lauh Mahfuzh, tepat 50.000 tahun sebelum penciptaan langit, bumi, dan alam semesta. Oleh karena itu, apa pun yang telah ditetapkan untuk menjadi rezeki, jodoh, atau garis hidup kita tidak akan pernah meleset sedikit pun ataupun tertukar dengan milik orang lain. Keyakinan awal inilah yang menjadi fondasi utama bagi runtuhnya dinding kecemasan di dalam dada seorang mukmin.
Lebih dalam, beliau menguraikan bahwa bangunan takdir itu sendiri berdiri di atas empat tingkatan aspek utama (Maratibul Qadar) yang wajib diimani secara utuh. Aspek pertama adalah Al-Ilmu, yaitu kesadaran bahwa ilmu Allah meliputi segala hal dan Dia mengetahui apa yang terbaik bagi hambanya melampaui batas pengetahuan manusia. Aspek kedua adalah Al-Kitabah, yang menegaskan bahwa seluruh perjalanan alam semesta dari awal hingga kehancurannya telah tercatat dengan sangat mendetail. Sementara itu, aspek ketiga dan keempat adalah Al-Masyiah (kehendak Allah yang mutlak di atas kehendak manusia) serta Al-Khalq (penciptaan atau eksekusi takdir), di mana Allah mewujudkan segala sesuatu dengan begitu mudah melalui kalimat Kun Fayakun.
Ustadz Hanan Yasir juga menjelaskan bahwa buah dari keimanan yang sempurna terhadap empat tingkatan takdir ini akan mendatangkan garansi ketenangan jiwa yang luar biasa dari Allah SWT. Ketika seseorang meyakini bahwa segala alur hidupnya berada di tangan Zat Yang Maha Pengasih, rasa sedih yang dialaminya saat tertimpa musibah tidak akan pernah berlangsung lama atau membuatnya frustrasi. Sebaliknya, saat ia meraih kesuksesan besar, keimanan pada takdir akan membentengi hatinya dari sifat ujub (bangga diri) dan kesombongan, karena ia sadar bahwa keberhasilan itu murni merupakan karunia dan pertolongan dari Allah, bukan semata-mata karena kecerdasan atau kekuatannya sendiri.
Namun, realitasnya di lapangan sering kali menunjukkan betapa sulitnya manusia untuk mempraktikkan ilmu rida terhadap takdir ini. Ustaz Hanan Yasir memetakan ada empat tingkatan kasta spiritual manusia ketika mereka merespons ketetapan Allah, mulai dari yang terendah hingga yang tertinggi. Tingkatan paling rendah dan berbahaya adalah marah atau menggerutu, di mana seseorang mencela keadaan, berprasangka buruk (su’udzon) kepada Allah, bahkan berputus asa dari rahmat-Nya—sebuah sikap yang justru mendatangkan dosa baru. Tingkatan kedua adalah sabar, yaitu kemampuan untuk mengendalikan diri (al-habsu) agar lisan tidak mengucap hal keliru dan anggota tubuh tidak melakukan perbuatan yang dilarang saat menghadapi kepahitan hidup.
Di atas maqam sabar, terdapat tingkatan ketiga yang disebut dengan rida, yaitu kondisi hati yang menerima keputusan Allah secara totalitas dengan perasaan lapang dada dan penuh kedamaian. Sementara itu, puncak tertinggi dari penataan jiwa ini adalah syukur, sebuah kemandirian spiritual di mana seorang hamba justru mampu berterima kasih dan melihat sejuta hikmah serta kebaikan di balik ujian seberat apa pun. Ustaz Hanan Yasir menegaskan bahwa barang siapa yang rida terhadap ketetapan Allah, maka Allah pun akan melimpahkan keridaan-Nya kepada orang tersebut; namun barang siapa yang murka, maka ia hanya akan mendapatkan kemurkaan Illahi.
Dalam sesi diskusi yang interaktif, seorang jemaah yang berprofesi sebagai dokter mengajukan pertanyaan kritis mengenai bagaimana menyeimbangkan sikap menerima takdir (easy going) dengan semangat untuk terus belajar menjadi yang terbaik tanpa jatuh pada kepasrahan yang keliru. Menjawab hal tersebut, Ustaz Hanan Yasir menekankan bahwa rida pada takdir sama sekali tidak bertentangan dengan ikhtiar yang maksimal. Islam sangat mencintai hamba yang bekerja, berkarya, dan belajar dengan kualitas terbaik (itqan). Menurut beliau, tugas manusia adalah mengupayakan proses terbaik demi kemaslahatan umat, sedangkan takdir adalah wilayah hasil yang harus diserahkan sepenuhnya kepada Allah SWT.
Lebih lanjut, beliau meluruskan persepsi keliru di masyarakat yang sering kali menganggap bahwa setiap ujian atau musibah yang datang selalu identik dengan akibat dari dosa-dosa masa lalu. Ustaz Hanan Yasir menjabarkan bahwa dalam fikih musibah, ujian memiliki empat fungsi yang berbeda dalam hidup manusia. Selain untuk menghapus dosa bagi tingkatan spiritual bawah, ujian juga berfungsi sebagai penyaring kejujuran iman seseorang, sarana untuk menguatkan otot ketahanan spiritual, serta instrumen untuk mengangkat derajat seorang hamba ke level surga yang lebih tinggi, yang tidak bisa dicapai hanya dengan amalan ibadah standarnya.
Beliau kemudian mengajak jemaah untuk mengambil saripati pelajaran dari kisah para nabi dalam Al-Qur’an, yang sejatinya adalah manusia yang paling dicintai Allah tetapi mendapatkan porsi ujian paling berat. Tengoklah bagaimana Nabi Ayub AS yang kehilangan harta, keluarga, dan menderita sakit parah selama bertahun-tahun, namun tetap mengadukan kesulitannya dengan untaian kalimat yang sangat santun kepada Allah. Ustaz Hanan Yasir membedakan anatomi keluhan menjadi dua: keluhan tercela yang bermakna menggugat takdir di hadapan makhluk, serta keluhan terpuji seperti yang dicontohkan para nabi, yaitu mengakui kelemahan diri dan menumpahkan segala duka hanya di hadapan Zat Yang Maha Kuat.

Di akhir kajiannya, Ustadz Hanan Yasir mengingatkan bahwa musuh utama dari ketenangan jiwa dalam menerima takdir adalah adanya penyakit-penyakit yang bersarang di dalam hati. Penyakit tersebut di antaranya adalah sifat hasad (iri hati) atas nikmat orang lain, kebiasaan berprasangka buruk kepada Allah, serta penyakit al-wahan—yaitu rasa cinta yang berlebihan terhadap dunia (hubbud dunya) dan ketakutan yang luar biasa terhadap kematian (karahiyatul maut). Selama penyakit-penyakit kronis ini tidak dibersihkan dari dalam dada, maka manusia akan selalu didera oleh rasa cemas, ketidakpuasan, dan kegelisahan yang tiada habisnya.
Sumber: Kajian Dhuha bersama Ustadz Hanan Yasir, Lc., M.A. dengan tema “Merasa Tenang dengan Takdir Allah Subhanahu Wa Taala” Masjid Nurul Iman Komplek Margorejo Indah Surabaya pada Sabtu, 13 Juni 2026.