Jangan Sampai Terjadi! Ini 5 Kebiasaan Penduduk yang Bisa Mengundang Azab pada Sebuah Negeri

Ustadz Abu Aslam, Lc.
Ustadz Abu Aslam, Lc.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Sebuah pesan spiritual dan sosial yang mendalam mengalun dari mimbar Masjid Al-Irsyad Surabaya, Jawa Timur, dalam ibadah salat Jumat khidmat yang dihadiri ratusan jemaah pada 5 Juni 2026. Ustadz Abu Aslam, Lc. dipercaya bertindak sebagai khatib untuk menuntun jalannya khutbah. Melalui pembahasan bertajuk “Hancurnya Sebuah Negeri”, beliau memaparkan refleksi kritis mengenai berbagai tindakan manusia dan kemerosotan moral yang secara teologis dapat memicu keruntuhan tatanan serta mendatangkan kebinasaan bagi suatu bangsa.

Mengawali khutbahnya, Ustadz Abu Aslam mengajak jemaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan dan mensyukuri limpahan nikmat, terutama karena saat ini berada di bulan mulia, yaitu bulan dzulhijah. Merujuk pada hadis riwayat Abu Dawud dari sahabat Abi Bakrah RA, khatib menjelaskan bahwa terdapat dua bulan hari raya yang pahalanya tidak akan pernah berkurang di sisi Allah, yakni bulan Ramadan dan bulan dzulhijah. Momentum berada di bulan suci ini seyogianya dimanfaatkan oleh setiap muslim untuk mengoptimalkan amalan kebaikan demi mengetuk pintu rahmat-Nya.

Memasuki inti bahasan, khatib menyitir firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Hud ayat 117. Ayat tersebut menegaskan sebuah ketetapan ilahi bahwa Tuhan tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim atau sewenang-wenang, selama penduduk negeri tersebut adalah orang-orang yang berbuat kebaikan atau melakukan perbaikan (muslihun). Melalui dasar ayat ini, Ustadz Abu Aslam menegaskan bahwa turunnya murka atau azab Allah pada suatu bangsa secara merata bukanlah tanpa alasan, melainkan dipicu oleh perilaku manusia itu sendiri.

Faktor pertama yang menjadi penyebab hancurnya suatu negeri adalah ketika seluruh elemen penduduknya, mulai dari kalangan atas hingga rakyat jelata, terjebak dalam perilaku kufur nikmat. Karunia sumber daya alam yang melimpah, rasa aman, dan kesejahteraan yang seharusnya melahirkan rasa syukur justru diingkari. Ketika sebuah bangsa mulai menganggap remeh pemberian Tuhan dan menggunakannya untuk hal-hal yang dilarang, maka bersiaplah menunggu giliran datangnya siksaan-Nya.

Sebab kedua yang tidak kalah krusial adalah penolakan penduduk negeri terhadap ajaran Rasulullah SAW. Fenomena ini terjadi ketika masyarakat mulai berani mencaci maki ajaran nabi, mendustakan sunah-sunah beliau, bahkan menjadikan syariat Islam sebagai bahan cibiran serta olok-olokan di ruang publik. Untuk memperkuat dalil poin pertama dan kedua ini, khatib membacakan Surah An-Nahl ayat 112–113 yang menggambarkan sebuah negeri yang dahulunya aman, tenteram, dan makmur, namun berubah menjadi kelaparan dan ketakutan karena mengingkari nikmat Allah dan mendustakan rasul-Nya.

Melangkah pada faktor ketiga, Ustadz Abu Aslam menyoroti maraknya praktik kesyirikan yang dibiarkan tumbuh subur di tengah masyarakat. Merujuk pada Surah Al-Kahfi ayat 59, kebinasaan suatu kaum erat kaitannya dengan kezaliman yang mereka perbuat, di mana para ulama menafsirkan kata “zalim” di ayat tersebut sebagai dosa syirik. Khatib menyayangkan realitas sosial saat ini di mana praktik pesugihan, perdukunan, hingga ritual salah kaprah seperti ngalap berkah ke kuburan orang saleh sebagai perantara doa masih banyak ditemui.

Sebab keempat yang menjadi pemicu kehancuran sistemik adalah kezaliman para pemimpin dan pembesar negeri. Hancurnya moralitas para elite politik yang kerap melahirkan kebijakan yang membuat rakyat terlunta-lunta, serta adanya jurang pemisah yang lebar akibat kesombongan harta orang-orang kaya menjadi bom waktu bagi sebuah bangsa. Berdasarkan Surah Al-Isra ayat 16, jika Allah hendak membinasakan suatu negeri, Dia memerintahkan orang-orang yang hidup mewah di sana untuk taat, namun jika mereka mendurhakai-Nya, maka berlakulah ketetapan azab yang menghancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.

Adapun poin kelima atau penyebab terakhir yang disampaikan dalam khutbah pertama adalah hilangnya rasa takut, di mana penduduk negeri merasa sangat aman dari azab Allah. Masyarakat menganggap bahwa bencana atau siksaan tuhan adalah hal yang jauh dan mustahil menimpa mereka, sehingga mereka tetap asyik bermain-main dalam kemaksiatan. Mengutip Surah Al-A’raf ayat 97–99, khatib memperingatkan bahwa azab seringkali datang secara tidak terduga, baik di malam hari saat manusia tertidur lelap maupun di siang hari sewaktu manusia sedang lalai.

Menutup khutbah pertamanya, Ustadz Abu Aslam menyampaikan sebuah peringatan yang menggetarkan hati dari Surah Al-Anfal ayat 25. Ayat tersebut mengingatkan agar umat manusia takut terhadap datangnya musibah atau fitnah yang dampak buruknya tidak hanya mengena kepada orang-orang yang berbuat zalim saja. Ketika murka Allah telah jatuh akibat kemaksiatan yang merajalela, maka orang-orang saleh yang taat di atas sunah pun akan ikut merasakan penderitaan dan dampak dari bencana tersebut.

Pada sesi khutbah kedua, jemaah diajak untuk merenungi lembaran sejarah masa lalu melalui kisah kaum Nabi Yunus AS yang diabadikan dalam Surah Yunus ayat 98. Kisah ini dipaparkan sebagai sebuah contoh nyata dan solusi konkret bagaimana sebuah bangsa bisa terhindar dari ancaman kehancuran total. Kaum Nabi Yunus yang tinggal di wilayah Irak Utara tersebut awalnya menolak dakwah tauhid, hingga akhirnya sang nabi pergi meninggalkan mereka sembari memberikan ancaman datangnya azab.

Beruntung, begitu melihat tanda-tanda perubahan alam dan menyadari azab akan segera turun, seluruh penduduk negeri tersebut langsung beriman dan memohon ampunan kolektif. Khatib menceritakan bahwa mereka bertobat dengan sungguh-sungguh kepada Allah selama 40 malam berturut-turut. Berkat pertobatan massal dan ketulusan hati tersebut, Allah SWT berkenan mengangkat kembali azab yang menghinakan itu dari kehidupan dunia mereka dan menganugerahkan kesenangan hidup hingga waktu yang ditentukan.

Sebagai penutup, Ustadz Abu Aslam menegaskan sudah saatnya seluruh komponen bangsa, dari jajaran pemimpin tertinggi hingga masyarakat bawah, bersatu mengetuk pintu tobat, meninggalkan kesyirikan, serta menjauhi maksiat demi mewujudkan negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Ibadah Jumat hari itu pun diakhiri secara khidmat dengan doa bersama memohon keselamatan bangsa dan kehadiran pemimpin yang adil serta takut kepada Allah SWT.

Sumber: Khutbah Jum’at bertajuk “Hancurnya Sebuah Negeri” yang disampaikan oleh Ustadz Abu Aslam, Lc. di Masjid Al-Irsyad Surabaya pada tanggal 5 Juni 2026.

E-Buletin