Kabarmasjid.id, Surabaya – Kalimat “sehidup semati” sering kali diucapkan oleh sepasang kekasih atau suami istri sebagai bentuk janji suci dan ungkapan cinta yang mendalam. Namun, bagi seorang muslim, komitmen cinta tidak boleh berhenti hanya sampai liang lahat, karena kehidupan yang sesungguhnya justru baru dimulai setelah kematian. Impian tertinggi dalam sebuah pernikahan adalah bagaimana romansa dunia itu bisa berlanjut menjadi ikatan abadi yang selamat bersama di akhirat. Harapan mulia inilah yang dikupas tuntas oleh Ustadz Ahmad Ubaidillah, Lc. dalam kajian subuh bertajuk “Hidup Semati Sesurga” yang diselenggarakan pada Minggu, 7 Juni 2026, bertempat di Masjid Al-Amin, sebuah masjid bersejarah di tengah perkampungan yang teduh.
Pada awal penyampaiannya, Ustadz Ubaidillah menegaskan bahwa konsep You Only Live Once (YOLO) yang populer di kalangan generasi muda adalah sebuah kekeliruan jika diartikan hidup hanya sekali lalu selesai. Manusia pada hakikatnya hidup dua kali, di mana kehidupan kedua di akhirat bersifat kekal dan menjadi penentu nasib yang sesungguhnya. Melalui kajian ini, beliau menempatkan diri sebagai “juru bicara” yang menjembatani unek-unek antara suami dan istri. Tujuannya tidak lain adalah agar sepasang pelatuk rumah tangga ini tidak terpisah di akhirat, jangan sampai yang satu berbahagia di surga, sementara yang lain tersesat di jurang neraka.
Kaidah pertama yang diangkat dalam ceramah tersebut adalah kenyataan indah bahwa derajat seseorang di surga bisa terangkat berkat kesalehan anggota keluarganya. Berdasarkan petunjuk Al-Qur’an Surah At-Tur ayat 21, Allah Swt. berjanji akan menggandangkan dan mempertemukan keturunan orang-orang beriman di dalam surga. Menukil tafsir sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma, Ustadz Ahmad menjelaskan bahwa Allah akan mengangkat derajat anggota keluarga yang level amalannya di bawah, agar bisa berkumpul dengan keluarganya yang berada di tingkatan surga lebih tinggi. Istimewanya, pengangkatan derajat ini sama sekali tidak mengurangi pahala atau hak dari orang yang membantu mengangkatnya.
Namun, fasilitas “jalur khusus” untuk berkumpul bersama keluarga di surga ini tidak terjadi secara otomatis tanpa usaha. Kaidah kedua menetapkan syarat mutlak yang harus dipenuhi, yaitu setiap anggota keluarga harus memiliki modal kesalehan pribadi. Mengacu pada Surah Ghafir ayat 8 dan Surah Ar-Ra’d ayat 23, Al-Qur’an menggunakan klausul waman shalaha, yang berarti siapa saja yang saleh dari kalangan orang tua, pasangan, hingga anak cucu mereka. Tanpa adanya kesalehan dan keimanan yang minimal, seseorang tidak akan bisa ikut terseret naik ke derajat surga yang tinggi, meskipun memiliki ikatan darah dengan seorang ahli ibadah.
Lebih lanjut, kaidah ketiga menjelaskan bahwa makna pengumpulan keluarga di surga terbagi menjadi dua jenis sifat pertemuan. Jenis yang pertama bersifat sementara, di mana sesama penghuni surga saling mengunjungi, duduk di dipan-dipan yang nyaman, serta menikmati hidangan sambil bernostalgia tentang kehidupan dunia. Sementara jenis pertemuan yang kedua bersifat selamanya atau permanen, di mana derajat mereka benar-benar disetarakan untuk mendiami tingkatan surga yang sama. Hal ini dilakukan Allah semata-mata untuk memuaskan kenikmatan batin para penghuni surga yang tidak akan merasa lengkap bahagianya tanpa kehadiran orang-orang tercinta di sisi mereka.
Kaidah keempat menyentuh hati para orang tua, khususnya bagi mereka yang pernah mengalami ujian berat kehilangan buah hati. Anak-anak kecil yang meninggal dunia sebelum mencapai usia balig dijanjikan akan menjadi penyelamat dan memberi syafaat bagi orang tuanya di hari kiamat. Berdasarkan hadis sahih, anak-anak tersebut akan berlari menyambut orang tua mereka di depan delapan pintu surga dan menolak untuk masuk terlebih dahulu sebelum ayah dan ibunya digandeng bersama. Kesabaran menghadapi kematian anak di dunia dipandang sebagai perisai dan pelindung yang sangat kokoh dari jilatan api neraka.
Selain syafaat dari anak yang wafat mendahului, kaidah kelima menunjukkan betapa besarnya investasi memiliki anak-anak yang saleh selama hidup di dunia. Seseorang bisa saja terheran-heran ketika dibangkitkan di akhirat karena mendapati dirinya ditempatkan di maqam atau tingkatan surga yang sangat tinggi, sejajar dengan para ulama besar. Ketika ia bertanya dari mana amalan tersebut berasal, malaikat akan menjawab bahwa derajat tinggi itu diperoleh berkat istigfar dan doa tiada putus yang dipanjatkan oleh anak-anaknya. Terlebih jika orang tua berhasil mendidik anaknya menjadi penghafal Al-Qur’an, maka di akhirat kelak orang tua tersebut akan dipakaikan mahkota dan pakaian kehormatan yang nilainya tidak dapat ditebus dengan seluruh kekayaan dunia.
Kaidah keenam yang tidak kalah penting mengulas tentang status seorang wanita yang pernah menikah lebih dari sekali di dunia, misalnya karena suaminya wafat lalu ia menikah lagi. Berdasarkan hadis riwayat at-Tabarani dan asar para sahabat seperti Hudzaifah ibnul Yaman, wanita tersebut akan menjadi milik suaminya yang terakhir di surga, asalkan sang suami juga termasuk penduduk surga. Hal inilah yang mendasari mengapa istri-istri Nabi Muhammad Saw. dilarang untuk menikah lagi setelah beliau wafat, agar mereka dapat kembali berkumpul bersama Rasulullah di surga tertinggi kelak. Oleh karena itu, tanggung jawab terbesar untuk memulai kebaikan dan membimbing keluarga menuju kesalehan berada di pundak suami sebagai pemimpin.
Di tengah pemaparan yang menjanjikan kebahagiaan, Ustadz Ubaidillah memberikan tamparan emosional dengan mengungkap sisi lain akhirat yang penuh kepedihan bagi keluarga yang gagal menjaga batasan Allah. Merujuk pada Surah ‘Abasa, beliau mengingatkan bahwa hari kiamat bisa menjadi momen yang sangat mengerikan di mana seseorang justru lari tunggang langgeng ketika melihat saudaranya, ibunya, ayahnya, istrinya, dan anak-anaknya. Ketakutan ini muncul bukan karena lupa, melainkan karena mereka takut dituntut atas segala kezaliman, kecurangan, dan hak-hak yang belum sempat dituntaskan selama hidup bersama di dunia.
Kondisi saling menuntut ini diperparah ketika di dunia sebuah pasangan atau keluarga membangun hubungan di atas dasar maksiat, sekadar mencari popularitas atau kepuasan duniawi tanpa landasan takwa. Di akhirat, rasa cinta itu akan berbalik menjadi permusuhan yang sengit di mana mereka saling menyalahkan dan menimpakan dosa satu sama lain. Bahkan yang lebih tragis, sebagaimana digambarkan dalam Surah Al-Ma’arij, seorang pendosa akan berangan-angan bisa menebus dirinya dari siksa api neraka dengan mengorbankan anak kandungnya, istrinya, saudaranya, hingga seluruh manusia di bumi, asalkan dirinya sendiri bisa selamat.
Di akhirat kelak, seluruh transaksi tidak lagi menggunakan lembaran uang, rupiah, maupun dinar, melainkan menggunakan mata uang pahala dan dosa. Seseorang yang bangkrut di akhirat adalah mereka yang datang membawa segunung pahala shalat dan puasa, namun pahala tersebut habis dibagikan kepada anggota keluarga atau orang lain yang pernah ia zalimi, ia maki, atau ia curangi. Oleh karena itu, Ustadz Ahmad menekankan pentingnya bagi setiap kepala keluarga untuk menyelesaikan segala urusan, meminta maaf, dan saling rida di dunia ini sebelum masa pengadilan terbesar itu tiba.

Sebagai penutup kajian yang sarat makna tersebut, Ustadz Ubaidillah memberikan sebuah kunci emas filosofis yang mengikat seluruh kaidah keluarga sesurga ini. Hubungan antara Allah, suami, dan istri diibaratkan seperti sebuah segitiga beraturan. Semakin dekat hubungan suami dan istri kepada Allah, maka secara otomatis jarak di antara suami dan istri akan semakin mendekat, melahirkan sakinah, mawaddah, dan warahmah. Sebaliknya, retaknya hubungan rumah tangga sering kali menjadi cerminan dari adanya keretakan hubungan antara hamba dengan Sang Pencipta; maka perbaikilah hubungan dengan Allah, niscaya Allah akan memperbaiki hubungan kita dengan keluarga menuju keabadian di surga-Nya.
Sumber: Kajian subuh Ustadz Ahmad Ubaidillah, Lc. berjudul “Hidup Semati Sesurga” pada Minggu, 7 Juni 2026 di Masjid Al-Amin Surabaya