Pengorbanan di Jalan Allah: Benteng Utama Menghapus Pengkhianatan Iman

Ustadz Muhammad Khalid Abri
Ustadz Muhammad Khalid Abri

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Di tengah dinamisnya kehidupan modern yang sering kali mengaburkan batas antara ketulusan dan kepalsuan, umat Islam dituntut untuk merefleksikan kembali makna loyalitas yang sesungguhnya kepada Sang Pencipta. Sering kali, gemerlap harta dan jabatan membuat seseorang melupakan hakikat penghambaan, bahkan terjebak dalam lingkaran kemunafikan yang merusak tatanan spiritual. Untuk mengurai fenomena sosial dan keagamaan ini, sebuah kajian mendalam digelar secara khusyuk oleh umat Islam setempat. Kajian tafsir yang mengangkat tema “Pengorbanan adalah Penghapus Pengkhianatan” ini disampaikan oleh narasumber Ustadz. Muhammad Khalid Abri pada hari Jumat, 29 Mei 2026, bertempat di Masjid Syafi’i, Surabaya.

Dalam pemaparannya, Ustadz Khalid mengawali kajian dengan membedah Surat At-Taubah ayat 16. Beliau menegaskan bahwa Allah SWT tidak akan membiarkan seorang hamba begitu saja mengaku beriman tanpa melalui ujian nyata. Ujian tersebut hadir untuk melihat sejauh mana pembuktian jihad dan pengorbanan yang dilakukan oleh umat Islam dalam menegakkan nilai-nilai kebenaran di kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa pengorbanan adalah bentuk realitas konkret dari sebuah loyalitas, yang sekaligus menjadi bukti otentik atas rasa cinta seorang makhluk kepada Khaliq-nya. Manusia yang memiliki kesadaran spiritual tinggi akan selalu menyadari bahwa segala kemuliaan, nikmat kesehatan, dan kelaparan rezeki yang ia rasakan merupakan anugerah besar dari Allah SWT. Oleh karena itu, sudah sepatutnya segala nikmat tersebut dibalas dengan loyalitas penuh, bukan justru dengan berpaling dari perintah-Nya.

Ustadz Khalid juga meluruskan persepsi masyarakat mengenai makna jihad di era kontemporer. Jihad tidak melulu diartikan sebagai pertempuran fisik di medan perang, melainkan mencakup segala bentuk perjuangan untuk memperbaiki kualitas umat. Membangun sarana ibadah, mendidik generasi muda agar memahami tujuan hidup, serta mendorong peningkatan mutu pendidikan Islam di lembaga-lembaga formal maupun pesantren adalah wujud jihad yang sangat dibutuhkan saat ini.

Namun, tantangan terbesar iman di era modern adalah munculnya fenomena walijah, atau tindakan mencari perlindungan dan bersandar kepada pihak-pihak yang memusuhi nilai-nilai Islam. Pengkhianatan iman ini kerap terjadi ketika seseorang rela menggadaikan prinsip agamanya demi mengejar keuntungan materi, jabatan, atau pengakuan sosial. Sifat pragmatis ini membuat seseorang tampak luar sebagai muslim, namun secara internal justru mendukung sistem yang merusak moralitas umat.

Fenomena pengkhianatan terselubung ini kian diperparah dengan maraknya upaya membungkus kemaksiatan menggunakan simbol-simbol keagamaan. Beliau memberikan analogi kritis mengenai bagaimana orang-orang di masa lalu maupun masa kini mencoba membasuh dosa materi mereka dengan cara yang keliru. Membangun masjid atau mendanai kegiatan sosial keagamaan menggunakan uang hasil kejahatan, korupsi, atau bisnis haram, tidak akan pernah bisa menghapus esensi kemaksiatan tersebut di mata Allah SWT.

Kritik tajam ini sejalan dengan tafsir Surat At-Taubah ayat 17, yang menegaskan bahwa orang-orang musyrik tidak pantas memakmurkan masjid-masjid Allah sementara mereka sendiri bersaksi atas kekafiran mereka. Sejarah mencatat bagaimana kaum Quraisy dahulu membanggakan peran mereka dalam merawat Ka’bah dan memberi minum para jamaah haji, namun di sisi lain mereka menolak tauhid dan meletakkan berhala di sekitarnya. Allah SWT secara tegas menyatakan bahwa segala bentuk amal kebajikan yang lahir tanpa pondasi keimanan yang lurus akan berujung sia-sia.

Ustadz Khalid juga menyoroti aspek psikologis dari hilangnya keimanan sejati, yakni hilangnya rasa aman yang hakiki. Orang-orang yang mendasarkan hidupnya pada kekafiran dan kemaksiatan cenderung selalu diliputi kecemasan serta ketakutan akan kehilangan dunia mereka. Walaupun mereka memiliki perlindungan fisik yang ketat atau kekuatan finansial yang melimpah, hati mereka tidak akan pernah merasakan kedamaian dan kemuliaan yang sebenarnya.

Sebaliknya, merujuk pada Surat At-Taubah ayat 18, beliau menguraikan kriteria utama dari orang-orang yang berhak dan mampu memakmurkan masjid Allah yang sebenarnya. Mereka adalah individu yang tidak hanya sekadar beriman kepada Allah dan hari akhir, serta mendirikan shalat dan menunaikan zakat, tetapi juga memiliki ketakutan yang mutlak hanya kepada Allah SWT (walam yaksya illallah).

Ketiadaan rasa takut kepada selain Allah inilah yang menjadi benteng utama seorang muslim dari godaan untuk berkhianat. Ketika seseorang tidak lagi takut menjadi miskin, tidak takut kehilangan jabatan struktural, dan tidak gentar menghadapi hinaan manusia demi membela kebenaran, maka ia telah mencapai derajat kemerdekaan spiritual yang sejati. Karakter tangguh inilah yang diharapkan lahir dari rahim masjid-masjid yang hidup dengan kajian ilmu.

Pada bagian akhir kajiannya, Ustadz Khalid mengajak seluruh jamaah untuk merefleksikan kembali pesan kuat dari Surat At-Taubah ayat 20. Allah SWT menjanjikan derajat yang jauh lebih tinggi dan mulia bagi hamba-hamba-Nya yang bersedia beriman, berhijrah meninggalkan keburukan, serta berjihad menggunakan harta dan jiwa mereka di jalan-Nya. Kelompok inilah yang disebut oleh Al-Qur’an sebagai al-faizun, yaitu orang-orang yang memenangkan keberuntungan sejati baik di dunia maupun di akhirat.

Ustadz Khalid kembali mengingatkan agar tidak terjebak dalam formalitas ibadah semata, melainkan harus berani mengambil konsekuensi logis dari keimanan berupa pengorbanan. Hanya dengan kerelaan untuk berkorban demi kemaslahatan umat dan keteguhan menjaga loyalitas kepada Allah, segala noda pengkhianatan iman di masa lalu dapat terkikis habis, membawa masyarakat menuju kehidupan yang penuh berkah dan bermartabat.

Sumber: Kajian tafsir Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 16–24 oleh Ustadz Muhammad Khalid Abri pada Jum’at, 29 Mei 2029 di Masjid Syafi’i Surabaya

E-Buletin