Bukan Sekadar Bagi-Bagi Daging, Idul Adha adalah Momentum ‘Menyembelih’ Ego dan Ketamakan Manusia

Ustadz Drs. H. Marfa'i Shobar
Ustadz Drs. H. Marfa'i Shobar

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Hari Raya Idul Adha selalu meninggalkan kesan mendalam bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia. Ibadah penyembelihan hewan kurban yang menjadi ritual tahunan bukan sekadar kegiatan seremonial membagikan daging kepada sesama, melainkan sebuah momentum transendental untuk mereformasi spiritualitas dan kepekaan sosial seorang hamba. Melalui ritual suci ini, setiap muslim diajak untuk merenungkan kembali hakikat penghambaan yang sejati di tengah tantangan zaman modern yang kian kompleks. Tepat pada ibadah Jumat pasca-Idul Adha yang berlangsung di Masjid Al-Falah Surabaya pada 12 Juni 2026, Ustadz Drs. H. Marfa’i Shobar selaku khatib menyampaikan pesan-pesan filosofis mengenai dampak spiritual yang seharusnya membekas pada diri manusia setelah merayakan hari besar tersebut,,.

Dalam penyampaiannya, khatib menekankan bahwa Idul Adha adalah madrasah ruhani yang akan melahirkan corak kepribadian baru bagi mereka yang benar-benar menghayati setiap prosesinya. Merujuk pada petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW, setidaknya ada tiga klasifikasi hamba pilihan yang diharapkan muncul dan menghiasi tatanan kehidupan bermasyarakat setelah darah kurban dialirkan. Ketiga golongan ini menjadi indikator utama apakah ibadah kurban yang telah dilaksanakan diterima di sisi Allah SWT atau hanya menjadi ritual kosmetik tanpa makna,.

Golongan pertama yang lahir dari rahim Idul Adha adalah Al-Muttaqin, yaitu hamba-hamba Allah yang bertakwa. Kurban menjadi pembuktian mutlak atas ketundukan seorang manusia kepada penciptanya tanpa dicampuri oleh tendensi duniawi. Seseorang yang berkurban dengan landasan takwa tidak akan terjebak pada formalitas ritual, melainkan fokus pada pembersihan niat agar ibadahnya murni demi menggapai rida ilahi, bukan untuk tujuan-tujuan pragmatis yang mengotori kesucian ibadah.

Khatib menguatkan argumen ini dengan mengutip Surat Al-Hajj ayat 37 yang menegaskan bahwa Allah SWT sama sekali tidak melihat aspek fisik dari hewan yang dikurbankan. Bukan tetesan darah atau timbangan daging mahal yang sampai kepada Allah, melainkan nilai ketakwaan dan keikhlasan yang bersemayam di dalam dada sang hamba,. Oleh karena itu, kurban yang sah secara syariat dan bernilai di mata Allah adalah kurban yang berhasil mengikis ego kepemilikan dan menumbuhkan kesadaran bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah milik Allah semata.

Ketundukan spiritual yang tanpa batas ini tercermin secara sempurna melalui potret keluarga Nabi Ibrahim AS saat menerima perintah menyembelih putra tunggalnya, Ismail. Ketika perintah mahaberat itu datang, Nabi Ibrahim dengan keteguhan hati memilih untuk mengutamakan urusan Allah di atas segala kepentingan pribadinya, sebuah sikap yang kemudian diaminkan oleh keikhlasan Siti Hajar dan kesabaran luar biasa dari Ismail muda,,. Kisah epik ini menjadi standar tertinggi dari keikhlasan, di mana cinta kepada Sang Pencipta mampu mengalahkan cinta terbesar seorang manusia terhadap buah hatinya sendiri.

Golongan kedua yang diharapkan muncul ke permukaan adalah Al-Muhibbina lil Fuqara’ wal Masakin, yakni individu-individu yang menaruh cinta dan kepedulian mendalam kepada kaum fakir dan miskin. Secara syariat, orang yang berkurban memang diperbolehkan mengambil maksimal sepertiga dari bagian daging kurban miliknya. Namun, realitas sosial menunjukkan bahwa mayoritas umat muslim memilih untuk mendistribusikan hampir seluruh bagian daging tersebut kepada mereka yang berhak dan membutuhkan.

Tindakan memberikan makanan yang lezat, bergizi, dan berkualitas kepada sesama merupakan implementasi nyata dari kesempurnaan iman seorang muslim,. Berbagi kebahagiaan melalui sepiring daging kurban menjadi jembatan sosial yang meruntuhkan sekat-sekat pembatas antara kelompok yang berkecukupan dan kelompok yang kekurangan,. Gerakan kultural yang masif ini secara otomatis menstimulasi lahirnya masyarakat yang peka, responsif, dan tidak abai terhadap penderitaan yang dialami oleh lingkungan sekitarnya.

Untuk menggambarkan betapa mulianya kedudukan orang-orang yang gemar memberi makan, khatib menyampaikan sebuah potongan hadis qudsi yang sangat menyentuh hati. Di akhirat kelak, akan terjadi dialog langsung di mana Allah SWT mempertanyakan mengapa hamba-Nya enggan memberi-Nya makan dan minum saat Dia mengalami kelaparan dan kehausan di dunia,,. Tentu saja hal ini memicu kebingungan sang hamba, karena mustahil bagi Tuhan Semesta Alam untuk membutuhkan makanan maupun minuman,.

Melalui hadis tersebut, Allah SWT memberikan jawaban retoris bahwa esensi dari “kelaparan dan kehausan” itu termanifestasi pada sosok manusia lain (si fulan) yang membutuhkan bantuan di dunia,. Ketika seorang muslim mengulurkan tangan untuk mengenyangkan perut saudaranya yang kelaparan, maka pada saat itulah rahmat, anugerah, dan kasih sayang Allah hadir di sisi orang-orang yang menolong tersebut,. Pesan mendalam ini menjadi tamparan keras sekaligus motivasi bagi umat Islam agar senantiasa menghidupkan tradisi filantropi Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya, golongan ketiga yang tidak kalah krusial untuk dilahirkan pasca-Idul Adha adalah Al-Mutabarri’ina minad-Damil Hayawani. Golongan ini merujuk pada manusia-manusia yang berhasil membebaskan diri mereka dari kontaminasi sifat-sifat buruk kebinatangan. Secara simbolis, umat muslim memang dianjurkan untuk menyaksikan secara langsung prosesi penyembelihan dan mengalirnya darah hewan kurban mereka. Penyaksian ini membawa pesan filosofis bahwa bersamaan dengan mengalirnya darah hewan tersebut, sifat-sifat destruktif yang melekat pada diri manusia juga harus ikut disembelih dan disingkirkan,.

Khatib memberikan peringatan yang sangat tajam bahwa jika darah dan sifat kebinatangan tetap dibiarkan mendominasi hati manusia, maka manusia tersebut dapat bertindak jauh lebih buas dan serakah daripada binatang,. Binatang sebuas harimau tidak akan pernah memangsa anaknya sendiri, tetapi manusia yang kehilangan kendali moral sering kali tega menghabisi darah dagingnya,. Begitu pula dalam hal ketamakan; binatang hanya makan secukupnya untuk bertahan hidup, sedangkan manusia yang dikuasai sifat rakus mampu mengeksploitasi apa saja—bahkan mengabaikan hukum dan keadilan—demi memuaskan syahwat dunianya,.

Mengakhiri refleksi khutbahnya, khatib mengajak seluruh jamaah untuk merenungkan Surat Al-A’raf ayat 179 yang berisi peringatan keras mengenai ancaman neraka jahanam bagi manusia yang memiliki hati, mata, dan telinga namun enggan digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah,. Manusia yang lalai dari peringatan ini disamakan posisinya seperti binatang ternak, bahkan jauh lebih sesat,. Melalui tiga hikmah besar kurban ini, diharapkan umat Islam mampu mentransformasikan diri menjadi pribadi yang bertakwa, penuh kasih kepada sesama, serta bersih dari noda-noda kebinatangan demi terciptanya tatanan bangsa yang harmonis dan beradab,.

Sumber: Khutbah Jumat Ustadz Drs. H. Marfa’i Shobar berjudul “Golongan Manusia Setelah Idul Adha” pada Minggu, 12 Juni 2026.

E-Buletin